Penduduk Maluku Utara Tembus 1,37 Juta Jiwa, Gen Z Jadi Kelompok Terbesar

IMG_20260524_105435

LINGKARMEDIA.COM – Jumlah penduduk Provinsi Maluku Utara kini resmi menembus angka 1,37 juta jiwa. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar-Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), total populasi di provinsi berjuluk Bumi Moloku Kie Raha itu mencapai 1.375.310 jiwa.

Angka tersebut menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2010 yang saat itu mencatat jumlah penduduk Maluku Utara baru berada di kisaran 1,03 juta jiwa. Kenaikan populasi ini mencerminkan terus bertambahnya jumlah penduduk di wilayah kepulauan tersebut dalam kurun waktu lebih dari satu dekade terakhir.

Meski demikian, di balik pertumbuhan jumlah penduduk yang cukup pesat, BPS mencatat adanya perlambatan laju pertumbuhan penduduk dalam beberapa tahun terakhir. Kepala Bagian Umum BPS Maluku Utara, Harim Arrosid, menjelaskan bahwa dalam lima tahun terakhir laju pertumbuhan penduduk berada di angka 1,45 persen per tahun.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/masyarakat-adat-pekurehua-tolak-bank-tanah-walhi-sebut-negara-rampas-ruang-hidup-rakyat/

Menurut Harim, perlambatan tersebut menjadi indikator penting dalam melihat perubahan dinamika kependudukan di Maluku Utara. Fenomena itu dinilai menunjukkan adanya perubahan pola sosial dan ekonomi masyarakat yang turut mempengaruhi pertumbuhan populasi.

“Perlambatan ini menjadi indikator penting dalam melihat perubahan dinamika kependudukan daerah,” ujar Harim dalam keterangannya, Sabtu (23/5/2026).

Meski laju pertumbuhan melambat, secara keseluruhan jumlah penduduk Maluku Utara masih terus mengalami peningkatan. Kondisi ini dinilai tetap memberikan tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah, terutama dalam penyediaan layanan publik, lapangan kerja, pendidikan, hingga fasilitas kesehatan.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Dari total populasi yang tercatat saat ini, jumlah penduduk laki-laki masih mendominasi struktur kependudukan di Maluku Utara. BPS mencatat jumlah laki-laki mencapai 704,76 ribu jiwa atau sekitar 51,24 persen dari total populasi.

Sementara itu, jumlah penduduk perempuan berada di angka 670,54 ribu jiwa atau setara 48,76 persen dari keseluruhan penduduk. Komposisi tersebut membuat rasio jenis kelamin atau sex ratio di Maluku Utara berada pada angka 105.

Artinya, dalam setiap 100 perempuan terdapat sekitar 105 laki-laki di wilayah tersebut. Tingginya rasio jenis kelamin ini menunjukkan bahwa populasi laki-laki di Maluku Utara masih lebih dominan dibanding perempuan.

Secara wilayah, Kabupaten Halmahera Tengah tercatat menjadi daerah dengan rasio jenis kelamin tertinggi di Maluku Utara, yakni mencapai angka 109. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Halmahera Selatan dan Halmahera Timur yang sama-sama berada di angka 107.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Tingginya populasi laki-laki di sejumlah wilayah tersebut diduga berkaitan erat dengan perkembangan sektor industri, pertambangan, dan perkebunan yang banyak menyerap tenaga kerja pria produktif.

Selain data jumlah penduduk dan komposisi jenis kelamin, hasil SUPAS 2025 juga menunjukkan fakta menarik terkait struktur generasi di Maluku Utara. Saat ini, provinsi tersebut sedang menikmati puncak bonus demografi dengan dominasi kelompok usia produktif yang sangat besar.

Kelompok Generasi Z atau Gen Z menjadi populasi terbesar di Maluku Utara dengan persentase mencapai 27,28 persen dari total penduduk. Dominasi Gen Z ini menjadi sinyal kuat bahwa Maluku Utara memiliki sumber daya manusia usia muda yang melimpah.

Lihat juga; https://x.com/LingkarMed

Di posisi kedua terdapat Generasi Milenial yang menyumbang sekitar 25,28 persen dari total populasi. Jika digabungkan, jumlah Gen Z dan Milenial mencapai lebih dari separuh penduduk Maluku Utara.

Sementara itu, sisanya tersebar dalam kelompok generasi lainnya. Post Gen Z tercatat sebesar 22,20 persen, Generasi X sebesar 17,19 persen, Baby Boomer 7,50 persen, dan Pre-Boomer sebesar 0,55 persen.

Dominasi usia produktif ini disebut menjadi peluang emas bagi pembangunan daerah di masa depan. Dengan jumlah penduduk muda yang besar, Maluku Utara dinilai memiliki modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan produktivitas, hingga percepatan pembangunan di berbagai sektor.

Namun, bonus demografi juga dapat menjadi tantangan apabila tidak diimbangi dengan kebijakan yang tepat. Pemerintah daerah perlu memastikan tersedianya lapangan pekerjaan, akses pendidikan berkualitas, pelatihan keterampilan, hingga layanan kesehatan yang memadai agar potensi generasi muda dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pengamat kependudukan menilai bahwa dominasi Gen Z dan Milenial di Maluku Utara dapat menjadi kekuatan besar dalam menghadapi era transformasi digital dan perkembangan ekonomi kreatif. Generasi muda dinilai lebih adaptif terhadap teknologi, inovasi, serta perubahan sosial yang cepat.

Di sisi lain, meningkatnya jumlah penduduk juga menuntut kesiapan infrastruktur daerah. Pemerintah perlu memperhatikan pembangunan permukiman, transportasi, sanitasi, dan fasilitas publik lainnya agar pertumbuhan populasi tidak menimbulkan persoalan sosial baru di masa mendatang.

Sektor pendidikan juga menjadi perhatian utama. Dengan besarnya jumlah penduduk usia sekolah dan usia kerja muda, kebutuhan terhadap kualitas pendidikan diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

BPS Maluku Utara berharap data hasil SUPAS 2025 ini dapat menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran. Data kependudukan dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan arah pembangunan ekonomi, sosial, hingga perencanaan wilayah.

Harim Arrosid menegaskan bahwa dominasi Gen Z dan Milenial harus dipandang sebagai peluang besar yang harus dimanfaatkan secara maksimal.

“Dominasi Gen Z dan Milenial ini menunjukkan struktur penduduk Maluku Utara dikuasai usia produktif. Ini berpotensi besar menjadi modal utama bagi pembangunan daerah,” tutup Harim.

 

Penulis: Heri

Editor: Panji