Hari ini, 7 Desember; Wafatnya Tirto Adhi Soerjo

IMG-20251207-WA0016

LINGKARMEDIA.COM – Tujuh Desember, merupakan hari memperingati wafatnya Tirto Adhi Soerjo pada Minggu (7/12). Ia adalah Bapak Pers Indonesia dan tokoh Kebangkitan Nasional.

Sosok Tirto merupakan orang pertama di Indonesia yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia vokal dalam mengkritik pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu melalui surat kabar Medan Prijaji.

Tirto diketahui pernah bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi yang kemudian berganti nama menjadi Berita Betawi. Dia juga pernah memimpin redaksi Medan Prijaji yang berkantor di Bandung.

Sebagai seorang wartawan, ia sering menulis dengan gaya yang biasa diterapkan oleh T. Pangemanan dan Razoux Kuhr. Tirto aktif dalam mengkritik pemerintahan pada saat itu. Uniknya, kritik yang diberikan oleh Tirto dituang dalam bentuk cerita pendek yang dipublikasikan di surat kabarnya.

Dirinya pernah menciptakan moto yang cukup menyinggung pemerintahan Belanda pada masanya, bahkan sampai dianggap radikal. Di bawah surat kabar Medan Prijaji, ia pernah melontarkan moto “orgaan boeat bangsa jang terperintah di Hindia Belanda, tempat memboeka soearanja”. Moto yang disampaikan oleh Tirtohadisoerjo pada masa itu sudah dianggap radikal. Bandingkan dengan moto yang digunakan surat kabar lain

Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah ” pribumi ” ‘Indonesia asli’. Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903—1905), Medan Prijaji (1907—1912) dan Putri Hindia (1908). Akhirnya, Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan , dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara).

Kemudian, di bawah surat kabar Sinar Sumatra, ia pernah menulis “Kekallah keradjaan Wolanda, sampai mati setia kepada keradjaan Wolanda”.

Bukan hanya aktif dalam dunia pers, Tirto turut berkiprah dalam dunia pergerakan. Dia mendirikan Serikat Dagang Islam pada tahun 1911 di Bogor. Serikat Dagang Islam sendiri didirikan untuk memajukan ekonomi pedagang pribumi muslim yang saat itu harus bersaing dengan pedagang asing.

Sarekat Dagang Islam diubah menjadi Sarekat Islam setelah Tjokroaminoto masuk dalam organisasi tersebut di atas ajakan H. Samanhudi. Takashi Shiraishi dalam buku Zaman Bergerak menyebut Tirto Adhi Soerjo sebagai orang bumiputra pertama yang menggerakkan bangsa dengan bahasanya melalui Medan Prijaji.

Dia adalah salah satu tokoh yang tulisannya sering disebut sebagai bacan politik atau “bacaan liar” dalam dunia sastra. Dia adalah orang yang pertama kali merintis perlunya bacaan untuk rakyat Hindia yang tidak terdidik.

Memulai karya politiknya dengan menulis “Boycott” yang terbit di bawah surat kabar Medan Prijaji. Artikel ini digunakan oleh Tirto untuk membela kaum yang lemah dalam melawan pemilik perusahaan gula.

Dalam artikelnya ini, Tirto menyuarakan aksi boikot yang dilakukan oleh orang Tionghoa karena perusahaan Eropa yang menolak permintaan mereka untuk memperoleh barang. Akibatnya, 24 perusahaan milik Eropa di Surabaya gulung tikar. Artikel ini merupakan bentuk penentangan terhadap pemimpin yang diktator.

Artikel “Boycott” yang ditulis oleh Tirto tersebut berhasil menyadarkan banyak orang akan pentingnya bacaan-bacaan politik untuk membuka mata dan daya kritis orang pribumi pada saat itu.

Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Indonesia, wafat; ia pelopor kritik kolonial melalui surat kabar. Hari ini, Minggu (7/12/2025) diperingati sebagai Hari Wafatnya Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Indonesia dan tokoh kebangkitan nasional. Tirto Adhie Soerjo, sempat jadi Mahasiswa Kedokteran. Dilansir dari website Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora pada 1880 dan meninggal pada 7 Desember 1918.

Sebagai seorang wartawan ia adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia. Dia juga dikenal sebagai perintis per surat kabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat TAS.

Penulis: Tim Literasi Global

Editor: Ramses