Ancaman El Nino “Godzilla”: Cuaca Ekstrem Yang Mengguncang Dunia
LINGKARMEDIA.COM – Fenomena iklim ‘Godzilla’ El Nino diprediksi bakal membuat cuaca di Indonesia dan sejumlah negara di dunia semakin panas dalam beberapa bulan ke depan. Lantas, apa itu Godzilla El Nino?
Tahun ini bukan El Nino biasa yang datang bertamu. Para ahli meteorologi dan iklim global mulai menyuarakan alarm peringatan tentang potensi munculnya “Super El Nino” atau yang secara dramatis dijuluki sebagai El Nino ‘Godzilla’ karena kekuatannya yang dahsyat.
Istilah “Godzilla” sebenarnya tidak ada dalam kamus resmi sains iklim, yang hanya membagi El Nino menjadi kategori lemah, sedang, dan kuat.
Sebutan ini pertama kali dipakai oleh ilmuwan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Bill Patzert, pada 2015 untuk menggambarkan kekuatan El Nino yang luar biasa besar.
Nama monster ikonik tersebut dipilih untuk menggambarkan betapa masif dan destruktifnya dampak yang bisa ditimbulkan oleh pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur ini terhadap iklim global.
El Nino ‘Godzilla’ juga memiliki reputasi buruk sebagai “pabrik” gelombang panas global. Fenomena ini melepaskan energi panas dalam jumlah masif ke atmosfer, memicu lonjakan suhu global yang ekstrem.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, nama monster ini kembali muncul karena ada kemungkinan gabungan beberapa fenomena iklim yang memperluas dampak kekeringan. Tujuannya adalah sebagai peringatan dini agar publik bersiap, bukan untuk memicu kepanikan.
“‘Godzilla’ El Niño + IOD Positif, kedengarannya keren, tapi dampaknya enggak main-main. Kemarau bisa jadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan makin jarang turun di Indonesia. Awan pun lebih banyak ‘nongkrong’ di Pasifik sedangkan kita kebagian panasnya aja,” tulis BRIN di Instagramnya.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena ini berdampak pada musim kemarau di Indonesia yang lebih panjang dan kering.
Secara sederhana, El Nino ‘Godzilla’ adalah fase ekstrem di mana suhu air laut di Pasifik meningkat jauh di atas normal secara konsisten.
Kenaikan suhu yang drastis ini mengganggu pola angin passat dan arus laut global, yang pada gilirannya mengacaukan distribusi curah hujan di seluruh dunia, memicu kekeringan parah di satu sisi bumi dan banjir bandang di sisi lainnya.
Bagi wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kedatangan El Nino ‘Godzilla’ identik dengan mimpi buruk kekeringan panjang. Curah hujan yang turun drastis akan membuat lahan pertanian meranggas, menyebabkan gagal panen massal yang mengancam ketahanan pangan nasional.
Kombinasi antara gagal panen, krisis air, kebakaran hutan, dan bencana alam lainnya akan memberikan pukulan telak bagi perekonomian global.
Harga pangan dunia diprediksi akan melambung tinggi akibat menyusutnya suplai. Biaya penanggulangan bencana dan rehabilitasi infrastruktur akan membengkak, menguras anggaran negara dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, terutama di negara-negara berkembang.
Pasokan air bersih pun akan menyusut drastis, memicu krisis air di berbagai daerah. Dampak paling mengerikan dari kekeringan ekstrem ini adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) secara eksponensial.
Lahan gambut yang mengering akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Kebakaran hebat tidak hanya menghancurkan ekosistem, tetapi juga menghasilkan kabut asap pekat yang melumpuhkan aktivitas dan mengancam kesehatan jutaan jiwa, bahkan hingga ke negara tetangga.
Sementara Indonesia “dipanggang” oleh kekeringan, wilayah Amerika Selatan seperti Peru dan Ekuador justru harus bersiap menghadapi amukan banjir bandang dan tanah longsor akibat curah hujan yang ekstrem.
Di sisi lain Pasifik, Australia juga terancam oleh gelombang panas yang menyengat dan kebakaran semak yang mematikan, seperti yang terjadi pada periode El Nino kuat sebelumnya.
Kemudian, fenomena IOD positif di Samudra Hindia diindikasikan dengan pendinginan suhu permukaan laut di dekat Sumatra dan Jawa, sehingga menyebabkan wilayah di Indonesia mengalami pengurangan hujan yang signifikan.
Menurut model prediksi musim yang dikembangkan BRIN, kemarau yang bersifat kering pada periode April hingga Juli terjadi di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur.
Sebaliknya, wilayah Sulawesi, Maluku, dan Halmahera sebagian besar masih akan mengalami curah hujan tinggi.
Mengutip penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) GAW Bariri, peluang munculnya El Nino melonjak hingga 62 persen pada Juni hingga Agustus 2026.
Angin pembawa uap air akan melemah, sehingga perairan Indonesia mendingin dan hujan makin jarang turun.
Dampak langsung dari fenomena ini adalah menyusutnya air waduk, sumur kering, gangguan irigasi, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan.
Hal itu memberi catatan khusus untuk wilayah Sulawesi Tengah yang sudah menunjukkan tanda-tanda kekeringan sejak Februari 2026.
Donggala, Parigi Moutong, dan Sigi menjadi daerah yang merasakan dampak paling awal. Warga di kawasan tersebut berpotensi menghadapi risiko sumur mengering, debit mata air mengecil, hingga tanah pertanian retak.
Sekitar 52 persen wilayah Sulawesi Tengah diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal. Petani diimbau segera menyesuaikan waktu tanam dan memilih bibit yang tidak butuh banyak air.
Sebanyak 44,8 persen wilayah berpotensi mengalami musim kemarau yang durasinya lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.
Penurunan curah hujan akan terasa bertahap mulai Juni, meluas pada Juli, dan mencapai puncaknya pada September 2026.
Sebelumnya, European Center for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF), lembaga meteorologi independen dari Eropa, mengeluarkan pemodelan terbaru mengenai perkembangan El Nino.
Melansir IFL Science, hasil pemodelan mereka menunjukkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik diprediksi melonjak tajam dalam enam bulan ke depan.
Lonjakan suhu di samudra yang berada di sebelah timur wilayah Indonesia itu menjadi dasar prakiraan terbentuknya El Nino pada Agustus mendatang. Model ini menyatakan ada kemungkinan 22 persen potensi terbentuknya El Nino super, 80 persen peristiwa besar (strong), dan 98 persen peristiwa moderat.
Ketika El Nino muncul dengan kekuatan luar biasa, fenomena ini disebut ‘Godzilla El Nino’.
Fenomena ini terakhir terjadi pada 2015-2016 akibat suhu sangat tinggi di bagian timur Samudra Pasifik. Fenomena saat itu memicu serangkaian bencana alam di sejumlah tempat.
Menghadapi ancaman monster cuaca ini, pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia, tidak boleh tinggal diam. Langkah-langkah mitigasi harus segera diambil, mulai dari penyiapan cadangan pangan strategis, optimalisasi infrastruktur irigasi, pemantauan ketat titik api Karhutla, hingga edukasi masyarakat mengenai penghematan air dan kesiapsiagaan bencana.
Meskipun teknologi prediksi cuaca semakin maju, alam selalu memiliki elemen kejutan. El Nino ‘Godzilla’ adalah pengingat betapa rentannya peradaban manusia di hadapan kekuatan alam yang ekstrem.
Kesiapsiagaan, adaptasi, dan kerja sama global dalam menghadapi perubahan iklim adalah kunci utama untuk bertahan dari amukan sang “monster” cuaca.
Penulis: Tim Respon Bencana
Editor: Ramses








