Mayor Titiler Angkatan Daran, Ayah Pendiri OPM
LINGKARMEDIA.COM —Pemerintah Republik Indonesia, melalui Keputusan Presiden No. 104 Tahun 1963, secara resmi mengangkat Lukas Rumkorem sebagai salah satu Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) mewakili Irian Barat. Penunjukan ini merupakan puncak pengakuan negara atas jasa-jasa heroik Lukas Rumkorem, yang dikenal sebagai pemimpin perlawanan di Papua sejak masa pendudukan Jepang.
Perjuangan di Bawah Bayang-Bayang Kekejaman Jepang
Lukas Rumkorem, atau yang lebih dikenal sebagai L. Rumkorem, adalah seorang tokoh pendidikan dan pejuang kemerdekaan yang lahir di Biak, Papua. Latar belakangnya sebagai guru (Volksonderwijzer pada 1937) memberinya pengaruh besar di kalangan rakyat.
Pemimpin Perlawanan Biak (1943): Ketika militer Jepang menduduki Papua pada 1942 dan melakukan kekejaman—menjadikan rakyat sebagai budak dan melakukan penganiayaan—Lukas Rumkorem bangkit. Pada tahun 1943, ia memimpin Perlawanan Rakyat Biak terhadap Jepang.
Strategi Koreri: Karena keterbatasan senjata, perlawanan ini digerakkan di bawah semangat Gerakan Koreri, yaitu gerakan kebangkitan rakyat yang meyakini datangnya zaman baru yang damai dan sejahtera. Perlawanan ini menjadi salah satu gerakan rakyat yang paling menantang otoritas Jepang di Papua.
Pengorbanan Diri Demi Integrasi ke NKRI
Pasca-Jepang, Lukas Rumkorem teguh pada cita-cita penyatuan Papua ke dalam pangkuan Republik Indonesia.
Pendiri Partai Nasionalis: Pada Oktober 1949, Lukas Rumkorem bersama Korinus Krey mendirikan Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak. PIM adalah organisasi politik pertama di Papua yang secara eksplisit menuntut persatuan dengan Republik Indonesia yang baru merdeka.
Mentor dan Kolega: Semangat nasionalismenya diperkuat setelah ia dilantik sebagai pegawai HBA (Hulp Bestuur Ambtenaar) pada 1945 dan berkenalan dengan Soegoro Atmoprasodjo, yang juga seorang guru dengan latar belakang nasionalis kuat. Ia dan Soegoro menjadi inspirator bagi pemuda-pemuda Papua lainnya.
Penghargaan Negara: Atas dedikasinya terhadap penyatuan bangsa, Pemerintah Republik Indonesia memberikan Lukas Rumkorem pangkat kehormatan militer sebagai Mayor Tituler Angkatan Darat.
Kontribusi Politik di Era Indonesia (1963)
Puncak pengakuan atas kesetiaannya kepada Merah Putih adalah penunjukannya sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Agung. Posisi ini adalah pengorbanan politik tertinggi, di mana ia menjadi suara rakyat Irian Barat dalam lembaga penasihat tertinggi negara pada masa Presiden Soekarno. Ia mengemban jabatan ini sejak 28 Mei 1963.
Gelar Adat dan Pengaruh: Selain penghargaan negara, Lukas Rumkorem juga dihormati secara adat dengan gelar Mayor Mandiboar dari keret (marga) Kurni di Biak. Pengakuan ganda ini menunjukkan posisinya yang kokoh, baik di mata pemerintah pusat maupun di mata masyarakat adatnya.
Tragedi Pewaris: Walaupun Lukas Rumkorem adalah pejuang setia Merah Putih, sejarah mencatat ironi pahit bahwa putranya, Seth Rumkorem, kelak membelot dan menjadi pendiri Organisasi Papua Merdeka (OPM) fraksi Markas Victoria pada tahun 1971. Kisah ini menjadi simbol kompleksitas perjuangan di Papua, di mana bahkan keluarga pejuang dapat terpecah karena perbedaan visi politik pasca-integrasi.
Sumber Informasi Utama:
Keputusan Presiden RI: No. 104 Tahun 1963 dan No. 83 Tahun 1966.
Biografi: Lukas Rumkorem (Ensiklopedi Universitas STEKOM).
Publikasi Sejarah: Pertemuan Antara Saudara Kandung (Departemen Penerangan RI, 1962).
Media Berita: KOMPAS.com (Stori, 2022) mengenai Perlawanan di Biak.
Penulis : Tim Literasi Global
Editor : Samsu








