Saifudin Zuhri Dorong Perda Pariwisata untuk Integrasikan UMKM dengan Destinasi Wisata di Kota Batu
LINGKARMEDIA.COM – Tingginya jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Batu tidak hanya memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata, tetapi juga mendorong pertumbuhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Berbagai produk lokal mulai dari makanan olahan, kerajinan tangan, hingga oleh-oleh khas Batu terus bermunculan seiring meningkatnya aktivitas wisata.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut masih terdapat persoalan yang perlu mendapat perhatian. Banyak pelaku UMKM yang hingga kini masih menjajakan produknya di pinggir jalan karena belum memiliki akses yang memadai untuk masuk ke kawasan wisata atau pusat-pusat penjualan yang strategis.
Kondisi tersebut menjadi perhatian anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur, Saifudin Zuhri, saat menghadiri sosialisasi bertema “Dari Destinasi Menuju Inspirasi: Merawat Pesona, Menggerakkan Ekonomi Lokal” yang digelar di Pusat Oleh-oleh Ken Dedes, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Selasa (14/7/2026).
Menurut Saifudin, perkembangan sektor pariwisata di Kota Batu seharusnya mampu memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat, khususnya para pelaku UMKM lokal. Karena itu, ia menilai perlu adanya kebijakan yang menghubungkan secara langsung antara destinasi wisata dengan produk-produk UMKM.
“Kalau melihat kondisi saat ini, banyak pelaku UMKM yang masih berjualan di pinggir jalan. Padahal jumlah wisatawan yang datang ke Kota Batu sangat besar. Seharusnya mereka bisa mendapatkan ruang untuk memasarkan produknya di lokasi wisata,” ujarnya kepada awak media.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Politisi PDI Perjuangan tersebut menilai, salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah melalui penyusunan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur pengembangan pariwisata sekaligus mewajibkan setiap destinasi wisata untuk melibatkan UMKM lokal.
Menurutnya, keberadaan regulasi tersebut akan memberikan kepastian hukum sekaligus mendorong kolaborasi antara pengelola wisata dengan para pelaku usaha kecil.
“Misalnya kalau ada Peraturan Daerah, kemudian di dalam peraturan tersebut mewajibkan setiap ada tempat wisata maka dia harus melibatkan UMKM, ini sangat menarik. Tinggal didata berapa jumlah UMKM yang ada di Kota Batu sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing destinasi wisata,” kata Saifudin.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Ia menambahkan, selama ini banyak tempat wisata yang telah berkembang pesat, namun belum seluruhnya memberikan ruang yang memadai bagi produk-produk lokal. Padahal, wisatawan yang datang ke Kota Batu tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga ingin membawa pulang oleh-oleh khas daerah.
Karena itu, integrasi antara sektor pariwisata dan UMKM dinilai mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Selain meningkatkan omzet pelaku usaha, langkah tersebut juga akan memperkuat identitas produk lokal Kota Batu sebagai bagian dari daya tarik wisata.
Saifudin menegaskan bahwa pembentukan Perda mengenai pariwisata yang berpihak kepada UMKM menjadi salah satu langkah strategis yang perlu segera diwujudkan.
“Mengintegrasikan ini kalau ada perdanya maka akan semakin menarik. Semua pihak akan memiliki tanggung jawab yang jelas dalam memberdayakan UMKM,” tegasnya.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Selain menyoroti perlunya regulasi, Saifudin juga menanggapi keluhan sejumlah pelaku UMKM di wilayah Desa Junrejo yang mengaku mengalami penurunan penjualan dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, menurut informasi yang diterima, terdapat sejumlah usaha yang terpaksa menghentikan operasional karena tidak mampu bersaing.
Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian bersama, mengingat Junrejo merupakan salah satu kawasan penyangga pariwisata Kota Batu yang memiliki banyak potensi usaha masyarakat.
Sebagai anggota Komisi A DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Saifudin berjanji akan membawa persoalan tersebut dalam pembahasan internal bersama anggota Fraksi PDIP di DPRD Kota Batu.
Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k
Menurutnya, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengumpulkan data secara lengkap mengenai jumlah pelaku UMKM, jenis usaha, hingga kendala yang mereka hadapi. Dengan data yang akurat, pemerintah daerah akan lebih mudah menyusun program pemberdayaan yang tepat sasaran.
“Ini akan saya rapatkan dengan teman-teman fraksi yang ada di Kota Batu dalam rapat internal kami. Syukur-syukur data tentang UMKM di Junrejo ini sudah ada, sehingga bisa kita dorong dan diarahkan kepada eksekutif supaya produk mereka bisa dititipkan di tempat-tempat yang menyedot wisatawan dalam jumlah besar,” ungkapnya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, pengelola destinasi wisata, dan pelaku UMKM dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang saling menguntungkan. Dengan demikian, pertumbuhan sektor pariwisata tidak hanya dinikmati oleh pengelola wisata, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui peningkatan pendapatan pelaku usaha lokal.
Menurut Saifudin, Kota Batu memiliki modal besar untuk menjadi contoh pengembangan ekonomi berbasis pariwisata yang melibatkan masyarakat. Dengan jumlah kunjungan wisatawan yang terus meningkat setiap tahunnya, peluang memperluas pasar bagi produk-produk UMKM terbuka sangat lebar apabila didukung oleh kebijakan yang berpihak kepada pelaku usaha kecil.
Ia optimistis, apabila integrasi tersebut dapat diwujudkan melalui regulasi dan komitmen seluruh pemangku kepentingan, maka UMKM Kota Batu akan semakin berkembang, memiliki daya saing yang kuat, sekaligus menjadi bagian penting dalam memperkuat sektor pariwisata dan perekonomian daerah.
Penulis: Samsu
Editor: Ramses








