Lima Puisi Zikri Amanda Hidayat Hadirkan Perjalanan Batin Tentang Rindu, Kehilangan Hingga Makna Pulang

IMG-20260725-WA0116

LINGKARMEDIA.COM – Penyair Zikri Amanda Hidayat menghadirkan lima puisi yang membawa pembaca menyusuri perjalanan batin tentang kerinduan, kehilangan, pencarian makna, hubungan anak dan ayah, hingga perpisahan.

Kelima puisi tersebut masing-masing berjudul “Rekognisi”, “Nestapa”, “Batu”, “Mengeja Ayah”, dan “Kapal Kecil yang Karam”. Seluruh karya ditulis di Padang pada 2025.

Puisi-puisi tersebut memperlihatkan kecenderungan Zikri menggunakan alam sebagai medium untuk menyampaikan pengalaman emosional. Bulan, danau, hutan, padang rumput, laut, hujan, batu, bunga, hingga kapal menjadi simbol yang membawa pembaca pada pengalaman batin tokoh lirik.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Dalam puisi “Rekognisi”, penyair menghadirkan sosok yang terus menanti cahaya dan kehadiran seseorang yang dirindukan. Perjalanan hidup digambarkan sebagai jalan berlumpur yang penuh suka-duka, luka, dan dugaan harapan.

“Entah sampai kapan aku selalu menanti cahayamu menyusup dada danauku,” menjadi salah satu gambaran kuat tentang penantian yang terus berlangsung.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Kerinduan dan ketidakpastian juga terasa dalam puisi “Nestapa”. Burung-burung dari timur, bunga di hutan, air jernih di kaki gunung, hingga hujan menjadi bagian dari lanskap kesunyian tokoh lirik yang menunggu kabar.

Pertanyaan tentang kepulangan menjadi salah satu pusat kegelisahan dalam puisi tersebut.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

“Lantas, tubuh tualang ke mana harus pulang?” menjadi gambaran tentang seseorang yang kehilangan arah di tengah perjalanan hidup.

Berbeda dengan dua puisi sebelumnya, “Batu” menghadirkan benda sederhana sebagai tokoh utama. Sebuah batu yang dilempar ke kali kemudian menjalani perjalanan panjang bersama aliran air, lumut, hujan, ikan, hingga akhirnya dibawa pulang dan ditempatkan di sebuah pot pekarangan.

Melalui perjalanan tersebut, batu menjadi simbol tentang perubahan, ketabahan, dan kehidupan yang terus bergerak. Di tempat baru, batu kemudian menjadi saksi tumbuhnya sebatang bunga.

“Batu pun menyadari dunia ini luas,” tulis Zikri dalam salah satu bagian puisinya.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Sementara itu, puisi “Mengeja Ayah” menjadi karya yang paling personal dalam menggambarkan hubungan keluarga. Puisi tersebut mengisahkan seorang anak yang berusaha memahami kerasnya didikan seorang ayah sebagai bekal menghadapi kehidupan.

Ayah digambarkan sebagai kompas, tempat pulang, sekaligus sumber keberanian. Seiring bertambahnya usia, tokoh lirik mulai memahami bahwa berbagai nasihat dan kebiasaan sang ayah yang dahulu kerap dipertanyakan justru menjadi bekal untuk menghadapi dunia.

“Kau harus lebih baik dariku,” menjadi pesan yang menggambarkan harapan seorang ayah kepada anaknya.

Puisi terakhir, “Kapal Kecil yang Karam”, membawa pembaca pada kisah cinta dan perpisahan. Kapal kecil menjadi metafora hubungan yang dibangun oleh dua orang untuk mengarungi lautan komitmen dan perasaan.

Namun, perjalanan tersebut pada akhirnya berakhir. Sosok yang dicintai pergi, sementara tokoh lirik harus menghadapi kesendirian.

“Separuh hatiku tanggal menjadi angan, separuh lagi tertinggal menjadi kenangan,” menjadi penutup yang menggambarkan sisa-sisa hubungan setelah perpisahan.

Secara keseluruhan, kelima puisi tersebut memperlihatkan karakter puisi modern yang bebas dari keterikatan pada pola rima dan jumlah baris tertentu. Puisi modern memberi ruang bagi penyair untuk menyampaikan gagasan dan perasaan melalui bentuk yang lebih bebas.

Kekuatan utama puisi-puisi Zikri Amanda Hidayat terletak pada penggunaan metafora dan simbol. Pengalaman tentang rindu, kehilangan, cinta, keluarga, dan kedewasaan tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui gambaran alam dan benda-benda di sekitar manusia.

Dengan gaya yang liris, reflektif, metaforis, dan cenderung melankolis, kelima puisi tersebut membentuk sebuah perjalanan emosional: dari seseorang yang menanti, tersesat, belajar memahami kehidupan, mengenang sosok ayah, hingga akhirnya menerima karamnya sebuah hubungan.

Kumpulan puisi ini pada akhirnya berbicara tentang satu hal yang dekat dengan pengalaman manusia: perjalanan mencari makna pulang, bahkan ketika tempat atau sosok yang dirindukan tidak lagi dapat ditemukan.

Berikut lima puisi karya Zikri Amanda Hidayat :

1. REGONIKSI

: Difitria O

Entah butuh berapa kali kelahiran purnama itu

Entah sampai kapan aku selalu menanti cahayamu menyusup dada danauk

Waktu seakan tak pernah mampu menculik detak manismu

Meski tubuh hari berkali-kali mati di ingatan langit barat

Tak terasa tiap jalan yang dilalui takdir

Berlumpur suka-duka tentang ujung seberang hutan lindung

Mengotori kakiku yang gigil seraya luka dari serpihan dugaan harapan

Aku tersesat di tengah padang rumput

Mencari pohon beringin untuk kusinggahi menepi;

Menenangkan degup jantung terik matahari

Hawa panas rindu menyeretku mengenang laut kilau

Halimun genting mengaburkan pandang

Apakah kau ingat pulang?

Bagaimana Tuhan menciptakan sepasang mata teduh

Yang menggugurkan daun jiwa semiku

Kering tanpa sentuhan

Lenyap tanpa pelukan

Padang, 2025 

 

2. NESTPA

: Intan RS

Burung-burung dari timur tak lagi memberi kabar

Barangkali bunga kembang di hutan telah di pagar oleh pemilik

Atau air jernih pada kaki gunung berhenti mengalir;

Tiada menyisakan lembap dan embun yang menyejukkan hati

Di sini, jiwa yang malang memeluk terik duga-duga

Sesekali hujan tanya jatuh membasahi kepala

Wahai pemilik mata safir

Apakah engkau diam-diam berlayar

Meninggalkan arloji berputar mundur tanpa tahu kapan berakhir

Lantas, tubuh tualang ke mana harus pulang?

Memanggul batu besar di langkah yang gamang

Hancur dalam ledakan bom waktu sebelum sempat berperang

Padang, 2025 

3. BATU

Seorang bocah melempar batu ke kali

Batu tak banyak bicara, tak mengadu kepada angin

Tubuhnya suci belum ada jeritan malam menggores

Batu itu tenggelam dengan cepat seperti cahaya adalah rivalnya

Ribuan hari kemudian, ia mengenakan baju dari lumut-lumut

Dingin tak lagi ia hiraukan, sebab alir air menjadi napasnya

Banyak yang hanyut, segala macam benda mati membelai jiwanya

Hingga suatu ketika suara hujan bernyanyi

Ikan-ikan kecil yang entah menari-nari

Mereka mengira seseorang dari langit sedang memberi makan

Saat itu juga separuh tangan bagai tangan Tuhan

Memeluk tubuh batu yang licin

Dibersihkan lalu seseorang itu membawanya pulang

Membaringkan ia di pot pekarangan

Batu pun menyadari dunia ini luas

Dan ia hanya menyaksikan sebatang bunga tumbuh di antara tubuhnya

Padang, 2025

 

4. MENGEJA AYAH

Barangkali dari kerasmu

Kau sudah paham laut tidak memandang kapal

yang baru kering catnya untuk karam

Kau ingin membuatku terampil membaca gelombang dan badai

Meski sebelumnya kau berupaya di penjuru hidup ini

Menyediakan pondok-pondok pengingat pulang

Hingga batas jangkauanmu dalam mengajariku tentang waktu dan takdir

Kau tak pernah lupa mengambil jantungku

Lalu menulis pesan “kau harus lebih baik dariku”

Bekalku mengarungi samudra ketidakjelasan ujung bumi

Kompas jiwamu kubawa pergi: satu, lurus ke atas

Di seberang, kau senantiasa melambaikan tangan

Agar ketika hiu tiba-tiba merobek hatiku

Aku ingat, ambil tombak keberanian tersimpan di kotak ingatan

Kalah atau menang, kau dan aku tahu, hanya demam kekalahan sesungguhnya

Kini, sejauh ini, pohon tubuhmu yang mulai tua

Aku menjadi ranting-ranting kayu yang lebih dewasa patah di musim gugur

Aku tak perlu khawatir di mana aku tergeletak

Sebab matamu laksana sumur cermin yang menawan bulan purnama

Kelak, kau percaya bukan soal semata kupetik

kebiasaan-kebiasaanmu yang kerap kupertanyakan dulu

Namun gelapnya malam akan kulewati seperti mengenakan pakaian peranmu yang dingin

Bahwa keniscayaan pagi sungguh dapat kumiliki sebagai

kemenangan usai sidang mimpi-mimpi

 

Padang, 2025 

 

5. KAPAL KECIL YANG KARAM

Dulu, kau menarikku dari pulau sepi itu

Dengan kapal kecil yang muat kita berdua saja

Mengarungi lautan komitmen rasa

Terombang-ambing naik turun pasang soal memahami cinta

Bintang-bintang kita petik laksana mimpi-mimpi

Mengeja gelombang sebagai penguat hati masing-masing

Bahkan badai takluk oleh kukuhnya keyakinan kau dan aku untuk bersama

Ribuan malam pun berlalu tanpa ragu

Lipatan hari berulang kali berganti hayat

Sore tetap menguburkan diri semata menyimpan hikayat

Tetapi suatu pagi yang dipenuhi wajah mendung

Bola mataku seakan kehilangan bundar

Bahwa ada ujung bening lembut menawan retina

Tampak kau seperti melambaikan tangan berdiri pada kapal pesiar

Dan barang sejenak kapal ini meledak waktu;

Sendirian

Lalu separuh hatiku tanggal menjadi angan

Separuh lagi tertinggal menjadi kenangan

 

Padang, 2025 

 

BIODATA PENULIS

Zikri Amanda Hidayat dapat dipanggil secara akrab Izik. Lahir di Koto Rawang, Pesisir Selatan pada tanggal 02 Agustus 1999. Punya hobi menulis, membaca dan bulu tangkis. Buku yang telah terbit Sehimpun Rasa (Gupedia, 2021), Rentetan Tul

isan Tentang Konsekuensi Cinta (Guepedia, 2021), Tak Benar-benar Utuh (An-Nur Media, 2022) dan Mata Waktu (Diandra Kreatif, 2025)

No. WhatsApp : 081276237776

Instagram : @bhang_izhik

 

Penulis: Samsu

Editor: Ramses