Sejarah 8 Maret Sebagai Hari Perempuan Internasional

IMG-20260308-WA0221

LINGKARMEDIA.COM – Hari perempuan internasional yang kita peringati pada 8 Maret hari ini tak pernah lepas dari peluh perjuangan para buruh perempuan di pabrik-pabrik, para aktivis perempuan yang kemudian mewarnai tradisi protes dan aktivisme politik.

Sejumlah tokoh perempuan seperti Clara Zetkin lahir di masa itu. Mereka menggelorakan semangat para buruh perempuan dan  membawa persoalan kehidupan mereka ke dalam ruang-ruang politik yang lebih luas.

Pemikiran Clara Zetkin yang terkenal yaitu “pertanyaan perempuan” lahir dari perspektif sosialis. Selain membantu para buruh perempuan untuk melahirkan 8 Maret sebagai hari perempuan internasional, Zetkin kemudian meyakinkan banyak orang bahwa satu-satunya rute emansipasi bagi perempuan adalah keterlibatan perempuan dalam produksi dan menyingkirkan sistem kapitalisme.

Hari Perempuan Internasional pertama kali dirayakan pada tanggal 28 Februari 1909 di New York dan diselenggarakan oleh Partai Sosialis Amerika.

Demonstrasi yang dilakukan oleh para perempuan di Petrograd yang dilakukan pada tanggal 8 Maret 1917 memicu terjadinya Revolusi Rusia. Hari Perempuan Internasional secara resmi dijadikan sebagai hari libur nasional di Soviet Rusia pada tahun 1917, dan dirayakan secara luas di negara sosialis maupun komunis.

Hari Perempuan Internasional  lahir dalam pergolakan sosial yang besar, diwarnai dengan tradisi protes dan aktivisme politik. Bertahun-tahun sebelum tahun 1910, pada pergantian menuju abad 20, kaum perempuan di negara-negara yang tengah mengalami industrialisasi, mulai memasuki kerja upahan.

Pekerjaan mereka dipisahkan menurut jenis kelamin, dan umumnya kaum perempuan ditempatkan di industri tekstil, manufaktur, dan layanan-layanan domestik dimana kondisi-kondisinya sangat parah dan menyengsarakan.

Saat itu adalah masa dimana Serikat-Serikat Buruh tengah mengalami perkembangan dan di sisi lain sengketa-sengketa industrial mulai meletus, termasuk sengketa yang muncul diantara seksi-seksi pekerja perempuan yang tidak bergabung dalam serikat. Eropa saat itu tengah berada dalam kemungkinan terseret ke dalam api revolusi.

Banyak perubahan dalam kehidupan perempuan mendorong munculnya perlawanan terhadap batasan-batasan politik di sekitar mereka.

Di seluruh penjuru Eropa, Inggris, Amerika, dan kurang lebih juga di Australia, kaum perempuan dari seluruh lapisan sosial berjuang dan berkampanye untuk menuntut hak pilih dalam pemilihan umum. Terkait hal ini terdapat banyak sudut pandang berbeda atas mengapa isu ini menjadi suatu isu yang penting dan bagaimana cara untuk mencapai tuntutan itu.

Beberapa kelompok sosialis memandang bahwa tuntutan terhadap hak pilih terhadap perempuan kurang begitu penting

dalam gerakan kelas pekerja, sementara beberapa feminis sosialis dan pejuang perempuan lainnya seperti Clara Zetkin dari Jerman dan Alexandra Kollontai berhasil memperjuangkannya untuk diterima sebagai bagian penting dan tak terpisahkan dari program kelompok sosialis.

Sementara kaum sosialis lain menyatakan bahwa lebih penting untuk menghapus kepemilikan pribadi terlebih dahulu daripada berkampanye menuntut hak pilih yang mana kalau hal itu berhasil seperti di Inggris akan berakibat hak pilih juga untuk kaum perempuan dari kalangan berpunya.

Di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1903, serikat buruh perempuan dan perempuan profesional liberal yang berkampanye untuk hak pilih bagi perempuan mendirikan Liga Serikat Buruh Perempuan untuk membantu mengorganisir kaum perempuan yang berada di kerja upahan untuk memperjuangkan kepentingan politik dan kesejahteraan ekonomi mereka.

Tahun-tahun tersebut merupakan masa-masa pahit bagi banyak kaum perempuan yang berada dalam kondisi kerja yang parah dan tinggal di pemukiman kumuh serta rentan terhadap kekerasan.

Tahun 1908, pada Ahad terakhir di Februari, kaum perempuan sosialis di AS menyelenggarakan Hari Perempuan Nasional yang pertama dengan melancarkan demonstrasi besar untuk menuntut hak pilih bagi perempuan serta hak-hak ekonomi dan politiknya sekaligus. Tahun berikutnya sebanyak 2.000 orang turut menghadiri peringatan Hari Perempuan Nasional di Manhattan.

Di tahun 1909 tersebut, pekerja garmen perempuan melancarkan pemogokan massal. Dimana sebanyak 20.000 hingga 30.000 buruh perempuan mogok selama 13 minggu di suatu musim dingin demi menuntut upah yang lebih besar dan kondisi kerja yang lebih baik. Liga Serikat Buruh perempuan menyediakan dana bantuan bagi para demonstran baik untuk mendanai pemogokan massa itu sendiri maupun untuk membebaskan para demonstran yang ditangkap polisi.

Pada bulan Agustus 1910, Konferensi Perempuan Sosialis Internasional diselenggarakan menjelang pertemuan umum Sosialis Internasional Kedua di Kopenhagen, Denmark. Delegasi Jerman Clara Zetkin, Käte Duncker, Paula Thiede, dan lainnya mengusulkan pembentukan “Hari Perempuan” tahunan, meskipun tidak ada tanggal yang ditentukan. 100 delegasi, yang mewakili 17 negara, menyetujui gagasan tersebut sebagai strategi untuk mempromosikan hak yang sama, termasuk hak pilih perempuan.

Konferensi menyorot ulang mengenai pentingnya hak pilih bagi kaum perempuan, hak pilih yang tidak didasarkan oleh hak milik serta menyerukan suatu emansipasi universal hak pilih baik bagi kaum perempuan dan laki-laki dewasa.

Konferensi juga membahas mengenai manfaat-manfaat maternitas (keibuan) yang mana, meskipun ada intervensi dari Alexandra Kollontai atas nama ibu-ibu yang tidak menikah, hanya dimiliki oleh perempuan-perempuan yang menikah.

Selain hal itu juga diambil keputusan bersama untuk menentang kerja malam karena mempengaruhi kesehatan sebagian besar kaum pekerja perempuan meskipun dalam hal ini kaum pekerja perempuan menyatakan bahwa kerja malam diperlukan untuk menopang nafkah dan hidup mereka.

Pada 1911, jutaan perempuan di Eropa turun ke jalan menuntut hak pilih, kondisi kerja yang lebih baik, serta perlindungan dari diskriminasi.

Momentum ini terus berkembang hingga akhirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional (International Woman Day – IWD) pada tahun 1977.

Penetapan ini mendorong negara-negara anggota untuk merayakan pencapaian perempuan sekaligus memperjuangkan kesetaraan gender.

Hari Perempuan Internasional memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat global. Pertama, peringatan ini menjadi bentuk penghormatan atas kontribusi perempuan di berbagai bidang, mulai dari politik, ekonomi, pendidikan, hingga budaya.

Kedua, IWD menjadi pengingat bahwa diskriminasi gender masih terjadi di banyak tempat, sehingga perjuangan menuju kesetaraan belum selesai.

Selain itu, IWD juga mendorong aksi nyata berupa kebijakan yang mendukung hak perempuan, seperti akses pendidikan yang setara, kesempatan kerja yang adil, perlindungan hukum dari kekerasan.

Serta keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan. Setiap tahun, PBB dan UN Women menetapkan tema khusus untuk memperkuat pesan IWD. Tahun 2026, tema yang diangkat adalah “Hak. Keadilan. Aksi. Untuk semua Perempuan dan Anak Perempuan”.

Seiring berjalannya waktu, Hari Perempuan Internasional berkembang menjadi gerakan sosial global. Di banyak negara, peringatan ini dirayakan dengan demonstrasi menuntut kebijakan pro-perempuan, kampanye kesadaran publik, hingga kegiatan budaya yang menampilkan karya perempuan.

(Poster Jerman untuk Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 1914. Poster ini dilarang di Kekaisaran Jerman)

 

Penulis: Tim Ekopol

Editor: Ramses