Sejarah, Budaya, dan Keberagaman Kabupaten Kota di Jawa Tengah

IMG_20260105_175852

Dari dataran tinggi Dieng yang menawan di Banjarnegara hingga hamparan pantai eksotis di Jepara dan Cilacap

LINGKARMEDIA.COM – Provinsi Jawa Tengah, yang terletak di jantung Pulau Jawa, merupakan wilayah yang kaya akan sejarah, budaya, dan keberagaman. Terdiri dari 35 kabupaten dan kota, setiap kabupaten kota di Jawa Tengah memiliki kekhasan tersendiri-baik dari segi budaya, adat istiadat, kuliner, hingga potensi alam dan ekonomi.

Jawa Tengah menawarkan mozaik kehidupan masyarakat yang dinamis dan harmonis. Menyelami lebih dalam setiap kabupaten dan kota di provinsi Jawa Tengah adalah menyusuri kisah panjang peradaban Jawa yang terus tumbuh dan berkembang.

Dikutip dari laman resmi Visit Jawa Tengah, Jawa Tengah ditetapkan sebagai provinsi sesuai dengan Undang-undang No 10/1950 tanggal 4 Juli 1950. Pada Pasal 2 ayat (2) menyatakan bahwa 19 Agustus sebagai hari jadi Provinsi Jateng sehingga bukan lagi 15 Agustus, yang kemudian ditindaklanjuti dengan Perda Nomor 5/2023.

Jarak terjauh dari Barat ke Timur adalah 263 kilometer dan dari utara ke selatan 226 kilometer. Terletak di 5º40′ dan 8º30′ Lintang Selatan dan antara 108º30′ dan 111º30′ Bujur Timur (termasuk Pulau Karimun Jawa).

Semarang, sebagai ibu kota, berfungsi sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan pendidikan, serta menjadi gerbang utama bagi aktivitas perdagangan dan logistik di wilayah ini.

Sejak abad VII, banyak terdapat pemerintahan kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah (Central Java), yaitu: Kerajaan Budha Kalingga, Jepara yang diperintah oleh Ratu Sima pada tahun 674.

Menurut naskah/prasasti Canggah tahun 732, kerajaan Hindu lahir di Medang Kamulan, Jawa Tengah dengan nama Raja Sanjaya atau Rakai Mataram. Dibawah pemerintahan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya, ia membangun Candi Roro Jonggrang atau Candi Prambanan.

Kerajaan Mataram Budha yang juga lahir di Jawa Tengah selama era pemerintahan Dinasti Syailendra, mereka membangun candi-candi seperi Candi Borobudur, Candi Sewu, Candi Kalasan dll.

Pada abad 16 setelah runtuhnya kerajaan Majapahit Hindu, kerajaan Islam muncul di Demak, sejak itulah Agama Islam disebarkan di Jawa Tengah. Setelah kerajaan Demak runtuh, Djoko Tingkir anak menantu Raja Demak (Sultan Trenggono) memindahkan kerajaan Demak ke Pajang (dekat Solo). Dan menyatakan diri sebagai Raja Kerajaan Pajang dan bergelar Sultan Adiwijaya.

Selama pemerintahannya terjadi kerusuhan dan pemberontakan. Perang yang paling besar adalah antara Sultan Adiwijaya melawan Aryo Penangsang. Sultan Adiwijaya menugaskan Danang Sutowijaya untuk menumpas pemberontakan Aryo Penangsang dan berhasil membunuh Aryo Penangsang.

Dikarenakan jasanya yang besar kepada Kerajaan Pajang, Sultan Adiwijaya memberikan hadiah tanah Mataram kepada Sutowijaya. Setelah Pajang runtuh ia menjadi Raja Mataram Islam pertama di Jawa Tengah dan bergelar Panembahan Senopati.

Di pertengahan abad 16 bangsa Portugis dan Spanyol datang ke Indonesia dalam usaha mencari rempah-rempah yang akan diperdagangkan di Eropa. Pada saat yang sama, bangsa Inggris dan kemudian bangsa Belanda datang ke Indonesia juga. Dengan VOC-nya bangsa Belanda menindas bangsa Indonesia termasuk rakyat Jawa Tengah baik dibidang politik maupun ekonomi.

Di awal abad 18 Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sunan Pakubuwono II, setelah beliau wafat muncul perselisihan diantara keluarga raja yang ingin memilih/menunjuk raja baru.

Perselisihan bertambah keruh setelah adanya campur tangan pemerintah Kolonial Belanda pada perselisihan keluarga raja tersebut. Pertikaian ini akhirnya diselesaikan dengan Perjanjian Gianti tahun 1755.

Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua kerajaan yang lebih kecil yaitu Surakarta Hadiningrat atau Kraton Kasunanan di Surakarta dan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kraton Kasultanan di Yogyakarta.

Di era kemerdekaan Provinsi Jawa Tengah dibentuk berdasarkan hasil sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 19 Agustus 1945. Dalam sidang tersebut, menetapkan Indonesia dibagi menjadi (delapan) provinsi, antara lain : Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil. Dalam sidang ini juga menentukan Gubernur di tiap Provinsi. Di Jawa Tengah diangkat Raden Pandji Soeroso sebagai Gubernur pada tanggal 5 September 1945.

Sampai saat ini, Jateng pernah dipimpin 16 Gubernur:

 1. R Pandji Soeroso,

 2. RMT Wongsonegoro,

 3. R Boedijono (1949-1954),

 4. RMTP Mangoennegoro (1954-1958),

 5. R Soekardjo Mangoenkoesoemo (1958-1960),

 6. Munadi (1966-1974),

 7. Soeparjo Roestam (1974-1983),

 8. Mochtar (1960-1966),

 9. HM Ismail (1983-1993),

10. Soewardi (1993-1998),

11. Mardiyanto (1998-2007),

12. Ali Mufiz (2007-2008),

13. Bibit Waluyo (2008-2013),

14. Ganjar Pranowo (2013-2023),

15. Nana Sudjana (2023-2025),

16. Ahmad Luthfi (2025-Sekarang).

 

Berikut 35 Kabupaten Kota dan luas wilayahnya di Jawa Tengah

Jumlah penduduk Jawa Tengah pada tahun 2025 diproyeksikan mencapai sekitar 38,23 juta jiwa menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Angka ini menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya dan menempatkan Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi terpadat di Indonesia, dengan kontribusi sekitar 13,4 persen dari total penduduk nasional.

Menurut Stasiun Klimatologi Klas 1 Semarang, suhu udara rata-rata di Jawa Tengah berkisar antara 18ºC sampai 28ºC. Tempat-tempat yang letaknya dekat pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif tinggi. Sementara itu, suhu rata-rata tanah berumput (kedalaman 5 Cm), berkisar antara 17ºC sampai 35ºC. Rata-rata suhu air berkisar antara 21ºC sampai 28ºC. Sedangkan untuk kelembaban udara rata-rata bervariasi, dari 73 persen sampai 94 persen. Curah hujan terbanyak terdapat di Stasiun Meteorologi Pertanian khusus batas Salatiga sebanyak 3.990 mm, dengan hari hujan 195 hari.

Sebagian besar penduduk Provinsi Jawa Tengah bekerja di sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, dan sektor lainnya. Wilayah Jawa Tengah dihuni oleh beragam suku bangsa.

Mayoritas yakni suku asli Jawa, selain itu juga suku-suku pendatang dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti dari Minang, Batak, Bugis, dan berbagai suku lainnya. Beberapa suku bangsa asing seperti Cina, Arab juga lazim ditemui di wilayah Jateng.

Sementara itu untuk agama, mayoritas penduduk Provinsi Jawa Tengah yakni lebih dari 96 persen beragama Islam. Sisanya terdiri dari pemeluk Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghuchu.

Sementara itu komunikasi Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan masyarakat untuk berkomunikasi sehari-hari, Bahasa Jawa dengan berbagai jenis dialek, seperti dialek seperti Surakarta, Banyumas, Tegal, Pekalongan, Pati.

(bersambung…)

Penulis: Tim Literasi Indonesia

Editor: Ramses