Dedi Mulyadi Kembalikan Mahkota Binokasih ke Keraton Sumedang Larang

IMG_20260519_085927

LINGKARMEDIA.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi resmi mengembalikan Mahkota Binokasih atau Binokasih Sanghyang Pake kepada pihak Keraton Sumedang Larang setelah pusaka tersebut dibawa dalam rangkaian Kirab Milangkala Tatar Sunda ke sembilan kota dan kabupaten di Jawa Barat.

Prosesi pengembalian pusaka Kerajaan Sunda peninggalan abad ke-14 itu berlangsung khidmat di Gedung Negara Sumedang, Senin (18/5/2026). Mahkota Binokasih kemudian kembali disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, tempat pusaka bersejarah tersebut selama ini dijaga dan dirawat.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/noel-minta-kpk-taubat-nasuha-usai-dituntut-5-tahun-penjara/

Kehadiran Mahkota Binokasih dalam kirab budaya selama beberapa waktu terakhir menjadi perhatian besar masyarakat Jawa Barat. Ribuan warga memadati jalur kirab di berbagai daerah untuk menyaksikan secara langsung simbol kejayaan Kerajaan Sunda tersebut.

Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM menyampaikan bahwa Kirab Budaya Tatar Sunda tidak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya, tetapi juga berdampak nyata terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di sejumlah daerah yang dilalui.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Menurutnya, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan budaya terbukti mampu menggerakkan sektor pariwisata dan usaha lokal.

“Coba lihat hotel-hotel penuh, orang yang berkunjung ke Jawa Barat makin meningkat, dan beberapa daerah mulai nampak bersih,” ujar KDM.

Ia menilai, kebangkitan budaya lokal mampu menjadi energi baru bagi daerah untuk memperbaiki tata kota, kebersihan lingkungan, hingga memperkuat identitas daerah masing-masing.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Kirab Mahkota Binokasih sendiri sebelumnya melintasi sejumlah wilayah di Jawa Barat sebagai bagian dari peringatan Milangkala Tatar Sunda. Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan iring-iringan budaya, tetapi juga pertunjukan seni tradisional, doa adat, serta pelibatan komunitas budaya dari berbagai daerah.

Bagi masyarakat Sunda, Mahkota Binokasih memiliki nilai simbolik yang sangat penting. Pusaka tersebut diyakini sebagai lambang legitimasi kekuasaan raja-raja Sunda pada masa lampau. Karena itu, keberadaannya tidak hanya dipandang sebagai benda sejarah, melainkan juga sebagai simbol persatuan budaya Sunda.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Dedi Mulyadi mengatakan, setelah kirab selesai, seluruh daerah di Jawa Barat diharapkan mampu melakukan perubahan nyata, terutama dalam hal kebersihan dan penataan lingkungan.

Ia menekankan bahwa pembangunan daerah tidak semata-mata berbicara tentang proyek fisik, melainkan juga tentang membangun karakter ruang dan identitas budaya yang kuat.

Menurutnya, lingkungan yang tertata baik akan menciptakan daya tarik alami bagi masyarakat luar untuk datang berkunjung.

KDM mencontohkan kondisi kawasan keraton di Cirebon yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah maupun masyarakat sekitar.

Ia menilai, sejumlah keraton di wilayah tersebut saat ini kehilangan ruang terbuka karena dikelilingi bangunan-bangunan baru yang tidak memiliki keselarasan arsitektur dengan bangunan keraton.

“Kedepan, seluruh bangunan yang ada di sekitar keraton itu harus selaras, baru akan melahirkan gelombang publik untuk datang berkunjung,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari gagasan Dedi Mulyadi mengenai pentingnya penataan kawasan berbasis budaya dan sejarah. Ia meyakini, identitas budaya yang terjaga akan menjadi kekuatan besar bagi Jawa Barat di masa depan.

Selain itu, ia juga mengingatkan agar pemerintah daerah tidak terlalu terburu-buru mengejar lonjakan wisatawan tanpa melakukan pembenahan mendasar terhadap lingkungan dan tata kawasan.

Menurut KDM, fokus utama saat ini seharusnya adalah membangun kampung, desa, dan kota agar lebih tertata, bersih, nyaman, serta memiliki karakter budaya yang kuat.

“Yang paling utama kita jangan dulu berpikir wisata, jangan dulu berpikir orang berkunjung. Satu saja, kita urus lembur kita, kota ditata. Sudah saja itu dulu, nanti setelah itu nanti ada hikmah,” ungkapnya.

Pernyataan itu disambut positif oleh berbagai kalangan budaya dan masyarakat yang hadir dalam acara pengembalian Mahkota Binokasih. Mereka menilai pendekatan budaya yang dilakukan Dedi Mulyadi mampu membangkitkan kembali rasa bangga masyarakat terhadap sejarah dan tradisi Sunda.

Di sisi lain, kegiatan kirab budaya juga dianggap berhasil mempererat hubungan antardaerah di Jawa Barat. Setiap wilayah yang disinggahi menghadirkan ciri khas seni dan budayanya masing-masing, sehingga menciptakan ruang perjumpaan budaya yang lebih luas.

Selama kirab berlangsung, pelaku usaha kecil dan menengah di berbagai daerah juga merasakan dampak ekonomi. Pedagang makanan, pengrajin, hingga pelaku usaha penginapan mengalami peningkatan aktivitas karena tingginya jumlah pengunjung.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.

Mahkota Binokasih sendiri selama ini menjadi salah satu koleksi paling penting di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang. Pusaka itu diyakini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan Kerajaan Sunda dan Keraton Sumedang Larang.

Dengan berakhirnya Kirab Milangkala Tatar Sunda dan dikembalikannya Mahkota Binokasih ke tempat penyimpanannya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap semangat pelestarian budaya terus tumbuh di tengah masyarakat.

Kirab tersebut diharapkan bukan hanya menjadi seremoni budaya tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat identitas daerah, memperbaiki tata lingkungan, dan membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga warisan sejarah Sunda bagi generasi mendatang.

 

Penulis : Panji

Editor: Ramses