“Panggil Aku Kartini Saja”: Menyelami Keberanian Kartini dalam Melawan Feodalisme dan Penjajahan

IMG-20260421-WA0077

LINGKARMEDIA.COM – Nama Kartini telah lama dikenang sebagai simbol perjuangan perempuan Indonesia. Namun melalui buku , sosok Kartini dihadirkan dengan sudut pandang yang lebih mendalam, jujur, dan manusiawi. Karya ini tidak sekadar menceritakan biografi, tetapi juga membuka tabir pemikiran Kartini yang revolusioner di tengah tekanan feodalisme dan penjajahan kolonial.

Berbeda dari karya-karya Pramoedya sebelumnya seperti yang sarat dengan nuansa sastra, buku ini ditulis dalam bentuk novel biografi. Pramoedya menghadirkan Kartini bukan sebagai tokoh mitologis, melainkan sebagai manusia dengan kegelisahan, keberanian, dan cita-cita besar untuk bangsanya.

Baca juga:  https://lingkarmedia.com/kkb-gelar-budaya-angkat-isu-perempuan-demokrasi-dan-kebudayaan-di-semarang/

Menggali Kartini dari Tulisan Tangannya Sendiri

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada sumbernya. Pramoedya menyusun narasi berdasarkan surat-surat dan tulisan asli Kartini yang pernah diterbitkan di berbagai media pada masa . Dari sinilah pembaca dapat melihat bagaimana pemikiran Kartini tidak hanya menggema di tanah air, tetapi juga sampai ke negeri Belanda, bahkan mengguncang pandangan masyarakat kolonial terhadap kaum pribumi.

Judul “Panggil Aku Kartini Saja” sendiri bukan tanpa makna. Pramoedya ingin menegaskan identitas Kartini sebagai individu yang menolak sekat-sekat sosial. Ia tidak ingin dikenali melalui gelar kebangsawanan seperti Raden Ajeng atau Raden Ayu. Bagi Kartini, semua manusia setara—tanpa memandang status sosial, jenis kelamin, maupun latar belakang.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Kartini dan Perlawanan terhadap Feodalisme

Kartini lahir pada 21 April 1879 di dari keluarga bangsawan. Ayahnya, , merupakan seorang pejabat penting, sementara ibunya, Ngasirah, berasal dari kalangan biasa. Meski hidup dalam lingkungan priyayi, Kartini justru menjadi salah satu pengkritik paling tajam terhadap sistem feodalisme.

Sejak kecil, Kartini telah menyaksikan ketidakadilan dalam keluarganya sendiri. Ibunya yang hanya berstatus selir membuatnya merasakan ketimpangan sosial secara langsung. Ia juga melihat bagaimana perempuan ditempatkan di posisi yang lebih rendah dibanding laki-laki, bahkan dalam keluarga bangsawan sekalipun.

Dalam buku ini, tergambar jelas bagaimana Kartini menolak tradisi yang mengekang perempuan. Ia menentang praktik pingitan, pembatasan pendidikan bagi perempuan, serta sistem sosial yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua.

Lihat juga: https://www.facebook.com/share/1AsvdQn4uw/

Pendidikan: Mimpi yang Terbatas

Kartini sempat merasakan pendidikan di sekolah Belanda, sebuah kesempatan langka bagi perempuan pribumi saat itu. Namun, ia hanya dapat mengenyam pendidikan hingga usia 12 tahun sebelum akhirnya dipingit sesuai adat yang berlaku.

Di sekolah, Kartini tidak hanya menghadapi tantangan akademik, tetapi juga diskriminasi rasial dan sosial. Warna kulit, status sebagai pribumi, serta keterbatasan bahasa menjadi hambatan yang harus ia hadapi setiap hari.

Meski demikian, semangat belajar Kartini tidak pernah padam. Ia terus mencari ilmu melalui membaca dan menulis. Hasratnya terhadap pengetahuan menjadi salah satu kekuatan yang membentuk pemikirannya yang progresif.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Surat-Surat yang Mengubah Sejarah

Salah satu bagian paling penting dalam kehidupan Kartini adalah aktivitas surat-menyuratnya. Ia menjalin komunikasi dengan tokoh-tokoh Eropa seperti , , dan .

Melalui surat-surat ini, Kartini menuangkan gagasan-gagasannya tentang pendidikan, kesetaraan gender, dan kondisi masyarakat pribumi. Surat-surat tersebut kemudian menjadi dokumen penting yang menunjukkan betapa visionernya pemikiran Kartini jauh melampaui zamannya.

Bahasa Belanda menjadi alat bagi Kartini untuk “menembus benteng” kolonial. Di saat sebagian besar pribumi tidak memiliki akses terhadap bahasa tersebut, Kartini justru memanfaatkannya untuk menyuarakan kritik terhadap sistem yang menindas bangsanya.

Kartini sebagai Penulis dan Pemikir

Selain aktif menulis surat, Kartini juga menunjukkan minat besar dalam dunia sastra. Pada usia 16 tahun, ia telah menulis tentang adat perkawinan masyarakat Koja di Jepara. Ketertarikannya terhadap seni dan budaya menunjukkan bahwa Kartini bukan hanya seorang aktivis, tetapi juga intelektual yang kaya perspektif.

Menariknya, meskipun tulisannya mulai dikenal luas, Kartini justru memilih menggunakan nama samaran. Hal ini menunjukkan kerendahan hati sekaligus kehati-hatiannya dalam menyampaikan gagasan di tengah situasi politik yang sensitif.

Pramoedya sebagai “Tangan Panjang” Kartini

Dalam buku ini, Pramoedya tidak berperan sebagai narator yang dominan. Ia lebih memilih menjadi “tangan panjang” Kartini—menyusun, mendokumentasikan, dan menyampaikan kembali pemikiran Kartini kepada pembaca modern.

Riset yang dilakukan Pramoedya pun tidak main-main. Ia mengumpulkan data dari berbagai sumber, termasuk perpustakaan museum di Jakarta, Arsip Nasional, hingga wawancara dengan .

Sayangnya, proyek penulisan buku ini tidak berjalan mulus. Awalnya direncanakan terdiri dari empat jilid, namun tekanan politik pada masa itu menyebabkan sebagian naskah hilang. Yang tersisa hanya dua jilid yang kemudian diterbitkan dengan judul “Panggil Aku Kartini Saja”.

Potret Indonesia di Masa Kolonial

Melalui buku ini, pembaca tidak hanya mengenal Kartini, tetapi juga mendapatkan gambaran tentang kondisi sosial Indonesia pada masa kolonial. Kemiskinan, ketimpangan sosial, dan penindasan menjadi realitas sehari-hari masyarakat pribumi.

Kartini, meskipun berasal dari kalangan bangsawan, tidak menutup mata terhadap penderitaan rakyat. Ia memiliki empati yang besar terhadap kaum tertindas dan berupaya memperjuangkan perubahan melalui pemikiran dan tulisan.

Pesan Keberanian yang Abadi

Salah satu kutipan paling kuat dari Kartini yang diangkat dalam buku ini adalah:

“Barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang, itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia!”

Pesan ini tidak hanya relevan pada masa Kartini, tetapi juga hingga saat ini. Keberanian menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakadilan, baik dalam konteks sosial, politik, maupun budaya.

Relevansi Kartini di Masa Kini

Lebih dari satu abad setelah kelahirannya, pemikiran Kartini tetap relevan. Isu kesetaraan gender, akses pendidikan, dan keadilan sosial masih menjadi tantangan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Melalui buku ini, Pramoedya mengingatkan bahwa perjuangan Kartini belum selesai. Generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tersebut dengan cara yang sesuai dengan zaman.

“Panggil Aku Kartini Saja” bukan hanya sebuah buku biografi, tetapi juga refleksi tentang keberanian, kemanusiaan, dan harapan. Ia mengajak pembaca untuk melihat Kartini bukan sekadar sebagai simbol, tetapi sebagai inspirasi nyata dalam memperjuangkan keadilan dan kesetaraan.

Pada akhirnya, Kartini mengajarkan satu hal penting: perubahan tidak akan terjadi tanpa keberanian. Dan seperti yang ia katakan, dunia ini dimenangkan oleh mereka yang berani melangkah.

 

Judul buku : Panggil Aku Kartini Saja

Jenis Buku: Novel Biografi

Genre: Nonfiksi

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lentera Dipantara, Jakarta

Cetakan : 2003

Tebal : 308 Halaman

ISBN : 9789793820057

 

Penulis : Ramses

Editor : Panji