Antisipasi Risiko Bencana, Perhutani Jombang Bersama Muspika Tutup Wisata Kali Grojokan Duwur
LINGKARMEDIA.COM – Upaya antisipasi terhadap potensi bencana alam terus dilakukan berbagai pihak, terutama di kawasan wisata alam yang memiliki tingkat risiko tinggi. Salah satu langkah tegas diambil Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Jombang melalui Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Krondong yang bekerja sama dengan Muspika Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dengan menutup sementara objek wisata Kali Grojokan Duwur.
Penutupan ini dilakukan pada Jumat, 17 April 2026, di kawasan wisata yang berada di Desa Sumbermiri, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk pencegahan terhadap potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan pengunjung, mengingat kondisi geografis lokasi yang dinilai cukup ekstrem dan rawan bencana.
Dalam kegiatan penutupan tersebut, pihak Perhutani bersama Muspika tidak hanya menghentikan aktivitas wisata, tetapi juga memasang plang himbauan di sejumlah titik strategis. Plang tersebut berisi larangan bagi masyarakat maupun wisatawan untuk melakukan aktivitas apapun di area Kali Grojokan Duwur, termasuk berenang, berkemah, maupun sekadar berkunjung.
Asper/KBKPH Krondong, Marsono, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek keselamatan. Ia menegaskan bahwa kondisi lokasi wisata yang memiliki tebing tinggi serta struktur tanah yang labil sangat berpotensi menimbulkan longsor, terutama di tengah perubahan cuaca yang tidak menentu.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
“Penutupan ini merupakan langkah preventif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kawasan wisata Kali Grojokan Duwur berada di area hutan dengan kondisi medan yang ekstrem. Risiko tanah longsor cukup tinggi, sehingga sangat membahayakan keselamatan pengunjung,” ujar Marsono.
Ia menambahkan bahwa penutupan ini bersifat sementara dan akan terus dievaluasi secara berkala. Hingga saat ini, belum dapat dipastikan kapan objek wisata tersebut akan kembali dibuka untuk umum. Keputusan pembukaan kembali nantinya akan mempertimbangkan kondisi cuaca, stabilitas tanah, serta hasil kajian dari pihak terkait.
Turut hadir dalam kegiatan pemasangan plang penutupan tersebut sejumlah unsur Muspika dan perangkat desa setempat. Di antaranya jajaran BKPH Krondong, perwakilan dari Polsek Lengkong yang diwakili Kanit Reskrim, Kanit Binmas, serta Bhabinkamtibmas. Selain itu, Babinsa, Kepala Desa Sumbermiri Suryadi, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wono Joyo Langgeng, serta Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) juga ikut serta dalam kegiatan tersebut.
Lihat juga: https://www.facebook.com/share/1AsvdQn4uw/
Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan sinergi antara Perhutani, aparat keamanan, dan pemerintah desa dalam menjaga keselamatan masyarakat. Kolaborasi ini dinilai penting, terutama dalam pengelolaan kawasan wisata berbasis alam yang memiliki tingkat risiko tinggi.
Kepala Desa Sumbermiri, Suryadi, menyampaikan dukungannya terhadap langkah yang diambil Perhutani. Ia menilai bahwa keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dibandingkan kepentingan ekonomi dari sektor wisata.
“Kami dari pemerintah desa sangat mendukung penutupan sementara ini. Keselamatan warga dan pengunjung jauh lebih penting. Kami juga akan membantu menyosialisasikan kepada masyarakat agar mematuhi himbauan ini,” ungkap Suryadi.
Lihat juga : https://x.com/LingkarMed
Selain itu, pihak LMDH Wono Joyo Langgeng juga menyatakan siap bekerja sama dalam menjaga kawasan tersebut selama masa penutupan. Mereka akan membantu melakukan pengawasan agar tidak ada pengunjung yang nekat memasuki area yang telah ditutup.
Penutupan wisata Kali Grojokan Duwur ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan dalam mengelola destinasi wisata alam. Keindahan alam yang ditawarkan memang menjadi daya tarik tersendiri, namun di sisi lain juga menyimpan potensi bahaya yang tidak bisa diabaikan.
Apalagi dalam beberapa waktu terakhir, kondisi cuaca di sejumlah wilayah di Jawa Timur cenderung tidak stabil. Curah hujan yang tinggi dapat meningkatkan risiko tanah longsor, terutama di kawasan dengan kontur tanah yang curam dan labil seperti di Kali Grojokan Duwur.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang. Mengabaikan larangan tidak hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga dapat menyulitkan petugas jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Perhutani KPH Jombang juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian dan keamanan kawasan hutan. Selain sebagai tempat wisata, kawasan tersebut juga memiliki fungsi ekologis yang penting, seperti menjaga keseimbangan lingkungan dan mencegah terjadinya bencana alam.
Dengan adanya penutupan sementara ini, diharapkan dapat memberikan waktu bagi pihak terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kawasan. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana yang bertujuan untuk meminimalisir risiko dan melindungi keselamatan masyarakat.
Ke depan, diharapkan pengelolaan wisata alam dapat dilakukan secara lebih optimal dengan memperhatikan aspek keselamatan, kelestarian lingkungan, serta kenyamanan pengunjung. Edukasi kepada masyarakat juga menjadi hal penting agar kesadaran terhadap potensi risiko di kawasan wisata alam semakin meningkat.
Penutupan wisata Kali Grojokan Duwur mungkin menjadi kabar yang kurang menyenangkan bagi para pecinta wisata alam. Namun, langkah ini merupakan keputusan yang bijak demi keselamatan bersama. Semua pihak diharapkan dapat memahami dan mendukung kebijakan tersebut hingga kondisi dinyatakan benar-benar aman untuk kembali dibuka.
Penulis : Erick Marizta
Editor : Samsu








