Bendungan Mrica Banjarnegara Dalam Keadaan Kritis
Banjarnegara, lingkarmedia.com – Saat ini bendungan Mrica yang dibangun untuk membendung aliran Sungai Serayu masih dalam keadaan kritis.
Penyebabnya adalah sedimentasi atau pelumpuran yang terjadi secara besar-besaran akibat erosi di sepanjang sungai Serayu, terutama di daerah hulu sungai di wilayah Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara.
Erosi terus menerus terjadi sebagai akibat praktik pertanian yang tidak mempertimbangkan konservasi lingkungan seperti penggunaan lereng-lereng bukit yang kemiringannya tinggi, penggunaan sistem tanam tegak lurus garis kontur, pemberantasan hama dengan pestisida secara berlebihan serta banyaknya penyiraman tanaman menggunakan air bor dan air telaga.
Selain itu, kerusakan lingkungan menjadi semakin parah ketika banyak bagian hutan yang harusnya dilestarikan ditebang dijadikan lahan pertanian kentang dan sayur-mayur. Dampaknya, perbukitan mengalami erosi dan bermuara pada pendangkalan serius waduk Mrica.
Sedimentasi yang terjadi di waduk Mrica mengancam keberlanjutan PLTA Mrica Bawang yang menjadi salah satu sumber pembangkit listrik tenaga air bagi wilayah Jawa dan Bali.
Menurut kajian PT. Indonesia Power, tingkat sendimentasi awal pengoperasian waduk ini diperkirakan hanya 2,4 juta m³/tahun sehingga waduk diharapkan dapat beroperasi selama 60 tahun, hingga 2049.
Faktanya, volume sendimentasi tiap tahun cenderung meningkat, yakni berturut-turut 4,4 juta m³ (2016), 4,06 juta m³ (2017), 2,2 juta m³ (2018), 2,9 juta m³ (2019), 2,7 jutam³ (2020) dan 6,6 juta m³ (2021).
Menurut studi Fitcher (2014), bila flushing dilakukan sebagaimana biasa berdasarkan SOP selama ini (tanpa adanya tambahan volume pembuangan sedimen), kapasitas reservoir diperkirakan akan habis di 2025.
Artinya, fungsi PLTA tak lama lagi berakhir, atau setidaknya tak dapat berfungsi normal. Oleh karena itu, upaya pengurangan sendimen harus dilakukan bila umur reservoir ingin difungsikan hingga 2049.
Untuk mengurangi besarnya endapan sendimen pada waduk, PT. Indonesia Power secara rutin melakukan penggelontoran lumpur (flushing).
Terkait upaya penanganan ekstra, terjadi musibah diakibatkan longsornya endapan di area waduk saat flushing. Pada saat itu, flushing terpaksa dilakukan dalam volume lebih besar dari biasanya untuk mencegah tertutupnya mesin pembangkit listrik oleh lumpur.
Penulis: Tim
Editor: Redaksi








