Saat Panglima Besar Jendral Sudirman Berpulang

FB_IMG_1769943076091

“Titip anak-anak… Tolong aku dibimbing tahlil…” Ucapan terakhir Jenderal Besar Soedirman

LINGKARMEDIA.COM – Di penghujung Januari 1950, Magelang diselimuti udara sejuk yang sarat duka. Di sebuah wisma tentara di Badakan, terbaring seorang ksatria republik. Tubuhnya rapuh, digerogoti penyakit, namun jiwanya tetap tegak seperti tiang bendera Merah Putih. Dialah Panglima Besar Jenderal Soedirman, penjaga kehormatan bangsa, yang sedang menapaki medan juang terakhirnya, bukan lagi melawan penjajah, melainkan melawan takdir.

Beberapa tahun sebelumnya, ia kembali dari Madiun dengan hati yang teriris. Pemberontakan 1948 memaksanya menyaksikan tragedi paling menyakitkan: anak bangsa saling mengangkat senjata. Dengan langkah tertatih, ia memasuki rumahnya di Bintaran Wetan, Yogyakarta. Kepada istrinya tercinta, Siti Alfiah, ia berucap lirih, matanya tak sanggup terpejam setelah melihat darah sesama rakyat tumpah di tanah merdeka.

Malam itu, Panglima memilih mandi dengan air dingin. Bukan karena keras kepala, melainkan karena disiplin dan kesederhanaan telah menyatu dengan hidupnya. Keputusan kecil itu menjadi awal ujian besar. Esok harinya, tubuh sang jenderal tumbang. Dokter menyatakan ia mengidap tuberkulosis paru. Satu paru-parunya harus “diistirahatkan”, namun semangat juangnya tak pernah mengenal kata istirahat. Dari ranjang rumah sakit Panti Rapih, ia masih menulis sajak “25 Tahun Rumah Nan Bahagia” ungkapan terima kasih kepada para perawat, bukti bahwa bahkan dalam derita, ia tetap manusia besar yang berterima kasih.

Namun panggilan ibu pertiwi selalu lebih lantang dari rasa sakit. Ketika Agresi Militer Belanda II meletus pada 19 Desember 1948, Soedirman bangkit. Dengan tubuh separuh sakit, ia memimpin Perang Gerilya selama delapan bulan dari atas tandu. Hujan, lapar, dan dentum peluru tak sanggup mematahkan tekadnya. Di hutan-hutan dan lereng gunung Jawa, ia menjelma simbol keteguhan bangsa: tubuh boleh rapuh, tetapi jiwa tak pernah tunduk.

Usai Belanda menyatakan gencatan senjata Oktober 1949, kondisinya kian melemah. Ia memilih beristirahat di lereng Magelang, memandang Gunung Sumbing seolah gunung itu menjadi saksi bisu perjalanan seorang prajurit sejati. Namun naluri keprajuritannya tahu, waktu pengabdian hampir usai. Pada 18 Januari 1950, ia memanggil para perwira tinggi, di antaranya Ahmad Yani dan Gatot Soebroto, ia menitipkan pesan terakhir dengan ketenangan seorang panglima yang telah menunaikan tugas sejarahnya.

Pagi 29 Januari 1950, wajahnya tampak teduh. Menjelang malam, seusai salat magrib, ia memanggil istrinya ke sisi ranjang. Dengan suara parau yang nyaris hilang, ia berbisik bukan tentang pangkat, bukan tentang jasa, melainkan tentang iman dan keluarga

“Bu, aku sudah tidak kuat. Titip anak-anak. Tolong aku dibimbing tahlil.”

Siti Alfiah menuntunnya melafazkan Laa ilaha illallah. Dalam pelukan istri setia yang menemani seluruh pengabdian hidupnya, Jenderal Besar Soedirman menghembuskan napas terakhir, dengan nama Allah di bibir, dan Indonesia di dadanya.

Di halaman rumah, bendera Merah Putih perlahan turun setengah tiang, seakan bergerak oleh kehendak sejarah. Alam pun berduka, memberi hormat terakhir kepada panglima suci, yang tak pernah menyerah pada perang, pada sakit, ataupun pada nasib.

Jasamu abadi, Jenderal.

Namamu akan selalu hidup dalam nadi Republik.

Penulis : Tim Literasi Global

Editor : Samsu