Semaoen, Penuntun Kaum Buruh
LINGKARMEDIA.COM – Semaoen Lahir tahun 1899 di Curahmalang, Jombang sebelah barat Kota Surabaya. Semaoen adalah anak Prawiroatmodjo, pegawai rendahan, tepatnya tukang batu, di jawatan kereta api.
Pada 1906, meskipun bukan anak orang kaya maupun priayi, Semaoen beruntung bisa masuk ke sekolah Tweede Klas (sekolah bumiputra kelas dua) dan memperoleh pendidikan tambahan bahasa Belanda dengan mengikuti semacam kursus sore hari (les Bahasa Belanda) pada Eerste Klas Inlandsche School yang di kemudian hari dikenal dengan Hollandsch Inlandsche School (HIS).
Pada 1912, Semaoen mengikuti ujian bagi pegawai Pamong Praja dan mendapatkan sertifikat “Klein Ambtenaar”. Setahun kemudian, Semaoen bekerja pada Staatspoor (SS) di Surabaya sebagai juru tulis (klerk).
Pengalaman organisasi dan politik didapatkannya sejak berusia muda. Kecerdasan dan bakatnya dalam menghimpun dan mengorganisir massa telah terlihat sejak berusia belia. Di tahun 1914, ketika Semaoen masih berumur 14 tahun, ia bergabung dengan Sarekat Islam. Dalam aktivitasnya di Sarekat Islam, ia bertemu dengan Sneevlit dan diajak untuk bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), lalu diajak untuk mengintervensi serikat buruh kereta api VSTP cabang Surabaya.
Setahun berikutnya pada 1915, Semaoen pindah ke Semarang dan bergabung dengan Indische Sosial-Democratisch Vereeniging (ISDV), sebuah organisasi berhaluan sosialis-demokratis dan Vereniging van Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP) di Semarang.
Salah satu faktor masuknya Semaoen ke dalam organisasi berhaluan sosio-demokratis tersebut karena peran dari Hendricus Josephus Fransiscus Marie Sneevlie atau Henk Sneevliet, seorang Belanda yang membawa aliran dan ideologi sosialis ke Hindia Belanda.
Ketika Revolusi 1917 pecah di Russia, Semaoen bersama Sneevlit berjuang mati-matian mempertahankan garis revolusioner di dalam ISDV dari serangan pemerintah kolonial dan kubu reformis di dalam ISDV. Sneevlit terus memperjuangkan kemandirian ISDV sebagai alat perjuangan anti-imperialism Belanda, menekankan pentingnya perjuangan kelas, kerjasama dengan SI, dan agitasi revolusioner massa di tengah dorongan para reformis untuk menempatkan ISDV sebagai cabang SDAP. Sementara Semaoen bahkan mengancam keluar bila ISDV dikerdilkan hanya jadi cabang SDAP Belanda. Di tahun 1920, ia menulis karya penting berjudul Penuntun Kaum Buruh, sebuah panduan serikat buruh dan kepentingan politiknya.
Peran Semaoen dalam dunia pergerakan menjadi semakin progresif ketika diangkat sebagai propagandis VSTP di Semarang pada 1916, yang mana Semaoen juga sebagai anggota SI Cabang Semarang. Karir politiknya melesat dengan cepat. Setahun kemudian, tepatnya pada 6 Mei 1917 Semaoen terpilih menjadi Ketua SI Cabang Semarang.
Momentum ini dimanfaatkan oleh Semaoen untuk memperluas pengaruh dan cita-citanya dalam pergerakan politik progresif dan radikal yang dalam waktu tidak terlalu lama, Semaoen berhasil menaikkan anggota SI Cabang Semarang dari 1.700 orang pada 1916 menjadi 20.000 orang pada 1917.
Pada masa kepemimpinan Semaoen, SI Cabang Semarang dibawa ke arah yang lebih progresif, radikal dan garis anti kapitalisme kuat karena diisi oleh anggota yang lebih muda serta latar belakang sosio-ekonomi yang beragam.
Pergerakan politik erat kaitannya dengan jurnalistik dan persuratkabaran. Dalam dunia jurnalistik ini, Semaoen menjadi redaktur beberapa surat kabar yang menjadi alat organisasi tempat dia berada.
Pada organisasi VSTP di Semarang, dia menjadi redaktur SI Tetap yang berbahasa Melayu. SI Cabang Semarang juga mempunyai surat kabar sebagai corong organisasi kepada khalayak publik. Surat kabar SI Cabang Semarang pada waktu itu bernama Sinar Djawa, yang kemudian pada 1 Mei 1918 berubah nama menjadi Sinar Hindia. Di sini, Semaoen juga menjadi redaktur yang sering menulis dan mengkritik pemerintah kolonial serta propaganda untuk melakukan pemogokan di kalangan buruh dan pekerja.
Atas tulisan dan propagandanya, Semaoen pernah tersangkut delict press dan dipenjara di Yogyakarta selama 4 bulan. Pergumulan Semaun dengan buruh dan latar belakang sosio – ekonominya yang berasal dari kelas bawah membuatnya terus terlibat dalam gerakan dan pemogokan buruh di Jawa. Sebagai Ketua SI Cabang Semarang, Semaoen terlibat dalam pemogokan buruh di industri furnitur pada 1918 dan pemogokan buruh industri cetak pada 1920.
Pengaruh Semaoen yang semakin progresif dan perannya yang besar di ISDV sepeninggal Sneevliet membuat Semaoen diangkat menjadi ketua ISDV. Bersama dengan tokoh muda progresif lainnya yaitu Alimin dan Darsono, berhasil memperluas dan memperkuat gerakan sosialisme di Hindia Belanda. Karena aktivitas Semaoen dalam gerakan politik sosialis di ISDV, terjadi perpecahan pada SI Cabang Semarang. Perpecahan tersebut memunculkan fraksi SI Putih dan SI Merah.
Pemikiran dan ide-ide Semaoen mengenai gerakan sosialis di Hindia Belanda mencapai puncaknya dengan mengubah ISDV menjadi Perserikatan Komunis Hindia (PKH) pada 1920 dan keluar dari SI. Setelah itu, PKH diubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 23 Mei 1920. Di partai ini, Semaoen menjadi pemimpin yang terkemuka. Kedekatan Semaoen sebagai pemimpin buruh, kerap kali membawa partai ini ke dalam propaganda dalam mengorganisir pemogokan buruh di berbagai tempat di Jawa.
Pada Oktober 1921, Semaoen meninggalkan Hindia Belanda dan berpetualang menuju Cina dan Rusia untuk mengikuti pertemuan Kongres Komunis Internasional III. Setelah berpetualang mengunjungi Eropa, Semaoen kembali ke Hindia Belanda pada Mei 1922 dan kembali mengorganisir pemogokan buruh kereta api di Semarang yang membuat pemerintah kolonial Belanda berang.
Di tanggal 8 Mei 1923, Semaoen ditangkap, karena dituduh membuat onar Hindia Belanda setelah memimpin pemogokan buruh kereta api di Semarang yang kemudian menjalar ke Surabaya. Ia kemudian diasingkan ke Belanda, dan menjadi wakil PKI di Eropa serta mengkampanyekan perjuangan di Indonesia melawan pemerintahan kolonial. Ia juga kerap berkomunikasi dengan Komintern.
Ia bertemu dan bertukar pikiran dan terlihat dalam berbagai diskusi dengan anggota Perhimpunan Indonesia (PI) dan aktif menulis pada surat kabar di sana. Dia juga sempat belajar di Universitas Tashkent untuk beberapa waktu.
Di Belanda, Semaoen dianggap sebagai orang yang mendekatkan PI dengan kelompok komunis. Sekitar 1927, Semaoen aktif menulis di surat kabar dwi mingguan Recht en Vrijheid (Keadilan dan Kemerdekaan) di Belanda.
Setelah kegagalan pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera Barat pada 1926-1927, Semaoen tinggal di Moskow, ibukota Rusia. Selama tinggal di Moskow, Semaoen menjadi penerjemah dan pengajar Bahasa Indonesia di Akademi Diplomatik Kementerian Luar Negeri dan Institut Ketimuran Moskow. Selain bekerja di institusi pemerintahan, Semaoen menjadi penyiar radio di Rusia pada akhir 1940-an. Puncak “kariernya” adalah ketika diangkat oleh Stalin menjadi pimpinan Badan Perancang Negara (Gozplan) di Tajikistan.
Di Rusia, Semaoen menikah dengan perempuan Rusia dan mendapat dua orang anak bernama Rono Semaoen dan Mischka. Sebelum diasingkan ke Belanda, ia pernah menikah dan mempunyai dua anak Logika Sudibjo dan Axioma.
Puluhan tahun di pengasingan, Semaoen kembali ke Indonesia dan pindah ke Jakarta pada tahun 1953 yang merupakan inisiatif dari Iwa Kusumasumantri. Pada 1959, Sukarno memberikan jabatan kepada Semaoen sebagai Wakil Ketua Bapekan (Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara). Dalam dunia pendidikan, Semaoen mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa (Dr. HC) dalam ilmu ekonomi dari Universitas Padjajaran Bandung pada 1961. Semaoen menjadi pengajar mata kuliah ekonomi pada kampus tersebut hingga akhir hayatnya. Semaoen meninggal dunia pada 7 April 1971 dan dimakamkan di pemakaman keluarga R.A. Prawira Atmaja, di Pemakaman Umum Gununggansir, Beji, Pasuruan, Jawa Timur.
Penulis: Tim Literasi Global
Editor: Ramses









