Jaga Tradisi, Sambut 1 Suro Ratusan Warga Pager Gunung Gelar Kirab Tumpeng dan Jenang Suro
LINGKARMEDIA.COM – Ratusan warga Dusun Pager Gunung, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menggelar kirab tumpeng dan jenang Suro dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah yang juga dikenal sebagai malam 1 Suro dalam tradisi masyarakat Jawa, Rabu (17/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut diikuti warga dari dua Rukun Warga (RW) secara gotong royong. Berbagai hasil bumi, tumpeng, jenang Suro, serta jajanan tradisional diarak bersama menuju lokasi punden yang menjadi bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat setempat.
Baca juga: https://lingkarmedia.com/jembatan-gantung-curah-banteng-kelurahan-temas-diresmikan/
Bagi warga Dusun Pager Gunung, peringatan 1 Suro bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi ini telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tokoh lembaga adat Dusun Pager Gunung, Sujono Djonet, mengatakan bahwa perayaan 1 Suro telah menjadi kebutuhan masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan dan mempererat hubungan antarwarga.

“Menjadi suatu kebutuhan, bukan kewajiban lagi tetapi kebutuhan warga ikut terlibat, nyengkuyung atau bersatu untuk memperingati dan menyemarakan datangnya satu Suro ini,” ujar Sujono saat ditemui di kediamannya.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Menurutnya, malam 1 Suro memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa. Selain sebagai momentum memasuki tahun baru, peringatan ini juga menjadi sarana introspeksi diri sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berbagai nikmat yang telah diberikan selama satu tahun terakhir.
Tradisi tersebut juga menjadi simbol kerukunan yang terus dijaga oleh masyarakat Dusun Pager Gunung. Melalui kegiatan bersama seperti kirab tumpeng dan pembuatan jenang Suro, warga diajak untuk memperkuat rasa persaudaraan tanpa memandang perbedaan.

“Agenda ini bagi orang Jawa merupakan bentuk persiapan diri dalam menapak tahun baru 1 Suro, sekaligus bentuk rasa syukur dan wujud kerukunan masyarakat,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya tahun ini, masing-masing RW menyiapkan satu jenang Suro dan satu nasi tumpeng lengkap dengan 99 takir atau wadah yang terbuat dari daun pisang. Selain itu, warga juga membawa berbagai jajanan pasar tradisional serta hasil bumi yang menjadi simbol kemakmuran dan rasa syukur atas hasil pertanian.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Tidak hanya itu, beberapa warga juga menambahkan polo pendem atau aneka umbi-umbian sebagai bagian dari sesaji tradisional yang telah lama menjadi ciri khas perayaan Suro di wilayah tersebut.
“Satu RW setidaknya ada polo pendem. Selain itu biasanya ada tambahan makanan dari warga yang ikut berpartisipasi dalam acara ini,” kata Sujono.

Angka 99 takir yang digunakan dalam ritual tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam. Jumlah tersebut melambangkan 99 Asmaul Husna atau nama-nama baik Allah SWT yang menjadi simbol harapan agar seluruh warga senantiasa mendapatkan keberkahan, keselamatan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan.
Usai dipersiapkan bersama, seluruh tumpeng dan jenang Suro kemudian diarak menuju Punden Jati Tunggal yang diyakini sebagai petilasan Syeh Jumadil Kubro. Setelah itu, kirab dilanjutkan menuju Punden Waringin Tunggal yang juga memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi masyarakat setempat.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Sepanjang perjalanan kirab, suasana penuh kebersamaan begitu terasa. Warga dari berbagai usia turut ambil bagian dalam prosesi tersebut dengan mengenakan pakaian adat Jawa dan membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur.
Menurut Sujono, esensi utama dari pelaksanaan kirab bukan terletak pada kemeriahan acara, melainkan pada semangat gotong royong dan kerukunan yang tercipta di tengah masyarakat.

“Yang utama bagi kami adalah kerukunan. Partisipasi warga yang riang gembira dalam menyambut bulan Suro ini menjadi doa agar langkah kita di tahun mendatang diawali dengan semangat kebersamaan,” tuturnya.
Ia menambahkan, tradisi semacam ini memiliki peran penting dalam menjaga hubungan sosial antarwarga. Melalui kegiatan bersama, masyarakat dapat saling mengenal, memperkuat solidaritas, dan menjaga keharmonisan lingkungan.
Lebih jauh, Sujono mengungkapkan kekhawatirannya terhadap perkembangan zaman yang semakin modern dan berpotensi mengikis nilai-nilai budaya lokal. Menurutnya, generasi muda perlu terus dikenalkan dengan tradisi leluhur agar tidak kehilangan identitas budaya yang menjadi akar kehidupan masyarakat Jawa.
Ia menilai bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak kemajuan zaman, melainkan memastikan bahwa perkembangan modernisasi tetap berjalan seiring dengan pelestarian budaya yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
“Ini adalah sebuah kewajiban bagi kita untuk selalu memberikan contoh. Kita harus menjaga kultur Jawa ini agar jati diri kita tidak hilang, atau dalam istilah kami agar tidak sampai hilang Jawanya,” tegasnya.
Melalui peringatan 1 Suro yang rutin digelar setiap tahun, masyarakat Dusun Pager Gunung berharap nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Tradisi kirab tumpeng dan jenang Suro yang tetap lestari hingga kini menjadi bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat penting di tengah arus modernisasi yang terus berkembang. Bagi warga Pager Gunung, menjaga tradisi berarti menjaga identitas dan merawat warisan budaya yang menjadi kebanggaan bersama.
Penulis: Samsu
Editor: Ramses








