Rupiah Terus Melemah, Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Dampaknya Langsung Terasa Oleh Rakyat

IMG_20260524_074408

LINGKARMEDIA.COM – Nilai tukar rupiah terus tergerus berada di bawah tekanan dan nyaris menyentuh level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia dan Eropa yang bervariasi akibat tekanan pasar global.

Saat rupiah melemah, dampaknya bisa langsung terasa oleh masyarakat. Secara perlahan, biaya hidup bisa meningkat. Barang impor seperti elektronik, gadget, bahan baku industri, hingga sebagian bahan pangan berpotensi mengalami kenaikan harga, yang ujungnya bisa memicu inflasi karena biaya produksi dan distribusi ikut terkerek.

Contoh sederhananya, ketika dolar AS naik, harga iPhone, laptop, suku cadang kendaraan, sampai BBM ikut terdorong naik karena sebagian besar masih bergantung pada impor yang mana produsen barang-barang tersebut menjualnya dalam dolar AS.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/menata-ulang-tata-niaga-ekspor-sumber-daya-alam-demi-kedaulatan-ekonomi-nasional/

Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak.

Tekanan terhadap rupiah terutama datang dari meningkatnya ketidakpastian di Timur Tengah. Konflik AS-Iran yang belum benar-benar mereda kembali membuat pasar global berhati-hati.

Pasar kembali mencermati pernyataan Presiden AS Donald Trump yang meragukan keberlanjutan gencatan senjata AS-Iran dan menolak tawaran damai terbaru dari Teheran.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Selain itu, laporan yang menyebut Trump akan bertemu dengan tim keamanan nasionalnya untuk membahas kemungkinan dimulainya kembali operasi militer juga menambah kekhawatiran pasar.

Rencana untuk mengawal kapal komersial melalui Selat Hormuz turut menjadi perhatian.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur minyak paling penting di dunia, sehingga setiap ketegangan di kawasan tersebut dapat langsung memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven kembali meningkat. Saat ketidakpastian global naik, investor biasanya cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, salah satunya dolar AS.

Di sisi lain, mata uang negara berkembang seperti rupiah menjadi lebih rentan. Dengan menguatnya dolar AS di pasar global, ruang penguatan mata uang emerging market menjadi semakin sempit.

Konflik yang belum mereda juga membuat harga minyak dunia tetap berada di level tinggi. Pada perdagangna pagi ini, Harga minyak dunia acuan Brent mengalami kenaikan 0,95% ke level US$105,2 per barel, dan untuk harga minyak WTI naik 1% ke US$99 per barel.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi sentimen negatif tambahan bagi rupiah. Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi.

Pada saat yang sama, kenaikan harga minyak juga dapat menambah risiko inflasi dan tekanan terhadap fiskal, terutama jika beban subsidi energi ikut meningkat.

Tekanan fiskal ini menjadi penting karena defisit APBN memang tengah mengalami sorotan cukup besar. Pada 2025, defisit APBN tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Angka ini masih berada di bawah batas maksimal defisit anggaran yang ditetapkan dalam Undang-Undang, yakni 3% terhadap PDB.

Memasuki 2026, tekanan fiskal juga masih berlanjut. Pada kuartal I-2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap PDB. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana pada kuartal I-2025 defisit APBN tercatat sebesar Rp104,2 triliun atau 0,43% terhadap PDB.

Kondisi inilah yang membuat pelaku pasar mulai mempertanyakan kemampuan pemerintah dalam menjaga defisit APBN agar tetap berada di bawah batas 3% terhadap PDB sepanjang 2026.

Tekanan terhadap rupiah semakin besar karena harga minyak yang tinggi juga dapat mempengaruhi arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve.

Lonjakan harga energi berisiko membuat inflasi AS kembali sulit turun. Jika inflasi tetap tinggi, pasar akan semakin yakin bahwa suku bunga AS perlu bertahan tinggi lebih lama.

Kondisi ini membuat aset berbasis dolar AS tetap menarik bagi investor global. Akibatnya, arus dana ke negara berkembang berpotensi tertahan. Mata uang seperti rupiah pun semakin sulit mendapat ruang penguatan.

Saat ini, investor juga masih menanti rilis data inflasi konsumen AS periode April. Data tersebut akan menjadi salah satu petunjuk penting untuk melihat sejauh mana perang Iran mempengaruhi ekonomi AS dan bagaimana arah kebijakan The Fed ke depan.

Jika data inflasi menunjukkan tekanan harga masih kuat, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat semakin mundur. Hal ini berpotensi memperpanjang tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.

Selain faktor global, pelemahan rupiah juga diperparah oleh faktor psikologis pasar. Level psikologis sangat penting dalam pergerakan mata uang. Ketika level tersebut tertembus, pelaku pasar biasanya menjadi lebih defensif.

Permintaan dolar AS dapat meningkat, baik untuk kebutuhan transaksi, lindung nilai, maupun antisipasi pelemahan lebih lanjut.

Tertembus nya dua level psikologis dalam sekitar sepekan menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bergerak cepat. Kondisi ini juga berpotensi memperkuat persepsi bahwa pelemahan mata uang Rupiah masih belum selesai.

𝗗𝗼𝗹𝗮𝗿 𝗺𝗮𝗵𝗮𝗹 = 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗻𝗴? Bukan. Ini perampokan diam-diam.

Prof. Rhenald Kasali sudah bongkar depresiasi rupiah bukan strategi, tapi kegagalan yang ditambal paksa dengan cadangan devisa.

Kenapa rupiah lemah berbahaya? Karena mi instan, tempe, BBM, sampai bahan baku pabrik kita semua impor. Dolar naik harga barang naik, kita yang bayar.

Bandingkan dengan Tiongkok? Jangan konyol. Mereka lemahkan mata uang untuk jualan produk teknologi ke dunia. Kita cuma jual batu bara dan sawit mentah.

Eksportir komoditas memang cuan. Tapi cuan mereka adalah utang inflasi.

“Kalau ada konten yang bilang ini strategi nasional, tanya balik

Nasional punya siapa? Dompet siapa yang kena getahnya?” ujar Prof. Rhenald Kasali.

Dikutip dari Jawa Pos, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M Rizal Taufikurahman, mengatakan, pelemahan rupiah terhadap dolar bukan lagi sekadar gejolak harian, melainkan mencerminkan tekanan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.

Menurut dia, kondisi ini menunjukkan bahwa pasar sedang berada pada fase risk-off terhadap emerging markets, termasuk Indonesia. Apalagi di tengah tingginya ketidakpastian global, investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.

“Penyebab paling dominan saat ini masih berasal dari faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, dan lonjakan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga energi otomatis meningkatkan kebutuhan impor dan permintaan dolar AS,” kata Rizal.

Faktor domestik ikut memperberat tekanan, mulai dari kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal, kebutuhan pembiayaan utang yang besar, hingga persepsi pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

“Jadi tekanan rupiah saat ini bukan hanya karena dolar kuat, tetapi juga karena premi risiko Indonesia ikut meningkat,” tambahnya.

Meski Bank Indonesia (BI) sudah melakukan berbagai intervensi melalui pasar spot, DNDF, dan stabilisasi pasar obligasi, menurut Rizal stabilitas nilai tukar tak bisa hanya mengandalkan intervensi moneter saja tetapi juga harus melihat kondisi fiskal.

“Pasar saat ini juga melihat konsistensi fiskal, kredibilitas kebijakan, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan investor. Karena itu, penguatan koordinasi fiskal dan moneter menjadi sangat penting agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam,” terangnya.

Sementara itu, Pemerintah memastikan gejolak kurs tersebut tidak akan menjalar menjadi lonjakan harga barang dan inflasi di dalam negeri.

Menurut Menteri Keuangan Purbaya, indikator utama yang menjadi pegangan pemerintah adalah inflasi yang tetap rendah di tengah pertumbuhan ekonomi yang justru melaju tinggi pada kuartal I-2026.

“Inflasi juga kita relatif terkendali baik. Ini juga ada yang bilat inflasi double digit, tidak terkendali. Ternyata sampe sekarang baru 2,42 persen jadi inflasi terkendali,” jelas Purbaya saat konferensi pers APBN KITA, di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).

Pernyataan itu disampaikan di tengah tekanan besar terhadap rupiah yang kembali mencatat level penutupan terlemah sepanjang sejarah. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,31 persen ke posisi Rp17.695 per dolar AS pada perdagangan Selasa.

Sejak awal perdagangan, tekanan terhadap mata uang rupiah memang sudah terlihat. Rupiah dibuka melemah tipis 0,06 persen ke level Rp17.650 per dolar AS sebelum akhirnya sempat menembus area psikologis Rp17.730 per dolar AS dalam perdagangan intraday.

Meski demikian, pemerintah meyakini gejolak kurs belum akan berubah menjadi tekanan harga yang membebani masyarakat. Purbaya menilai kondisi inflasi nasional masih sangat terkendali, bahkan ketika ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I-2026—menjadi pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III-2022.

Hingga April 2026, inflasi nasional tercatat berada di level 2,42 persen secara tahunan, masih berada dalam rentang sasaran pemerintah. Purbaya juga menekankan bahwa pemerintah tetap mempertahankan kebijakan subsidi energi untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan global dan penguatan dolar AS.

“Ini juga membantu daya beli masyarakat kita tidak tergerus. Kenapa? Ini karena upaya pemerintah untuk mengendalikan inflasi bener-bener serius,” tegasnya. Menurutnya, harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan tetap dijaga hingga akhir tahun meskipun pasar energi global masih bergejolak.

Pemerintah, kata dia, memiliki kapasitas fiskal yang cukup untuk meredam dampak pelemahan rupiah maupun lonjakan harga minyak mentah dunia karena asumsi makro APBN telah disesuaikan dengan perkembangan terbaru. Tekanan terhadap rupiah sendiri masih dipengaruhi kombinasi sentimen global, penguatan aset dolar AS, serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah ekonomi dunia.

Namun pemerintah menilai kondisi domestik masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah guncangan eksternal tersebut.

Penulis: Ramses

Editor: Panji