Kisah Raeni, Anak Tukang Becak yang Kini Bergelar Doktor di Inggris

IMG-20260419-WA0126

LINGKARMEDIA.COM – Kisah Raeni menjadi salah satu potret nyata bahwa latar belakang ekonomi bukanlah batas untuk meraih pendidikan tinggi. Lahir dari keluarga sederhana di Kendal, Jawa Tengah, Raeni tumbuh sebagai anak dari seorang tukang becak bernama Mugiyono. Kehidupan sehari-hari keluarganya jauh dari kata berkecukupan. Penghasilan sang ayah tidak menentu, sementara ibunya berperan sebagai ibu rumah tangga yang mengurus kebutuhan keluarga.

Di tengah keterbatasan itu, mimpi untuk menempuh pendidikan tinggi sempat terasa mustahil. Namun, sejak kecil Raeni memiliki keyakinan kuat bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan. Ia menanamkan tekad dalam dirinya untuk belajar sebaik mungkin, meskipun kondisi ekonomi keluarganya tidak mendukung.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/kisah-farwiza-farhan-dan-lahirnya-patrol-perempuan-di-hutan-aceh/

Perjalanan pendidikan Raeni mulai menemukan titik terang ketika ia diterima di Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui program Bidikmisi pada tahun 2010. Program ini menjadi pintu masuk penting bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk mengenyam pendidikan tinggi tanpa terbebani biaya.

Sejak awal kuliah, Raeni dikenal sebagai mahasiswa yang tekun dan disiplin. Ia menjaga performa akademiknya dengan sangat baik. Fokus utamanya hanya satu: belajar dan meraih prestasi. Ia tidak banyak terlibat dalam aktivitas yang berpotensi mengganggu studinya. Hasilnya, ia mampu mempertahankan nilai yang konsisten tinggi sepanjang masa kuliah.

Tahun 2014 menjadi momen bersejarah dalam hidupnya. Raeni berhasil lulus lebih cepat dari waktu normal dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) hampir sempurna, yakni 3,96. Ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik di kampusnya. Namun, bukan hanya prestasinya yang menjadi sorotan publik.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Pada hari wisuda, Raeni datang bersama ayahnya yang mengantar menggunakan becak. Momen sederhana itu tertangkap kamera dan menyebar luas di media nasional. Foto tersebut menjadi simbol kuat tentang kesenjangan sosial sekaligus harapan. Banyak orang tersentuh melihat perjuangan seorang anak tukang becak yang berhasil menjadi lulusan terbaik.

Namun bagi Raeni, kelulusan itu bukanlah akhir dari perjalanan. Justru sebaliknya, itu menjadi awal dari langkah yang lebih besar. Ia menyadari bahwa kesempatan yang dimilikinya harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk melangkah lebih jauh.

Dengan tekad yang semakin kuat, Raeni mencoba melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Ia mengikuti seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yang dikenal sangat kompetitif. Pada percobaan pertama, ia mengalami kegagalan. Namun, kegagalan itu tidak membuatnya berhenti.

Lihat juga: https://www.facebook.com/share/1AsvdQn4uw/

Raeni memperbaiki proposal risetnya, meningkatkan kemampuan akademik, serta mempersiapkan diri lebih matang. Usahanya akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil mendapatkan beasiswa dan diterima di University of Birmingham, Inggris, untuk melanjutkan studi S2.

Kuliah di luar negeri menjadi pengalaman baru yang penuh tantangan. Raeni harus beradaptasi dengan lingkungan akademik yang berbeda, menggunakan bahasa Inggris dalam konteks akademik, serta menghadapi sistem pembelajaran yang menuntut kemandirian tinggi. Tidak hanya itu, ia juga harus menyesuaikan diri dengan budaya baru dan kehidupan di negeri orang.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Meski demikian, semangat belajarnya tidak pernah surut. Ia menjalani program Master of Education in Management and Leadership dengan penuh dedikasi. Selama di Inggris, ia mempelajari sistem pendidikan di negara maju dan memahami bagaimana kebijakan pendidikan dapat memengaruhi kualitas pembelajaran.

Setelah menyelesaikan studi S2, Raeni kembali ke Indonesia. Ia memilih untuk mengabdi sebagai dosen di almamaternya, Universitas Negeri Semarang. Keputusan ini menunjukkan komitmennya untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan, khususnya dalam membagikan ilmu dan pengalaman yang telah ia peroleh.

Selain mengajar, Raeni juga aktif sebagai pembicara dalam berbagai seminar dan pelatihan beasiswa. Ia sering berbagi pengalaman kepada mahasiswa yang memiliki mimpi serupa, memberikan motivasi sekaligus panduan praktis agar mereka berani melangkah lebih jauh.

Namun perjalanan akademiknya belum berhenti. Raeni kembali melanjutkan studi ke jenjang doktoral (S3). Ia kembali ke Inggris untuk menempuh pendidikan di bidang yang lebih spesifik. Pada tahap ini, tantangan yang dihadapi semakin kompleks.

Beasiswa yang ia terima tidak sepenuhnya menanggung biaya hidup. Untuk mengatasi hal tersebut, Raeni bekerja sebagai Research Associate di Stockholm Environment Institute. Pekerjaan ini tidak hanya membantu secara finansial, tetapi juga mendukung penelitiannya.

Dalam studi doktoralnya, Raeni fokus pada bidang akuntansi dan perubahan iklim. Ia meneliti bagaimana praktik pelaporan keuangan perusahaan dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan. Topik ini menjadi semakin relevan di tengah isu global mengenai perubahan iklim dan tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan.

Menjalani peran ganda sebagai mahasiswa doktoral dan pekerja bukanlah hal yang mudah. Waktu dan energi harus dibagi secara seimbang. Tekanan akademik yang tinggi seringkali menjadi tantangan tersendiri. Namun, Raeni mampu melewati semua itu dengan ketekunan dan disiplin yang luar biasa.

Akhirnya, pada tahun 2023, Raeni resmi menyelesaikan studi doktoralnya. Ia berhasil meraih gelar Ph.D. di usia yang relatif muda. Momen kelulusannya kembali menjadi sorotan, mengingat perjalanan panjang yang telah ia tempuh.

Jika dulu ia dikenal sebagai lulusan terbaik yang datang ke wisuda dengan becak, kini ia kembali hadir dengan gelar doktor. Perjalanan hidupnya menjadi bukti nyata bahwa kerja keras, konsistensi, dan doa dapat mengubah nasib seseorang.

Di balik kesuksesan Raeni, ada sosok ayah yang selalu mendukungnya tanpa syarat. Mugiyono, sang ayah, pernah mengambil keputusan besar dengan keluar dari pekerjaannya demi memberikan fasilitas belajar bagi anaknya. Uang pesangon yang ia terima digunakan untuk membeli laptop untuk Raeni, sementara sisanya digunakan untuk membeli becak sebagai sumber penghasilan.

Pengorbanan tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan Raeni. Ia tidak pernah melupakan perjuangan orang tuanya, bahkan ketika telah mencapai kesuksesan.

Meski kini telah bergelar doktor, kehidupan keluarganya tetap sederhana. Rumah kayu di Kendal masih menjadi tempat pulang yang hangat bagi Raeni. Ia sering kembali ke kampung halaman untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Kisah Raeni bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang nilai-nilai ketekunan, pengorbanan, dan harapan. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama generasi muda dari keluarga kurang mampu, bahwa mimpi besar tetap bisa diraih.

Perjalanan Raeni mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Justru dari keterbatasan itulah lahir kekuatan untuk terus berjuang. Dengan pendidikan sebagai kunci utama, ia berhasil membuka pintu masa depan yang lebih cerah, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.

 

Penulis : Ramses

Editor: Samsu