Peringati 28 Tahun Reformasi, Aliansi BEM dan Organisasi Masyarakat Sipil Banjarnegara Nobar Film “Pesta Babi”

IMG-20260518-WA0189

LINGKARMEDIA.COM – Momentum peringatan 28 tahun Reformasi dimaknai berbeda oleh sejumlah elemen mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil di Banjarnegara. Di tengah berbagai dinamika demokrasi yang terjadi belakangan ini, mereka memilih memperingati Reformasi melalui kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pig Feast atau Pesta Babi yang sebelumnya sempat menuai polemik dan pembubaran di sejumlah daerah.

Kegiatan yang dikemas dalam konsep “sarasehan riang gembira” tersebut digelar pada Minggu malam (17/5/2026) mulai pukul 20.00 WIB. Acara berlangsung dengan suasana hangat, terbuka, dan penuh diskusi kritis terkait kondisi sosial, demokrasi, lingkungan, hingga berbagai persoalan rakyat yang dinilai masih relevan lebih dari dua dekade pasca Reformasi 1998.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/pembubaran-nobar-film-pesta-babi-dinilai-langgar-kebebasan-berekspresi/

Acara tersebut mengusung tema “Elemen Masyarakat dan Mahasiswa Menuju Hari Reformasi”. Selain pemutaran film dokumenter Pig Feast, kegiatan juga diisi dengan diskusi publik dan bedah film yang membahas isu kolonialisme modern, eksploitasi sumber daya alam, hingga dampaknya terhadap masyarakat adat dan kelompok rentan.

Panitia penyelenggara sengaja membatasi peserta hanya untuk 100 orang melalui sistem pendaftaran. Namun antusiasme masyarakat dan mahasiswa ternyata jauh lebih besar dari perkiraan. Sekitar 200 peserta hadir memenuhi lokasi kegiatan yang digelar di lingkungan Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdamu) Banjarnegara.

Ketua Pelaksana kegiatan, Alif Alfath, mengatakan acara tersebut digagas sebagai ruang dialektika bersama antara mahasiswa dan masyarakat sipil untuk membahas berbagai persoalan sosial yang terjadi di Indonesia saat ini.

Menurutnya, Reformasi tidak boleh dipahami hanya sebagai peristiwa sejarah yang selesai pada tahun 1998. Reformasi harus terus dirawat sebagai semangat kolektif untuk mengawal demokrasi dan memperjuangkan keadilan sosial di tengah tantangan zaman yang terus berubah.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

“Reformasi bukan hanya peristiwa sejarah tahun 1998. Reformasi harus terus dirawat sebagai semangat untuk mengkritisi ketimpangan, ketidakadilan, dan persoalan sosial yang masih terjadi hari ini,” kata Alfath dalam keterangannya.

Ia menjelaskan bahwa pemutaran film Pig Feast dipilih karena film tersebut dinilai memiliki pesan yang kuat mengenai praktik kolonialisme modern dan eksploitasi yang masih berlangsung di berbagai wilayah, termasuk dampaknya terhadap masyarakat kecil.

Film dokumenter tersebut menjadi pintu masuk bagi peserta untuk mendiskusikan relasi antara kekuasaan, investasi, penguasaan sumber daya alam, hingga posisi masyarakat dalam menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan struktural.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

“Acara ini bukan sekadar nonton film bersama, tetapi menjadi ruang refleksi dan ruang belajar bersama. Kita ingin mahasiswa dan masyarakat tetap memiliki kesadaran kritis terhadap situasi sosial-politik yang berkembang hari ini,” ujarnya.

Selain sebagai forum diskusi, kegiatan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi lintas organisasi mahasiswa, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil di Banjarnegara. Sejumlah elemen yang hadir berasal dari berbagai organisasi kemahasiswaan, komunitas literasi, pegiat lingkungan hingga aktivis sosial.

Suasana diskusi berlangsung santai namun penuh gagasan kritis. Para peserta tampak aktif berdialog mengenai kondisi demokrasi Indonesia pasca Reformasi, persoalan kebebasan berekspresi, konflik agraria, hingga tantangan gerakan mahasiswa di era digital.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Menariknya, kegiatan nobar Pig Feast di Banjarnegara berlangsung aman dan kondusif tanpa adanya pembubaran maupun tekanan seperti yang sempat terjadi di beberapa daerah lain. Tidak terlihat aparat Kepolisian maupun TNI berjaga di sekitar lokasi acara.

Hal tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi panitia dan peserta, mengingat sebelumnya film dokumenter Pesta Babi sempat menuai kontroversi hingga mengalami pelarangan dan pembubaran nobar di sejumlah kota.

Panitia menilai situasi yang kondusif di Banjarnegara menunjukkan bahwa ruang diskusi publik dan kebebasan berekspresi masih dapat dijaga dengan baik selama kegiatan dilakukan secara damai dan terbuka.

Kehadiran media massa baik cetak maupun online dalam kegiatan tersebut juga dianggap penting sebagai bagian dari edukasi publik mengenai substansi diskusi yang dibangun dalam acara tersebut.

“Media punya peran penting untuk menyampaikan substansi acara ini kepada publik. Jadi masyarakat tahu bahwa kegiatan ini adalah ruang diskusi ilmiah dan apresiasi seni, bukan kegiatan provokatif,” ujar salah satu panitia.

Pemilihan lokasi kegiatan di lingkungan Pusat Dakwah Muhammadiyah sempat menjadi perhatian sejumlah pihak. Beberapa kalangan mempertanyakan penggunaan lokasi tersebut mengingat judul film Pig Feast atau Pesta Babi dianggap cukup sensitif dan kontras dengan identitas tempat kegiatan.

Namun panitia menegaskan bahwa pemilihan tempat tersebut tidak memiliki muatan tertentu dan murni dipilih sebagai ruang diskusi yang representatif bagi mahasiswa dan masyarakat sipil.

Menurut panitia, substansi film tidak boleh dilihat hanya dari judulnya semata. Yang paling penting adalah pesan sosial dan kritik yang disampaikan melalui karya dokumenter tersebut.

Koordinator Wilayah III Aliansi BEM Banjarnegara, Raffi Asya’bani, menegaskan bahwa seluruh rangkaian acara dilaksanakan secara inklusif dan tetap menghormati nilai-nilai lokal yang ada di masyarakat.

Ia mengatakan panitia juga berkoordinasi dengan sejumlah organisasi eksternal guna memastikan kegiatan berjalan tertib dan kondusif tanpa menimbulkan gesekan di tengah masyarakat.

“Kami bekerja sama dengan organisasi eksternal untuk memastikan diskusi berjalan dengan tertib, objektif, dan tetap menjaga kondusivitas di lingkungan Pusdamu,” jelas Raffi.

Raffi menambahkan, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjaga semangat Reformasi melalui ruang-ruang diskusi kritis yang sehat dan terbuka. Menurutnya, mahasiswa tidak boleh kehilangan keberanian untuk membicarakan persoalan rakyat dan demokrasi.

Ia menilai saat ini tantangan demokrasi tidak lagi hadir dalam bentuk yang sama seperti era Orde Baru, melainkan muncul dalam bentuk baru yang lebih kompleks seperti pembungkaman kritik, ketimpangan sosial, eksploitasi lingkungan hingga terbatasnya ruang partisipasi publik.

Karena itu, kegiatan diskusi seperti nobar Pig Feast menjadi penting sebagai media pendidikan politik dan sosial bagi generasi muda agar tetap memiliki kesadaran kritis terhadap situasi bangsa.

Selain membahas film dokumenter, peserta diskusi juga menyinggung berbagai persoalan nasional yang dinilai masih jauh dari cita-cita Reformasi. Mulai dari maraknya konflik agraria, ketimpangan ekonomi, kriminalisasi aktivis, hingga persoalan kerusakan lingkungan akibat investasi besar-besaran.

Sejumlah peserta menyampaikan bahwa Reformasi seharusnya tidak berhenti hanya pada pergantian rezim, melainkan harus menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat, terutama terkait keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.

Bagi mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil yang hadir, peringatan Reformasi bukan sekadar agenda seremonial tahunan, tetapi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana cita-cita perjuangan 1998 benar-benar terwujud.

Diskusi berlangsung hingga larut malam dengan suasana penuh kebersamaan. Meski mengangkat tema-tema serius, acara tetap berjalan santai dan komunikatif. Para peserta duduk melingkar sambil berdialog secara terbuka mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi di masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil Banjarnegara berharap ruang-ruang diskusi publik tetap terjaga sebagai bagian penting dari demokrasi. Mereka juga berharap semangat Reformasi terus hidup di tengah generasi muda sebagai kekuatan moral untuk mengawal keadilan, kebebasan, dan keberpihakan terhadap rakyat kecil.

Peringatan 28 tahun Reformasi di Banjarnegara akhirnya tidak hanya menjadi nostalgia sejarah, melainkan juga pengingat bahwa perjuangan demokrasi dan keadilan sosial masih terus berlangsung hingga hari ini.

 

Penulis: Ramses

Editor: Samsu