Bumi Manusia, Adil Sejak Dalam Pikiran Apalagi Perbuatan

IMG-20260221-WA0278

LINGKARMEDIA.COM – Novel Bumi Manusia ditulis oleh Pram ketika menjadi tahanan politik di Pulau Buru. Karya Pramoedya Ananta Toer ini bukan hanya mendapatkan pengakuan di Indonesia, tetapi juga memperoleh pengakuan internasional. Bahkan, kisahnya kerap menjadi pembahasan dalam media dan forum sastra dunia.

Penerbit novel Bumi Manusia pertama kali adalah penerbit Hasta Mitra. Sejak pertama kali rilis, cerita novel Bumi Manusia meraih popularitas tinggi hingga menjadi best seller di Indonesia. Akan tetapi, cetakan kelima mulai mendapatkan larangan dari pemerintahan Orde Baru.

Setelah berakhirnya pemerintahan Soeharto, novel ini kembali mengalami pencetakan ulang untuk yang keenam kalinya pada Februari 2001.

Sejak pemerintahan Orde Baru pernah melarangnya, popularitas cerita novel Bumi Manusia justru semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa sastra memiliki dampak dan daya tahannya tersendiri.

Bumi Manusia adalah novel pertama dalam tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini menceritakan kisah hidup Minke, seorang pribumi yang bersekolah di HBS (Hogere Burgerschool) dan menceritakan perlawanannya terhadap diskriminasi dan penindasan di masa kolonialisme Belanda.

Novel ini terbagi menjadi 33 bab, yang membawa para pembaca menyelami perjalanan hidup Minke. Dimulai dari masa kecilnya di Surabaya yang diwarnai dengan kehangatan keluarga dan nilai-nilai budaya. Kemudian, Minke memasuki dunia HBS, sekolah elit yang didominasi oleh anak-anak Belanda.

Bumi Manusia mengisahkan kehidupan Minke, seorang siswa HBS keturunan priyayi, yang menjadi satu-satunya orang Indonesia di antara siswa Belanda. Dengan status tersebut, ia mendapat kesempatan bersekolah di sekolah menengah atas berbahasa Belanda.

Lulus dengan prestasi tinggi, Minke menyadari bahwa kehidupannya sebagai keturunan priyayi membuatnya lebih dihormati dibanding pribumi lain. Di sisi lain, ia juga menyadari ketidakadilan sosial dan rasialis terjadi di lingkungan sekitarnya.

Cerita ini mencakup jalinan cinta Minke dan Annelies, putri dari Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh. Hal itu membawa Minke pada petualangan yang menggugah serta menyentuh kompleksitas hubungan sosial maupun kelas.

Meskipun Minke penuh privilege sebagai pribumi cerdas, interaksinya dengan masyarakat kolonial membuka matanya terhadap ketidaksetaraan. Begitu juga dengan berbagai isu-isu rasial.

Hubungan persahabatan Minke dengan pelukis Perancis, Jean Marais, dan interaksinya dengan keluarga Mellema menggambarkan ketidakadilan sistem kolonial dari berbagai sudut pandang. Setelah kematian Herman Mellema, Minke dan Nyai Ontosoroh berjuang melawan hukum kolonial.

Pramoedya menghadirkan karakter-karakter yang kuat dan kompleks. Minke digambarkan sebagai sosok yang cerdas, pemberani, dan memiliki rasa keadilan yang tinggi. Annelies digambarkan sebagai wanita yang tegar, mandiri, dan berani mendobrak norma sosial. Pramoedya menggunakan gaya bahasa yang indah dan puitis dalam novel ini.

Novel ini memiliki sejumlah tokoh lain yang berperan penting dalam mengembangkan alur cerita.

Berikut ini tokoh-tokoh dalam novel Bumi Manusia:

1. Minke

Minke adalah tokoh utama dalam novel ini. Sudut pandang novel Bumi Manusia menggunakan sudut pandang orang pertama dari Minke. Perjalanan hidup Minke menggambarkan konflik internal dan eksternal yang dihadapi oleh individu pada masa kolonial.

2. Nyai Ontosoroh

Nyai Ontosoroh yang sebenarnya bernama Sanikem merupakan tokoh yang menonjol dalam novel Bumi Manusia. Dia adalah gundik Herman Mellema, pria Belanda yang memiliki perusahaan pertanian.

Nyai Ontosoroh digambarkan memiliki wawasan luas, terutama tentang adat dan budaya Eropa. Kemampuannya untuk berbahasa Madura menunjukkan kedekatannya dengan budaya lokal, yang menciptakan dimensi tambahan dalam karakternya.

3. Herman Mellema

Herman Mellema merupakan pria Belanda yang memelihara Nyai Ontosoroh sebagai gundiknya. Dari hubungannya dengan Nyai Ontosoroh, dia punya dua anak, yakni Robert Mellema dan Annelies Mellema. Herman Mellema digambarkan tidak memiliki tanggung jawab terhadap keluarganya sendiri. Dia memiliki istri sah bernama Amelia Mellema Hammers yang tinggal di Eropa.

4. Annelies Mellema

Annelies Mellema adalah putri dari Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh. Annelies dan Minke saling jatuh cinta dan akhirnya melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan. Hubungan mereka menghadirkan kompleksitas dinamika sosial dan kelas pada masa tersebut.

5. Robert Mellema

Robert adalah kakak Annelies. Perannya di novel ini juga cukup kuat: memberikan dimensi konflik dan dinamika keluarga dalam cerita. Interaksinya dengan Minke memberikan wawasan lebih lanjut tentang perbedaan sosial dan budaya pada masa itu.

6. Trunodongso

Trunodongso hidup sangat sederhana bersama keluarganya di Tulangan. Ia beserta petani lain telah merasakan penderitaan berkepanjangan akibat ulah penguasa Eropa yang ingin merampas hak-hak mereka.

7. Jean Marais

Jean Marais adalah seorang pelukis Prancis dan teman Minke. Keterlibatannya dalam cerita membuka perspektif tambahan terhadap sistem kolonial dari sudut pandang seorang asing.

8. Magda Peters

Magda Peters adalah guru bahasa Belanda yang beraliran etis di sekolah tempat Minke belajar. Interaksi mereka mencerminkan perbedaan pandangan terhadap masalah sosial dan politik pada masa tersebut.

9. Asisten Residen

Asisten Residen adalah pejabat pemerintah kolonial yang mengundang Minke sebagai tamu kehormatan karena melihat tulisan-tulisan Minke dalam majalah berbahasa Belanda.

Sejak pemerintahan Orde Baru pernah melarangnya, popularitas cerita novel Bumi Manusia justru semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa sastra memiliki dampak dan daya tahannya tersendiri.

Terdapat beberapa pesan moral dan amanat novel Bumi Manusia yang mencakup daftar berikut.

1. Kritik Terhadap Sistem Kolonial

Novel ini secara tajam mengkritik sistem pemerintahan Hindia Belanda, menyoroti ketidaksetaraan sosial, rasial, dan ekonomi hasil kebijakan kolonial. Pembaca dapat menarik kesimpulan bahwa sistem ini tidak hanya merugikan pribumi secara ekonomi, tetapi juga menciptakan ketidaksetaraan dalam hak-hak dan kesempatan.

2. Perjuangan Melawan Ketidakadilan

Melalui sejumlah tokoh seperti Minke dan Nyai Ontosoroh, novel ini menggambarkan perjuangan melawan ketidakadilan dan penindasan. Pembaca dapat mempelajari pentingnya melawan sistem yang tidak adil dan berdiri teguh untuk hak-hak dan martabat manusia.

3. Peran Perempuan dalam Perubahan Sosial

Nyai Ontosoroh sebagai tokoh perempuan yang kuat dan cerdas. Ia menggambarkan peran perempuan dalam mempengaruhi perubahan sosial.

Dirinya memperlihatkan bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk memainkan peran sentral dalam perjuangan. Begitu pula untuk melawan ketidakadilan dan memimpin perubahan sosial.

4. Kesadaran Identitas dan Kebangsaan

Melalui perjalanan karakter Minke, novel ini menggambarkan proses kesadaran identitas dan kebangsaan. Mengajak pula pembaca untuk memahami dan menghargai kedua hal tersebut.

Kemudian, novel tak luput mengajak pembaca untuk menghadapi tantangan yang timbul dari perbedaan budaya. Hubungan sosial masa tersebut menjadi salah satu hal penting dalam sejarah Indonesia.

5. Dampak Penindasan dan Larangan Terhadap Sastra

Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer tidak boleh terbit pada masa pemerintahan Orde Baru. Hal itu memberikan dampak tersendiri terhadap penulis dan masyarakat.

Diantaranya adalah menciptakan pesan moral tentang pentingnya kebebasan berekspresi. Kemudian, memperlihatkan bahwa sastra memiliki peran besar dalam melahirkan kesadaran kritis.

Salah satu penggalan dari novel Bumi Manusia yang eksis adalah perihal keadilan: “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan,”.

Penulis: Tim Literasi Global

Editor: Ramses