Hingga Hari Ke-8, Dua Remaja Hilang Saat Mendaki Gunung Bismo Belum Ditemukan, Operasi SAR Diperpanjang

IMG_20260711_182716

LINGKARMEDIA.COM – Operasi pencarian terhadap dua remaja asal Dusun Krinjing, Desa Krinjing, Kecamatan Watumalang, Kabupaten Wonosobo, yang dilaporkan hilang saat diduga mendaki Gunung Bismo, terus berlanjut. Hingga memasuki hari kedelapan, Kamis (9/7/2026), keberadaan kedua korban masih belum diketahui meski berbagai upaya telah dilakukan oleh Tim SAR gabungan.

Dua remaja yang masih dalam pencarian tersebut adalah Arifin Nurohmat (18) dan Yufaidin (15). Keduanya dilaporkan meninggalkan rumah tanpa seizin orang tua dan diduga melakukan pendakian ke Gunung Bismo melalui jalur Krinjing.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/upland-kementan-dongkrak-produktivitas-bawang-merah-di-kabupaten-malang-panen-tembus-18-ton-per-hektare/

Karena hingga hari kedelapan belum ditemukan adanya tanda-tanda keberadaan kedua korban, Tim SAR gabungan memutuskan memperpanjang operasi pencarian selama dua hari ke depan. Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil koordinasi antara Basarnas, BPBD, pemerintah daerah, serta seluruh unsur yang terlibat dalam operasi kemanusiaan.

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Wonosobo, Sabarno, mengatakan hasil koordinasi dengan Pos Basarnas Wonosobo menyepakati bahwa pencarian tetap dilanjutkan mengingat belum ditemukan petunjuk yang mengarah pada lokasi kedua korban.

“Operasi SAR diperpanjang selama dua hari dengan tambahan personel dari Kantor SAR Semarang agar area pencarian dapat diperluas dan seluruh potensi lokasi bisa disisir secara maksimal,” ujarnya.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Peristiwa ini bermula ketika kedua remaja diketahui meninggalkan rumah pada Selasa (30/6/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Berdasarkan informasi dari Relawan Penanggulangan Bencana (RPB) Kecamatan Watumalang, keduanya diduga menuju Gunung Bismo untuk melakukan pendakian melalui jalur Krinjing.

Namun hingga Kamis (2/7/2026), keduanya tidak kunjung pulang ke rumah. Kondisi tersebut membuat keluarga khawatir dan akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah desa serta aparat setempat.

Camat Watumalang, Arief Hardiyanto, menjelaskan bahwa laporan kehilangan diterima setelah kedua remaja tidak kembali sesuai waktu yang diperkirakan. Sejak saat itu, proses pencarian langsung dilakukan secara terpadu.

“Sempat muncul informasi dari warga yang mengaku melihat salah satu anak berada di sekitar jembatan di bawah desa. Namun setelah dilakukan pengecekan dan penyisiran di lokasi tersebut, keduanya tidak ditemukan,” jelas Arief.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Informasi tersebut sempat menjadi harapan baru bagi keluarga maupun tim pencari. Sayangnya, hasil penelusuran di sekitar lokasi tidak menemukan jejak yang dapat mengarah pada keberadaan kedua korban.

Sejak laporan pertama diterima, ratusan personel gabungan diterjunkan untuk melakukan pencarian. Tim menyisir berbagai jalur pendakian, lembah, kawasan hutan, hingga tebing-tebing curam yang berada di sekitar Gunung Bismo.

Operasi pencarian melibatkan Basarnas, BPBD Kabupaten Wonosobo, TNI, Polri, relawan kebencanaan, komunitas pecinta alam, perangkat desa, hingga berbagai unsur potensi SAR dari sejumlah daerah di Jawa Tengah.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Medan pencarian yang berat menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh personel. Kawasan Gunung Bismo memiliki kontur berupa hutan lebat, jurang terjal, tebing curam, serta jalur yang cukup sulit dijangkau, terutama pada musim hujan dan kondisi berkabut.

Untuk mengoptimalkan proses pencarian, Basarnas mendatangkan tambahan personel beserta sejumlah peralatan khusus dari Kantor SAR Semarang. Bantuan tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan pencarian di titik-titik yang sebelumnya sulit dijangkau.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menerjunkan dua ekor anjing pelacak atau K9 milik Basarnas Semarang. Satwa pelacak tersebut dimanfaatkan untuk membantu mengendus kemungkinan jejak korban di kawasan hutan yang memiliki vegetasi rapat.

Selain mengandalkan kemampuan K9, teknologi udara juga digunakan secara maksimal. Tim SAR mengoperasikan dua unit drone untuk melakukan pemantauan dari udara sekaligus memetakan area-area yang sulit dijangkau oleh personel di darat.

Penggunaan drone dinilai sangat membantu karena mampu memberikan gambaran kondisi medan secara menyeluruh serta mempercepat identifikasi lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi tempat keberadaan korban.

Tim juga dilengkapi dengan peralatan rope access berupa tali keselamatan dengan panjang lebih dari 200 meter. Peralatan tersebut digunakan untuk menjangkau tebing-tebing terjal dan jurang yang tidak memungkinkan dilalui dengan berjalan kaki.

Dalam masa perpanjangan operasi ini, strategi pencarian turut mengalami penyesuaian. Tim SAR gabungan mengubah pola penyisiran dengan memfokuskan pencarian pada sejumlah sektor yang sebelumnya belum dapat dijangkau secara optimal.

Pemetaan ulang dilakukan berdasarkan evaluasi hasil pencarian selama sepekan terakhir, termasuk memperhatikan kondisi geografis, informasi dari masyarakat, hingga kemungkinan jalur yang dilalui kedua remaja.

Seluruh personel yang terlibat berharap perpanjangan operasi selama dua hari dapat memberikan hasil positif sehingga kedua korban segera ditemukan.

Sementara itu, keluarga kedua remaja masih terus menunggu kabar dengan penuh harapan. Warga Desa Krinjing juga turut memberikan dukungan kepada tim pencarian melalui berbagai bantuan logistik maupun keterlibatan langsung dalam proses penyisiran di lapangan.

Hingga operasi pencarian hari kedelapan berakhir, belum ditemukan jejak maupun petunjuk yang mengarah pada keberadaan Arifin Nurohmat dan Yufaidin. Tim SAR gabungan berkomitmen memanfaatkan masa perpanjangan operasi secara maksimal dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia demi menemukan kedua remaja tersebut secepat mungkin.

 

Penulis: Ramses

Editor: Panji