IMG-20260509-WA0276

Oleh:

Susi Rahayu

Departemen Perjuangan Buruh Perempuan Konfederasi Barisan Buruh Indonesia

LINGKARMEDIA.COM – Teladan dan makna yang bisa kita petik dari khidmat perjuangan dan pengorbanan Marsinah adalah tentang keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan menjadi benar.

Berani karena telah menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi. Berani karena telah meninggalkan kesempitan hidupnya dan hidup mengabdi di tengah-tengah massa.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/penguatan-mediasi-perselisihan-hubungan-industrial/

Karena hidupnya tak lagi sempit, maka hilang semua kekhawatiran remeh-temeh dari pikirannya. Tak lagi diperbudak kekhawatiran remeh-temeh; takut lapar, takut kehilangan rejeki, dan takut tak berkawan. Kakinya menjadi ringan, langkah kakinya melesat menyongsong fajar merah kemenangan.

Karena hidupnya tak lagi sempit, maka hilang semua kekhawatiran remeh-temeh dari pikirannya. Tak lagi diperbudak kekhawatiran remeh-temeh; takut lapar, takut kehilangan rejeki, dan takut tak berkawan. Kakinya menjadi ringan, langkah kakinya melesat menyongsong fajar merah kemenangan.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Berhentilah menjadi penakut, kuasa gelap hanya berdaya kepada mereka yang penakut. Tirani hanya berani kepada mereka yang ketakutan gemetar di pojokan.

Marsinah Begitu Berarti?

Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Sukomoro, Nganjuk, Jawa Timur. Ia berasal dari keluarga sederhana, anak kedua dari tiga bersaudara. Masa kecilnya diwarnai kesederhanaan: membantu nenek dan bibi berdagang makanan ringan, sekolah di SD dan SMP negeri, sempat mondok di pesantren Muhammadiyah, namun terpaksa berhenti karena biaya. Seperti jutaan perempuan desa lainnya, ia kemudian merantau mencari penghidupan ke kota-kota industri: Surabaya, lalu ke pabrik sepatu Bata, dan akhirnya ke PT Catur Putra Surya (CPS), pabrik arloji di Porong, Sidoarjo.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Di pabrik itulah Marsinah berubah. Dari seorang buruh biasa, ia menjadi juru bicara dan negosiator ratusan rekan kerjanya. Pada awal Mei 1993, ketika perusahaan mengabaikan imbauan kenaikan upah dan hak-hak dasar buruh, Marsinah berdiri di garis depan. Bersama rekan-rekannya, ia terlibat dalam mogok kerja dan demonstrasi pada 3-4 Mei 1993. Mereka menyusun 12 tuntutan konkret: kenaikan upah dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 per hari, asuransi tenaga kerja, jaminan kesehatan, penghitungan lembur yang benar, cuti haid dan hamil yang layak, serta kebebasan berserikat yang sesungguhnya — bukan SPSI yang dikendalikan negara.

Marsinah bukan sekadar ikut-ikutan. Ia aktif mencari dokumen resmi dari Dinas Tenaga Kerja, menjadi perwakilan dalam perundingan dengan manajemen, dan terus mendampingi rekan-rekannya yang diintimidasi aparat. Keberaniannya lahir dari kesadaran bahwa hidupnya tak lagi sempit. Ia telah memilih jalan pengabdian kepada sesama buruh — terutama buruh perempuan yang beban kerjanya seringkali berlipat ganda.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Namun, di bawah rezim Orde Baru yang otoriter, keberanian semacam itu dianggap ancaman. Pada 5 Mei 1993 malam, Marsinah diculik. Empat hari kemudian, pada 8 Mei 1993, jasadnya ditemukan di Wilangan, Nganjuk, dalam kondisi mengenaskan: disiksa, dimutilasi, dan diperkosa. Bukti forensik menunjukkan kekejaman luar biasa. Militer dan pihak keamanan saat itu sangat diduga terlibat. Hingga kini, kasusnya belum diusut tuntas secara hukum yang adil.

Perjuangan Marsinah bukanlah peristiwa tunggal. Ia merupakan bagian dari tradisi panjang perlawanan buruh perempuan Indonesia yang telah dimulai sejak masa kolonial dan kemerdekaan.

Salah satu tokoh pionir adalah S.K. Trimurti (Surastri Karma Trimurti), Menteri Perburuhan pertama Indonesia (1947-1948). Ia mendirikan Barisan Buruh Wanita (BBW) dan gigih memperjuangkan hak-hak khusus buruh perempuan: cuti haid, cuti melahirkan, perlindungan dari kekerasan seksual di tempat kerja, serta jam kerja yang manusiawi. Trimurti juga berperan penting dalam penyusunan undang-undang perburuhan awal kemerdekaan yang melindungi pekerja perempuan dari eksploitasi berlebih.

Selain itu, ada Umi Sardjono yang aktif dalam gerakan buruh dan perempuan, serta banyak buruh perempuan anonim di pabrik-pabrik garmen, tekstil, elektronik, dan makanan yang terus berjuang hingga hari ini. Contohnya Heti Kustiawati, buruh muda yang pada 2017 memimpin mogok kerja di PT Alpen Food Industry (produsen es krim Aice) menuntut keselamatan kerja setelah kebocoran gas amonia yang membahayakan kesehatan pekerja, terutama perempuan.

Di era kontemporer, ribuan buruh perempuan di pabrik-pabrik garment dan sepatu masih menghadapi isu yang sama: upah rendah, target produksi yang tidak manusiawi, pelecehan seksual, diskriminasi kehamilan, hingga PHK sewenang-wenang dan union busting. Mereka berjuang bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk anak dan keluarga, sambil menanggung beban ganda sebagai pekerja sekaligus ibu rumah tangga.

Pengorbanan Marsinah, bersama jejak perjuangan buruh perempuan lainnya seperti S.K. Trimurti dan banyak pejuang yang tak tercatat namanya, mengajarkan kita bahwa keberanian sejati bukanlah soal tidak takut, melainkan mampu melampaui ketakutan pribadi demi keadilan kolektif. Mereka membuktikan bahwa seorang perempuan dari latar belakang paling biasa sekalipun bisa menjadi kekuatan yang mengguncang struktur ketidakadilan.

Bagi gerakan buruh, Marsinah dan para pendahulunya menjadi simbol bahwa perjuangan hak upah layak, kebebasan berserikat, perlindungan dari PHK sewenang-wenang, dan keselamatan kerja harus terus diperjuangkan.

Bagi perempuan, mereka menunjukkan peran ganda buruh perempuan — melawan eksploitasi di pabrik sekaligus beban patriarki di masyarakat.

Bagi kita semua, pesan: “Berhentilah menjadi penakut, tetap hidup. Kuasa gelap, tirani, dan segala bentuk penindasan hanya kuat ketika kita diam, takut kehilangan, atau hanya memikirkan kepentingan sendiri.”

Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahi Marsinah gelar Pahlawan Nasional bersama tokoh-tokoh lain. Ini adalah pengakuan negara atas perjuangannya di bidang sosial dan kemanusiaan. Rencana pembangunan museum di kampung halamannya juga menjadi bagian dari upaya melestarikan warisannya.

Namun, penghargaan simbolis saja tidak cukup. Keadilan substantif — pengungkapan pelaku pembunuhan, penghormatan hak buruh yang nyata, dan penghapusan segala bentuk represi terhadap suara kritis — tetap harus diperjuangkan.

Ingat Marsinah bukan sekadar ritual tahunan. Ini panggilan agar kita semua, dimanapun berada, berani menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi. Berani keluar dari kesempitan hidup, berani menyuarakan kebenaran, dan berani melangkah ringan menyongsong fajar keadilan — sebagaimana telah dilakukan oleh Marsinah dan seluruh barisan buruh perempuan Indonesia sepanjang sejarah.

Semangat Marsinah terus menyala di dada setiap pejuang keadilan sosial.

 

Editor: Ramses