Selamatan Desa Mojorejo 2026, Pawai Budaya Tampilkan Kerukunan dan Lestarikan Tradisi Leluhur

IMG_20260711_141417_1

LINGKARMEDIA.COM – Suasana semarak mewarnai Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Sabtu (11/7/2026). Sebanyak 24 kontingen dari delapan Rukun Warga (RW) ambil bagian dalam pawai budaya yang menjadi puncak rangkaian Selamatan Desa Mojorejo 2026. Ribuan warga memadati sepanjang rute pawai untuk menyaksikan beragam pertunjukan seni, budaya, hingga atraksi yang menggambarkan kekayaan tradisi masyarakat setempat.

Mengusung tema “Cakra Manggala Desa Mulat Sarira Mangun Praja”, pawai budaya tahun ini menjadi simbol ajakan bagi seluruh masyarakat untuk melakukan refleksi diri, memperkuat persatuan, serta bersama-sama membangun desa yang semakin maju tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya leluhur.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/penolakan-pengeboran-air-tanah-pt-esa-menguat-musdesus-sumberbrantas-sepakat-tindak-lanjuti-aspirasi-warga/

Setiap kontingen menampilkan kreativitas yang berbeda. Mulai dari kesenian tradisional, busana adat, hasil bumi, hingga miniatur kehidupan masyarakat desa dipamerkan dalam iring-iringan yang berlangsung meriah. Penampilan tersebut tidak hanya menghibur masyarakat, tetapi juga menjadi bentuk nyata pelestarian budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Kepala Desa Mojorejo, Rujito, mengatakan bahwa pawai budaya merupakan salah satu agenda utama dalam rangkaian Selamatan Desa yang rutin diselenggarakan setiap tahun bertepatan dengan datangnya bulan Suro atau Muharam dalam kalender Hijriah.

Menurutnya, tradisi tersebut memiliki makna mendalam sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus momentum melakukan introspeksi terhadap perjalanan kehidupan selama setahun terakhir.

“Kita mengawali tahun baru maka untuk memanjatkan doa kemudian mengintrospeksi perjalanan tahun yang lalu dan sebagainya sehingga selamatan diadakan di bulan Muharam,” ujar Rujito kepada LingkarMedia.com.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Ia menjelaskan, pelaksanaan Selamatan Desa Mojorejo sebenarnya telah dimulai sejak awal bulan Muharam melalui berbagai kegiatan spiritual dan sosial yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Salah satu rangkaian kegiatan tersebut adalah pelaksanaan doa dan selamatan di sejumlah punden yang berada di wilayah Desa Mojorejo. Tradisi itu merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur yang diyakini memiliki jasa besar dalam membuka dan membangun desa hingga berkembang seperti saat ini.

Selain itu, pemerintah desa juga menggelar doa bersama lintas agama yang melibatkan tokoh agama Islam, Kristen, dan Buddha. Kegiatan tersebut menjadi simbol kuat bahwa masyarakat Mojorejo mampu menjaga toleransi dan kerukunan di tengah keberagaman keyakinan.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Rujito menilai semangat gotong royong dan persaudaraan yang terbangun melalui Selamatan Desa menjadi modal utama dalam mendukung pembangunan desa.

“Dengan selamatan desa ini secara hubungan sosial kita tambah akrab, guyub rukun. Karena bagaimanapun juga suatu pekerjaan atau tugas serta misi jika dijalankan secara bersama-sama akan lebih ringan dan kemungkinan keberhasilannya lebih besar,” katanya.

Secara spiritual, lanjut Rujito, masyarakat juga memanjatkan doa bagi para leluhur atau pendiri desa agar memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

“Kami juga mendoakan kepada para leluhur yang bedah krawang desa agar mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” imbuhnya.

Meski tradisi Selamatan Desa telah dilaksanakan secara turun-temurun, Pemerintah Desa Mojorejo hingga kini masih berupaya menelusuri sejarah pasti mengenai hari jadi desa tersebut.

Menurut Rujito, berbagai kajian telah dilakukan, baik melalui penelusuran dokumen administrasi maupun informasi dari para sesepuh desa. Namun hingga kini belum ditemukan bukti sejarah yang dapat memastikan tanggal lahir Desa Mojorejo.

“Kita masih mencari-cari karena masih banyak pendapat. Pokoknya di bulan Muharam saja. Kemudian kami mencari sesepuh enaknya di hari apa, karena hari lahir Mojorejo ini masih belum ada bukti,” jelasnya.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Ia menambahkan bahwa salah satu kajian yang sempat dilakukan adalah menghubungkan sejarah Desa Mojorejo dengan keberadaan Prasasti Sangguran, namun hingga saat ini belum ditemukan dasar ilmiah yang benar-benar dapat dijadikan acuan penetapan hari jadi desa.

Sementara itu, Camat Junrejo Parman yang turut hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi atas semangat masyarakat Mojorejo dalam menjaga budaya sekaligus mempertahankan kerukunan antarumat beragama.

Menurutnya, Desa Mojorejo selama ini dikenal sebagai wilayah yang memiliki masyarakat dengan latar belakang agama dan budaya yang beragam, namun tetap mampu hidup berdampingan secara harmonis.

“Mojorejo ini terkenal keanekaragamannya, kehidupan beragamanya meskipun bermacam-macam tetap rukun. Hal ini diimplementasikan dalam bentuk karnaval ini, mereka mengusung bagaimana kerukunan itu di masyarakat,” ujar Parman.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Ia menilai pelaksanaan pawai budaya bukan sekadar hiburan tahunan, melainkan sarana untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal kepada generasi muda agar tradisi leluhur tidak hilang tergerus perkembangan zaman.

Pemerintah Kecamatan Junrejo, kata Parman, mendukung penuh berbagai kegiatan pelestarian budaya yang dilakukan masyarakat desa. Menurutnya, budaya merupakan identitas daerah yang harus terus dijaga bersama.

“Keguyuban desa itu harus terus kita bangun, sehingga kegiatan pembangunan itu dapat berjalan kondusif dan lancar,” pungkasnya.

Melalui Selamatan Desa Mojorejo 2026, masyarakat tidak hanya merayakan datangnya Tahun Baru Islam, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong, toleransi, serta komitmen untuk melestarikan warisan budaya sebagai identitas yang terus hidup di tengah perkembangan Kota Batu.

 

Penulis: Shereen

Editor: Ramses