Rilis Kedutaan Iran untuk Indonesia: Serangan AS-Israel Tewaskan Lebih 200 Anak SD

IMG-20260303-WA0203

LINGKARMEDIA.COM – Korban tewas rakyat sipil di Iran akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel mencapai 555 orang, demikian rilis yang dikeluarkan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi per Senin (2/3/2026).

Boroujerdi mengatakan mayoritas korban tewas adalah anak-anak dan wanita. Dia mengungkapkan hampir separuh korban tewas adalah siswa  sekolah dasar (SD).

“Dalam penyerangan ini sampai dengan hari ini lebih dari 555 masyarakat sipil menjadi korban di mana sebagian dari mereka berasal dari kaum anak-anak dan wanita.”

“Kurang lebih dari 200 anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar meninggal dunia dan berbagai golongan masyarakat non militer atau sipil yang sedang merayakan dan menjalankan ibadah puasa jadi korban,” katanya dalam konferensi pers di Kedubes Iran untuk Indonesia di Jakarta.

Dirinya menegaskan serangan yang dilakukan AS dan Zionis menjadi wujud kedua negara tersebut tidak menghormati masyarakat Iran yang tengah menjalankan ibadah Ramadan

Dia juga mengungkapkan serangan ke Iran menjadi bukti bahwa AS tidak patuh akan negosiasi yang tengah dijailin terkait kepemilikan nuklir.

“Lagi-lagi pada saat kami sedang berada di meja perundingan, mereka melakukan penyerangan terhadap Iran. Hal ini bisa disaksikan atau disampaikan juga Menlu dari Oman, seorang mediator, yang tidak berpihak kepada manapun yang telah ber-statement bahwa negosiasi telah sampai pada ‘titik yang menerangkan,” tegasnya.

Dikatakannya, agresi militer yang dilakukan AS dan Israel merupakan pelanggaran Piagam PBB.

Ia mengungkapkan Iran kini juga memiliki hak untuk mempertahankan negaranya dengan membalas serangan ke basis militer AS yang berada di negara-negara Timur Tengah (Timteng).

“Berdasarkan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, Iran memiliki hak untuk bela diri dan kami telah menggunakan hak tersebut, melakukan serangan di basis militer Amerika Serikat di mana serangan itu berasal”.

“Amerika Serikat memiliki basis militer di berbagai negara tetangga dimana kami memiliki hubungan baik dengan negara tetangga kami tetapi basis militer yang berasal dari suatu negara tertentu merupakan wilayah negara tertentu,” ujarnya.

Pihaknya menyayangkan bahwa pangkalan militer yang berada di negara tetangga Iran disalahgunakan oleh AS untuk melakukan penyerangan.

Di sisi lain, dia mengecam pernyataan Israel yang menyebut bahwa serangan balasan yang dilakukan Iran sebagai wujud ‘kekerasan’ terhadap negara lain.

Padahal, sambungnya, Israel telah melakukan genosida di Gaza dan mengakibatkan puluhan ribu warga sipil tewas.

“Dan sebuah ironi di mana negara kami yang tidak menyerang pihak manapun, memulai invasi, oleh mereka dicap sebagai pihak yang berorientasi kepada peperangan,” tegasnya.

Iran Ogah Negosiasi dengan AS

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larajani, menegaskan pihaknya enggan untuk bernegosiasi dengan AS pasca serangan pada Sabtu (28/2/2026).

Adapun pengumuman ini disampaikannya setelah adanya pemberitaan dari Al Jazeera yang mengutip Wall Street Journal dengan menyebut, dirinya akan melakukan negosiasi dengan AS dan dimediatori oleh negara Oman.

“Kita tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat,” katanya dikutip dari akun X pribadinya, Senin (2/3/2026).

Sosok yang digadang menjadi pengganti Khamenei itu menyatakan Presiden AS, Donald Trump telah menjerumuskan negara di kawasan Timur Tengah dengan seluruh ‘fantasinya yang tidak realistis’.

Ia juga khawatir serangan AS bersama sekutunya, Israel pada Sabtu lalu bakal mengakibatkan jatuhnya korban jiwa tentara AS semakin banyak.

“Dengan tindakan-tindakan yang tidak realistis, ia mengubah slogan ‘America First’ yang ia ciptakan menjadi ‘Israel First’ dan mengorbankan tentara Amerika demi ambisi kekuasaan Israel yang rakus dan dengan kebohongan baru, sekali lagi, ia membebankan biaya pembunuhan karakternya sendiri pada tentara dan keluarga Amerika,” tegasnya.

Larijani menegaskan segala serangan yang dilakukan Iran saat ini dalam upaya mempertahankan diri setelah dibombardir oleh AS dan Israel.

“Hari ini, bangsa Iran sedang mempertahankan diri. Angkatan bersenjata Iran tidak memulai agresi,” tuturnya.

Trump: Perang di Iran Bisa Berlangsung 5 Pekan

Sementara, Trump mengungkapkan pasca serangan pada Sabtu lalu akan memperpanjang perang dengan Iran ‘antara empat sampai lima pekan’.

Dia juga menegaskan bahwa AS dan Israel tidak bakal sulit untuk mempertahankan intensitas perang meski dirinya juga memperingatkan kemungkinan jatuhnya korban jiwa di pihak negaranya.

“Ya kami bermaksud (menyerang Iran) empat hingga lima pekan. Itu tidak akan sulit,” katanya ketika diwawancarai via sambungan telepon oleh New York Times.

Dengan jumawa, Presiden Amerika ini sesumbar bahwa negaranya memiliki cadangan amunisi dan senjata tempur terbesar di dunia dan berada di berbagai negara.

“Kami memiliki amunisi dalam jumlah besar. Anda tahu, kami memiliki amunisi yang disimpan di seluruh dunia di berbagai negara,” tegasnya.

Adapun pengumuman ini disampaikannya setelah adanya pemberitaan dari Al Jazeera yang mengutip Wall Street Journal dengan menyebut, dirinya akan melakukan negosiasi dengan AS dan dimediatori oleh negara Oman.

Menurutnya ada tiga sosok yang layak untuk menggantikan Khamenei yang telah memimpin Iran selama 36 tahun. Namun, Trump tidak menyebutkan nama dari sosok yang dimaksud.

“Saya punya tiga pilihan yang sangat bagus. Saya tidak akan mengungkapkannya sekarang. Mari kita selesaikan pekerjaan ini dulu,” katanya.

Lebih lanjut, Trump sesumbar dengan menyebut bahwa Iran akan tunduk pada kemauan AS dan Israel pasca diserang.

“Negara itu telah sangat melemah, setidaknya begitulah saat ini,” ujarnya.

Penulis: Tim Ekopol

Editor: Ramses