Lima Puisi Zikri Amanda Hidayat Hadirkan Perjalanan Batin Tentang Rindu, Kehilangan Hingga Makna Pulang
LINGKARMEDIA.COM – Penyair Zikri Amanda Hidayat menghadirkan lima puisi yang membawa pembaca menyusuri perjalanan batin tentang kerinduan, kehilangan, pencarian makna, hubungan anak dan ayah, hingga perpisahan.
Kelima puisi tersebut masing-masing berjudul “Rekognisi”, “Nestapa”, “Batu”, “Mengeja Ayah”, dan “Kapal Kecil yang Karam”. Seluruh karya ditulis di Padang pada 2025.
Puisi-puisi tersebut memperlihatkan kecenderungan Zikri menggunakan alam sebagai medium untuk menyampaikan pengalaman emosional. Bulan, danau, hutan, padang rumput, laut, hujan, batu, bunga, hingga kapal menjadi simbol yang membawa pembaca pada pengalaman batin tokoh lirik.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Dalam puisi “Rekognisi”, penyair menghadirkan sosok yang terus menanti cahaya dan kehadiran seseorang yang dirindukan. Perjalanan hidup digambarkan sebagai jalan berlumpur yang penuh suka-duka, luka, dan dugaan harapan.
“Entah sampai kapan aku selalu menanti cahayamu menyusup dada danauku,” menjadi salah satu gambaran kuat tentang penantian yang terus berlangsung.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Kerinduan dan ketidakpastian juga terasa dalam puisi “Nestapa”. Burung-burung dari timur, bunga di hutan, air jernih di kaki gunung, hingga hujan menjadi bagian dari lanskap kesunyian tokoh lirik yang menunggu kabar.
Pertanyaan tentang kepulangan menjadi salah satu pusat kegelisahan dalam puisi tersebut.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
“Lantas, tubuh tualang ke mana harus pulang?” menjadi gambaran tentang seseorang yang kehilangan arah di tengah perjalanan hidup.
Berbeda dengan dua puisi sebelumnya, “Batu” menghadirkan benda sederhana sebagai tokoh utama. Sebuah batu yang dilempar ke kali kemudian menjalani perjalanan panjang bersama aliran air, lumut, hujan, ikan, hingga akhirnya dibawa pulang dan ditempatkan di sebuah pot pekarangan.
Melalui perjalanan tersebut, batu menjadi simbol tentang perubahan, ketabahan, dan kehidupan yang terus bergerak. Di tempat baru, batu kemudian menjadi saksi tumbuhnya sebatang bunga.
“Batu pun menyadari dunia ini luas,” tulis Zikri dalam salah satu bagian puisinya.
Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k
Sementara itu, puisi “Mengeja Ayah” menjadi karya yang paling personal dalam menggambarkan hubungan keluarga. Puisi tersebut mengisahkan seorang anak yang berusaha memahami kerasnya didikan seorang ayah sebagai bekal menghadapi kehidupan.
Ayah digambarkan sebagai kompas, tempat pulang, sekaligus sumber keberanian. Seiring bertambahnya usia, tokoh lirik mulai memahami bahwa berbagai nasihat dan kebiasaan sang ayah yang dahulu kerap dipertanyakan justru menjadi bekal untuk menghadapi dunia.
“Kau harus lebih baik dariku,” menjadi pesan yang menggambarkan harapan seorang ayah kepada anaknya.
Puisi terakhir, “Kapal Kecil yang Karam”, membawa pembaca pada kisah cinta dan perpisahan. Kapal kecil menjadi metafora hubungan yang dibangun oleh dua orang untuk mengarungi lautan komitmen dan perasaan.
Namun, perjalanan tersebut pada akhirnya berakhir. Sosok yang dicintai pergi, sementara tokoh lirik harus menghadapi kesendirian.
“Separuh hatiku tanggal menjadi angan, separuh lagi tertinggal menjadi kenangan,” menjadi penutup yang menggambarkan sisa-sisa hubungan setelah perpisahan.
Secara keseluruhan, kelima puisi tersebut memperlihatkan karakter puisi modern yang bebas dari keterikatan pada pola rima dan jumlah baris tertentu. Puisi modern memberi ruang bagi penyair untuk menyampaikan gagasan dan perasaan melalui bentuk yang lebih bebas.
Kekuatan utama puisi-puisi Zikri Amanda Hidayat terletak pada penggunaan metafora dan simbol. Pengalaman tentang rindu, kehilangan, cinta, keluarga, dan kedewasaan tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui gambaran alam dan benda-benda di sekitar manusia.
Dengan gaya yang liris, reflektif, metaforis, dan cenderung melankolis, kelima puisi tersebut membentuk sebuah perjalanan emosional: dari seseorang yang menanti, tersesat, belajar memahami kehidupan, mengenang sosok ayah, hingga akhirnya menerima karamnya sebuah hubungan.
Kumpulan puisi ini pada akhirnya berbicara tentang satu hal yang dekat dengan pengalaman manusia: perjalanan mencari makna pulang, bahkan ketika tempat atau sosok yang dirindukan tidak lagi dapat ditemukan.
Berikut lima puisi karya Zikri Amanda Hidayat :
1. REGONIKSI
: Difitria O
Entah butuh berapa kali kelahiran purnama itu
Entah sampai kapan aku selalu menanti cahayamu menyusup dada danauk
Waktu seakan tak pernah mampu menculik detak manismu
Meski tubuh hari berkali-kali mati di ingatan langit barat
Tak terasa tiap jalan yang dilalui takdir
Berlumpur suka-duka tentang ujung seberang hutan lindung
Mengotori kakiku yang gigil seraya luka dari serpihan dugaan harapan
Aku tersesat di tengah padang rumput
Mencari pohon beringin untuk kusinggahi menepi;
Menenangkan degup jantung terik matahari
Hawa panas rindu menyeretku mengenang laut kilau
Halimun genting mengaburkan pandang
Apakah kau ingat pulang?
Bagaimana Tuhan menciptakan sepasang mata teduh
Yang menggugurkan daun jiwa semiku
Kering tanpa sentuhan
Lenyap tanpa pelukan
Padang, 2025
2. NESTPA
: Intan RS
Burung-burung dari timur tak lagi memberi kabar
Barangkali bunga kembang di hutan telah di pagar oleh pemilik
Atau air jernih pada kaki gunung berhenti mengalir;
Tiada menyisakan lembap dan embun yang menyejukkan hati
Di sini, jiwa yang malang memeluk terik duga-duga
Sesekali hujan tanya jatuh membasahi kepala
Wahai pemilik mata safir
Apakah engkau diam-diam berlayar
Meninggalkan arloji berputar mundur tanpa tahu kapan berakhir
Lantas, tubuh tualang ke mana harus pulang?
Memanggul batu besar di langkah yang gamang
Hancur dalam ledakan bom waktu sebelum sempat berperang
Padang, 2025
3. BATU
Seorang bocah melempar batu ke kali
Batu tak banyak bicara, tak mengadu kepada angin
Tubuhnya suci belum ada jeritan malam menggores
Batu itu tenggelam dengan cepat seperti cahaya adalah rivalnya
Ribuan hari kemudian, ia mengenakan baju dari lumut-lumut
Dingin tak lagi ia hiraukan, sebab alir air menjadi napasnya
Banyak yang hanyut, segala macam benda mati membelai jiwanya
Hingga suatu ketika suara hujan bernyanyi
Ikan-ikan kecil yang entah menari-nari
Mereka mengira seseorang dari langit sedang memberi makan
Saat itu juga separuh tangan bagai tangan Tuhan
Memeluk tubuh batu yang licin
Dibersihkan lalu seseorang itu membawanya pulang
Membaringkan ia di pot pekarangan
Batu pun menyadari dunia ini luas
Dan ia hanya menyaksikan sebatang bunga tumbuh di antara tubuhnya
Padang, 2025
4. MENGEJA AYAH
Barangkali dari kerasmu
Kau sudah paham laut tidak memandang kapal
yang baru kering catnya untuk karam
Kau ingin membuatku terampil membaca gelombang dan badai
Meski sebelumnya kau berupaya di penjuru hidup ini
Menyediakan pondok-pondok pengingat pulang
Hingga batas jangkauanmu dalam mengajariku tentang waktu dan takdir
Kau tak pernah lupa mengambil jantungku
Lalu menulis pesan “kau harus lebih baik dariku”
Bekalku mengarungi samudra ketidakjelasan ujung bumi
Kompas jiwamu kubawa pergi: satu, lurus ke atas
Di seberang, kau senantiasa melambaikan tangan
Agar ketika hiu tiba-tiba merobek hatiku
Aku ingat, ambil tombak keberanian tersimpan di kotak ingatan
Kalah atau menang, kau dan aku tahu, hanya demam kekalahan sesungguhnya
Kini, sejauh ini, pohon tubuhmu yang mulai tua
Aku menjadi ranting-ranting kayu yang lebih dewasa patah di musim gugur
Aku tak perlu khawatir di mana aku tergeletak
Sebab matamu laksana sumur cermin yang menawan bulan purnama
Kelak, kau percaya bukan soal semata kupetik
kebiasaan-kebiasaanmu yang kerap kupertanyakan dulu
Namun gelapnya malam akan kulewati seperti mengenakan pakaian peranmu yang dingin
Bahwa keniscayaan pagi sungguh dapat kumiliki sebagai
kemenangan usai sidang mimpi-mimpi
Padang, 2025
5. KAPAL KECIL YANG KARAM
Dulu, kau menarikku dari pulau sepi itu
Dengan kapal kecil yang muat kita berdua saja
Mengarungi lautan komitmen rasa
Terombang-ambing naik turun pasang soal memahami cinta
Bintang-bintang kita petik laksana mimpi-mimpi
Mengeja gelombang sebagai penguat hati masing-masing
Bahkan badai takluk oleh kukuhnya keyakinan kau dan aku untuk bersama
Ribuan malam pun berlalu tanpa ragu
Lipatan hari berulang kali berganti hayat
Sore tetap menguburkan diri semata menyimpan hikayat
Tetapi suatu pagi yang dipenuhi wajah mendung
Bola mataku seakan kehilangan bundar
Bahwa ada ujung bening lembut menawan retina
Tampak kau seperti melambaikan tangan berdiri pada kapal pesiar
Dan barang sejenak kapal ini meledak waktu;
Sendirian
Lalu separuh hatiku tanggal menjadi angan
Separuh lagi tertinggal menjadi kenangan
Padang, 2025
BIODATA PENULIS
Zikri Amanda Hidayat dapat dipanggil secara akrab Izik. Lahir di Koto Rawang, Pesisir Selatan pada tanggal 02 Agustus 1999. Punya hobi menulis, membaca dan bulu tangkis. Buku yang telah terbit Sehimpun Rasa (Gupedia, 2021), Rentetan Tul
isan Tentang Konsekuensi Cinta (Guepedia, 2021), Tak Benar-benar Utuh (An-Nur Media, 2022) dan Mata Waktu (Diandra Kreatif, 2025)
No. WhatsApp : 081276237776
Instagram : @bhang_izhik
Penulis: Samsu
Editor: Ramses








