Prosesi Perdana Hatur Tumpeng Bulu Bhekti Warnai Selamatan Desa Sumberejo Ke-116
LINGKARMEDIA.COM – Desa Sumberejo akan menggelar perayaan selamatan desa ke-116 dengan rangkaian kegiatan yang berlangsung lebih dari satu bulan, mulai Kamis (28/5/2026) hingga 4 Juli 2026. Meski demikian, agenda puncak selamatan desa dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, yakni pada 28 hingga 30 Mei 2026.
Perayaan tahunan yang menjadi tradisi masyarakat Desa Sumberejo tersebut tahun ini menghadirkan nuansa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Selain menghadirkan beragam kegiatan budaya dan hiburan rakyat, untuk pertama kalinya juga digelar prosesi ritual bertajuk “Hatur Tumpeng Bulu Bhekti” yang sarat makna kebersamaan dan rasa syukur masyarakat.
Kepala Desa Sumberejo, Drs. Riyanto, mengatakan rangkaian kegiatan selamatan desa tahun ini memang dibuat lebih panjang karena banyak agenda lanjutan yang dilaksanakan secara mandiri oleh masing-masing RW di wilayah desa.
Hal tersebut disampaikannya saat ditemui awak media di ruang kerjanya bersama Ketua Panitia Selamatan Desa, Yoyok Rudianto, Selasa (26/5/2026) siang.

“Kegiatan dimulai tanggal 28 Mei sampai 4 Juli. Acara puncaknya sendiri tanggal 28 sampai 30 Mei, setelah itu kegiatan dilanjutkan oleh masing-masing RW. Sampai hari ini yang sudah terdaftar izin kegiatannya itu sampai tanggal 4 Juli,” ujar Riyanto.
Menurutnya, antusiasme masyarakat dalam memeriahkan hari jadi Desa Sumberejo ke-116 sangat tinggi. Setiap wilayah RW turut berpartisipasi dengan menyusun kegiatan sendiri, mulai dari pentas seni, hiburan rakyat, doa bersama, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Namun dari seluruh agenda yang ada, prosesi “Hatur Tumpeng Bulu Bhekti” menjadi perhatian utama karena baru pertama kali dilaksanakan dalam sejarah perayaan selamatan Desa Sumberejo.
Riyanto menjelaskan, prosesi tersebut menjadi simbol ungkapan rasa syukur seluruh elemen masyarakat terhadap perjalanan dan perkembangan desa selama 116 tahun terakhir.
“Dalam acara Bulu Bhekti ini diikuti masing-masing RW, BPD, BUMDes, serta kelompok-kelompok masyarakat yang ada di desa. Mereka menyampaikan rasa syukur dalam bentuk tumpeng pada Jumat malam,” katanya.

Ia menerangkan, tumpeng-tumpeng tersebut nantinya akan diarak secara berjalan kaki dari kawasan rest area menuju Balai Desa Sumberejo dengan iring-iringan budaya dan prosesi adat.
“Ada 10 RW, jadi minimal ada 10 tumpeng. Selain itu kelompok masyarakat lainnya juga antusias membuat tumpeng sendiri. Ini baru awal, yang penting kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk ikut memeriahkan kegiatan desa sudah tumbuh,” tambahnya.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Riyanto berharap pelaksanaan perdana Hatur Tumpeng Bulu Bhekti dapat menjadi tradisi baru yang mampu memperkuat nilai gotong royong, kerukunan, dan rasa memiliki terhadap desa.
Menurutnya, keterlibatan aktif masyarakat dari tingkat RT, RW, tokoh masyarakat, hingga lembaga desa menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan warga Sumberejo.
“Harapannya tentu kegiatan ini bisa semakin memupuk kebersamaan masyarakat. Masing-masing RW, lembaga, dan kelompok masyarakat ternyata sangat antusias mendukung kegiatan ini. Nantinya tumpeng itu akan diantar bersama-sama menuju balai desa,” jelasnya.
Tema yang diangkat dalam Selamatan Desa Sumberejo tahun ini adalah “Nyawiji Ing Roso, Guyub Rukun Bangun Deso” yang memiliki makna “Menyatukan Rasa, Bersama-sama Membangun Desa”.
Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan semangat masyarakat yang ingin menjaga tradisi sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah kehidupan masyarakat desa yang terus berkembang.
Prosesi Hatur Tumpeng Bulu Bhekti sendiri tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga mengandung nilai filosofis mendalam tentang rasa syukur, penghormatan terhadap leluhur, serta harapan agar desa senantiasa diberi keberkahan dan kerukunan.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Dalam pelaksanaannya nanti, tumpeng yang sudah dipusatkan di rest area akan diarak menuju Balai Desa Sumberejo dengan berjalan kaki. Prosesi iring-iringan tersebut akan diawali dengan penampilan tarian tradisional “Cucuk Lampah” yang menjadi simbol pembuka perjalanan sakral.
Ketua Panitia Selamatan Desa Sumberejo, Yoyok Rudianto, mengatakan banyak tradisi di Desa Sumberejo yang awalnya lahir dari kesederhanaan, namun kemudian berkembang menjadi identitas budaya desa.
Ia berharap prosesi Bulu Bhekti juga dapat diterima masyarakat dan menjadi ikon budaya baru bagi Desa Sumberejo di masa mendatang.
“Acara-acara seperti itu di Sumberejo banyak yang awalnya sederhana kemudian berkembang menjadi ikon desa. Bulu Bhekti ini baru kita mulai, jadi kami belum terlalu berani membuat aturan yang baku. Nanti kita lihat bagaimana respons masyarakat terhadap pelaksanaan perdana ini,” kata Yoyok.
Menurutnya, nilai sakral dalam prosesi Hatur Tumpeng Bulu Bhekti menjadi bagian penting yang harus dijaga agar makna tradisi tidak hilang hanya karena kemeriahan acara.
Ia menjelaskan, prosesi penyerahan tumpeng kepada kepala desa akan dilakukan dengan tata cara khusus menggunakan bahasa dan simbol penghormatan yang mencerminkan rasa syukur masyarakat.
“Yang namanya hatur tumpeng itu artinya penyerahan secara hormat kepada kepala desa. Semua ditata dengan baik. Sakralnya ada di situ, melalui bahasa dan prosesi yang menggambarkan rasa syukur masyarakat,” ujarnya.
Yoyok menambahkan, meski tradisi tersebut baru pertama kali dilakukan, seluruh panitia dan masyarakat memahami nilai-nilai yang ingin disampaikan dalam prosesi tersebut.
“Meski ini baru dibuat sekarang, kita tahu maksud dan tujuannya. Yang paling penting adalah menjaga rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan kepada tradisi desa,” pungkasnya.
Penulis: Samsu
Editor: Ramses








