Kirab Tumpeng dan 1.000 Mangkok Rawon, Simbol Syukur Warga Temas di Selamatan Desa Ke-172

IMG_20260707_200825

LINGKARMEDIA.COM – Suasana penuh kebersamaan dan semangat gotong royong mewarnai puncak perayaan Selamatan Desa Kelurahan Temas ke-172 yang digelar pada Selasa (7/7/2026). Ratusan warga memadati sepanjang jalur kirab untuk menyaksikan arak-arakan tumpeng yang menjadi tradisi tahunan sekaligus wujud rasa syukur masyarakat atas berkah yang diterima selama ini.

Kirab tumpeng tersebut diikuti oleh perwakilan dari 11 Rukun Warga (RW), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), Karang Taruna, Linmas, HIPAM, serta berbagai elemen masyarakat lainnya. Masing-masing rombongan membawa tumpeng dengan beragam hiasan yang mencerminkan kreativitas sekaligus kekayaan budaya masyarakat Temas.

Puncak acara turut dihadiri Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, Ketua Komisi C DPRD Kota Batu Dewi Kartika, Camat Batu, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta ratusan warga yang antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/okupansi-hotel-di-kota-batu-tembus-90-persen-pada-liburan-sekolah-2026/

Lurah Temas, Anditya Fitrawan, SE., MSA, mengatakan kirab dan prosesi ngurak tumpeng merupakan penutup seluruh rangkaian Selamatan Desa yang telah berlangsung selama sepekan.

Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat secara turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Ini merupakan tradisi tahunan warga Kelurahan Temas dari sebelas RW. Kegiatan ini menjadi bagian unik dari Selamatan Desa yang merupakan inisiatif masyarakat dalam bentuk seserahan dan ungkapan syukur melalui prosesi ngurak tumpeng,” ujar Anditya.

Ia menjelaskan, tema yang diangkat pada tahun ini adalah “Hormati Bumi, Kejarlah Langit”, sebuah tema yang menggambarkan keseimbangan antara menjaga kelestarian alam sekaligus mendorong kemajuan masyarakat.

Selama satu minggu penuh, masyarakat Temas mengikuti berbagai kegiatan budaya yang diawali dengan ritual Mendak Tirto, kemudian diisi beragam kegiatan sosial, budaya, hingga ditutup dengan pertunjukan wayang kulit serta sedekah 1.000 mangkok nasi rawon daging kerbau kepada masyarakat.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Menurut Anditya, seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa bersama agar Kelurahan Temas senantiasa diberikan keberkahan, keselamatan, serta kesejahteraan.

“Intinya dengan rangkaian Selamatan Desa ini semoga membawa berkah, manfaat bagi seluruh warga Temas, serta memberikan barokah bagi semuanya,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia yang juga Ketua LPMK Kelurahan Temas, Edi Sunaedi, ST., MAP, menuturkan keberhasilan pelaksanaan Selamatan Desa tidak lepas dari partisipasi aktif seluruh warga.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Menurutnya, semangat gotong royong menjadi kekuatan utama yang membuat tradisi tersebut tetap lestari hingga memasuki usia ke-172 tahun.

“Semua warga bergerak secara guyub rukun melaksanakan Selamatan Desa dengan harapan desanya selamat, masyarakatnya selamat, begitu pula para pemimpinnya,” ujar Edi.

Ia menyebut, keterlibatan seluruh elemen masyarakat mulai dari anak-anak, pemuda, orang tua hingga para tokoh masyarakat menjadi bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat yang kuat di tengah perkembangan zaman.

Apresiasi juga disampaikan Ketua Komisi C DPRD Kota Batu, Dewi Kartika, yang menilai Kelurahan Temas berhasil mempertahankan tradisi budaya lokal di tengah status wilayahnya sebagai kelurahan.

Menurut Dewi, semangat masyarakat Temas dalam menjaga tradisi menjadi contoh bagi daerah lain di Kota Batu.

“Temas ini bentuknya kelurahan tetapi tetap memiliki semangat menghidupkan kultur budaya melalui tradisi Selamatan Desa. Tradisi seperti ini tidak dimiliki oleh banyak kota lain. Semangat gotong royong dan uri-uri budaya yang sudah berlangsung ratusan tahun masih terus dijaga hingga sekarang,” katanya.

Ia berharap tradisi Selamatan Desa tidak hanya menjadi agenda budaya masyarakat setempat, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik wisata budaya Kota Batu.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Menurutnya, wisatawan tidak hanya datang menikmati panorama alam Kota Batu, tetapi juga dapat mengenal budaya lokal yang hidup dan terus diwariskan oleh masyarakat.

“Ini merupakan kearifan lokal yang tidak dimiliki daerah lain. Kota Batu masih memiliki desa-desa yang tetap menjaga budaya Selamatan Desa sehingga harus terus dilestarikan,” ujarnya.

Dewi juga mengingatkan bahwa mempertahankan tradisi bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan kerja sama, tenaga, waktu, pikiran, hingga dukungan anggaran agar budaya tersebut tetap dapat dilaksanakan setiap tahun.

“Semangat yang luar biasa inilah yang nantinya akan terus menghidupkan budaya bersih desa atau Selamatan Desa sehingga tidak hilang ditelan perkembangan zaman,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto menyampaikan pesan dari Wali Kota Batu mengenai makna penting perjalanan panjang Kelurahan Temas selama 172 tahun.

Menurutnya, usia tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Temas telah berhasil mewariskan nilai-nilai luhur dari generasi ke generasi.

“Selama 172 tahun adalah perjalanan yang panjang. Selama itu pula masyarakat Temas telah mewariskan nilai-nilai luhur berupa gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan kepada alam sebagai bagian dari identitas yang terus hidup hingga hari ini,” kata Heli.

Ia juga menilai tema “Hormati Bumi, Kejarlah Langit” sangat relevan dengan arah pembangunan Kota Batu saat ini.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Menurutnya, menghormati bumi berarti menjaga sumber mata air, lahan pertanian, lingkungan hidup, dan seluruh warisan alam yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat.

Sementara itu, mengejar langit dimaknai sebagai semangat untuk terus belajar, berinovasi, meningkatkan kualitas hidup, serta membangun kesejahteraan masyarakat tanpa meninggalkan akar budaya yang telah diwariskan para leluhur.

“Pesan inilah yang menjadi fondasi pembangunan Kota Batu, yaitu pembangunan yang tetap menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong kemajuan masyarakat,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pelaksanaan kirab. Ribuan warga memenuhi sisi jalan untuk menyaksikan iring-iringan tumpeng dari masing-masing RW yang dihias dengan hasil bumi, sayur-mayur, buah-buahan, serta berbagai makanan tradisional.

Salah seorang warga RT 02 RW 04, Siti Mudrikah, mengaku bangga tradisi Selamatan Desa masih terus dilaksanakan hingga sekarang.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga mempererat hubungan antartetangga sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga budaya warisan leluhur.

“Semoga Kelurahan Temas semakin baik, guyub rukun, makmur, sejahtera, serta selalu aman,” harapnya.

Melalui semangat kebersamaan yang terus dipelihara selama lebih dari satu setengah abad, Selamatan Desa Temas ke-172 kembali membuktikan bahwa tradisi lokal tetap mampu bertahan di tengah modernisasi. Nilai gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta pelestarian budaya menjadi warisan berharga yang terus dijaga masyarakat Temas sebagai identitas sekaligus kebanggaan Kota Batu.

 

Penulis: Shereen

Editor: Samsu