Fakta dan Sejarah Penghapusan Perbudakan di Mauritius

IMG-20260201-WA0030

LINGKARMEDIA.COM – Mauritius adalah negara kepulauan di Samudra Hindia yang mengalami sejarah panjang yang menyakitkan terkait Perbudakan pada masa lalunya.

Masalalu yang pahit itu mereka kenang sebagai hari Penghapusan Perbudakan, dan diperingati setiap tahun pada tanggal 1 Februari.

Undang-Undang Penghapusan Perbudakan tahun 1833, oleh parlemen Inggris, mulai diberlakukan setahun kemudian, dengan sebagian besar koloni Inggris membebaskan orang Afrika yang diperbudak yang tersebar di Karibia dan Afrika Selatan.

Pada tahun 1835, Mauritius mengikuti langkah tersebut, dan secara resmi menjadi koloni Inggris terakhir yang memperoleh kebebasan.

Saat ini pulau tropis dengan populasi 1,2 juta orang ini menjadi daftar destinasi mewah yang menawarkan pemandangan, pantai, laguna, dan terumbu karang terindah. Ironi yang mengejutkan dari masa lalu peradaban di Mauritius.

Mauritius, berada lebih dari 702 mil di sebelah timur Madagaskar, terletak di lepas pantai tenggara Afrika. Asal usulnya bermula dari penemuan orang-orang dari Arab dan Melayu tahun 1507 dan menamakan pulau itu Cirné sebelum bangsa Eropa-Portugis datang pada tahun 1510.

Tahun 1598, Belanda mengambil alih dan mengganti namanya menjadi sesuai nama kepala negara mereka, Maurice dan dari sana, secara resmi mulai mendapat pengakuan sejak awal abad ke-16.

Di tahun 1640-an, Belanda pertama kali mendatangkan budak. Di bawah pimpinan komandan Mauritius, Adriaan van der Stel, seratus budak didatangkan.

Pemerintah Belanda melakukan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap para budak, dan setiap upaya perlawanan membawa konsekuensi hukuman yang mengerikan.

Abad ke-17, pulau ini menjadi tempat tinggal bagi sekitar 200 orang Belanda bersama para budak dari Madagaskar, Afrika, India, dan Jawa.

Pada tahun 1710, setelah kondisi yang tidak lagi menguntungkan bagi Belanda, mereka pergi meninggalkan pulau ini dan Inggris mengambil alih pada tahun 1810. Saat itu, pulau ini dihuni oleh sebagian besar budak dari Madagaskar dan Afrika Timur.

Para pemilik perkebunan diberi kompensasi dua juta Poundsterling atas hilangnya perbudakan. Mauritius yang dijajah oleh Belanda, Prancis, dan Inggris akhirnya merdeka tahun 1968.

Penulis: Tim Literasi Global

Editor: Ramses