Grebek Suro dan Kirab Lesung Meriahkan Selamatan Desa Sumberejo ke-116

IMG_20260615_173005

LINGKARMEDIA.COM – Suasana penuh semangat kebersamaan dan nuansa budaya Jawa mewarnai peringatan Selamatan Desa Sumberejo ke-116 yang digelar pada Senin (15/6/2026). Bertepatan dengan malam satu Suro dalam penanggalan Jawa, masyarakat Desa Sumberejo menggelar rangkaian acara Grebek Suro yang berlangsung meriah dengan menampilkan Kirab Lesung sebagai ikon budaya desa.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Desa Sumberejo dan Kelompok Penggali Kubur (KPK) atau Rukun Kematian yang selama ini dikenal aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Acara berhasil menarik perhatian masyarakat dari berbagai wilayah yang datang untuk menyaksikan prosesi budaya yang sarat makna tersebut.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/wonosobo-night-fashion-carnival-2026-makin-meriah-bidik-masuk-karisma-event-nasional/

Kepala Desa Sumberejo, Drs. Riyanto, menjelaskan bahwa pelaksanaan Grebek Suro tahun ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap pelestarian tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Menurutnya, ide penyelenggaraan kegiatan berasal dari Kelompok Penggali Kubur yang dipimpin oleh Kasnadi. Kelompok tersebut memiliki gagasan untuk menggabungkan tradisi selamatan desa dengan momentum malam satu Suro sehingga menghasilkan sebuah perayaan budaya yang tidak hanya sakral tetapi juga mampu menjadi daya tarik wisata lokal.

“Kelompok penggali kubur memiliki inisiatif untuk melakukan kegiatan yang dibarengkan dengan selamatan desa dan malam satu Suro,” ujar Riyanto.

Prosesi kirab dimulai dari Dusun Santrean dan Dusun Sumbersari menuju Balai Desa Sumberejo. Sepanjang perjalanan, masyarakat memadati sisi jalan untuk menyaksikan arak-arakan yang berlangsung meriah.

Daya tarik utama dalam kirab tersebut adalah lesung kuno milik warga bernama Rustamaji yang dihias dengan berbagai hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, dan hasil pertanian lainnya. Hiasan tersebut melambangkan rasa syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus menjadi simbol sedekah bumi yang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat agraris Jawa.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Tidak hanya lesung, warga dari berbagai dusun juga membawa “Jodang”, yaitu wadah berisi hasil bumi dan aneka makanan tradisional yang menjadi bagian dari prosesi budaya. Kehadiran jodang menambah semarak barisan kirab sekaligus memperlihatkan kekayaan budaya dan gotong royong masyarakat Desa Sumberejo.

Kemeriahan acara semakin terasa dengan keterlibatan 14 kelompok kesenian yang berasal dari berbagai wilayah desa. Beragam pertunjukan tradisional ditampilkan untuk menghibur masyarakat, mulai dari seni Sanduk, Jaran Kepang, Bantengan, hingga penampilan Drum Band yang ikut memeriahkan suasana.

Riyanto mengatakan bahwa partisipasi kelompok seni tersebut merupakan upaya untuk memberikan ruang kepada para pelaku budaya lokal agar tetap dapat berkarya dan mempertahankan eksistensi kesenian tradisional di tengah perkembangan zaman.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Pemerintah Desa Sumberejo juga memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut. Untuk menyukseskan penyelenggaraan Grebek Suro dan Selamatan Desa, pemerintah desa mengalokasikan anggaran sekitar Rp20 juta yang bersumber dari APBD desa.

Menurut Riyanto, tujuan utama dari kegiatan tersebut bukan semata-mata hiburan, melainkan untuk mempererat hubungan sosial antar warga dan menumbuhkan semangat kebersamaan dalam membangun desa.

“Harapannya, ke depan semangat kebersamaan masyarakat semakin meningkat dan Desa Sumberejo bisa gemah ripah loh jinawi,” tuturnya.

Setelah prosesi kirab berakhir menjelang waktu Maghrib, rangkaian acara dilanjutkan pada malam hari dengan pertunjukan hiburan Campursari yang dipusatkan di halaman Kantor Desa Sumberejo. Kehadiran penyanyi campursari Silvi Kumalasari sebagai bintang tamu berhasil menarik antusiasme masyarakat yang memadati area panggung.

Bagi warga, malam satu Suro bukan hanya momentum spiritual dan budaya, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi yang mempertemukan masyarakat dari berbagai dusun dalam suasana penuh kekeluargaan. 

Di balik suksesnya pelaksanaan Kirab Lesung, terdapat sosok Rustamaji atau yang akrab disapa Jasam. Pria berusia 70 tahun tersebut dikenal sebagai penggagas sekaligus pendiri Kirab Lesung yang kini menjadi ikon budaya Desa Sumberejo.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Sebagai pemilik lesung kuno yang digunakan dalam prosesi kirab, Rustamaji memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian budaya Jawa. Ia mengaku termotivasi untuk terus menjaga keberadaan tradisi tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.

“Hanya ingin melestarikan budaya Jawa saja,” ujar Rustamaji saat menjelaskan alasan di balik konsistensinya merawat dan memperkenalkan tradisi lesung kepada masyarakat.

Selain aktif di bidang kebudayaan, Rustamaji juga dikenal sebagai anggota Kelompok Penggali Kubur yang selama ini bergerak dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Bersama anggota lainnya, ia membantu warga yang mengalami musibah tanpa mengharapkan imbalan maupun biaya.

Dedikasi Rustamaji menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan semangat kemanusiaan dan gotong royong. Melalui Kirab Lesung dan Grebek Suro, masyarakat Desa Sumberejo berharap tradisi leluhur tetap hidup serta dapat diwariskan kepada generasi muda sebagai identitas budaya yang patut dibanggakan.

Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, Pemerintah Desa Sumberejo berkomitmen menjadikan Grebek Suro dan Kirab Lesung sebagai agenda tahunan yang mampu memperkuat nilai budaya, sosial, dan persaudaraan di tengah masyarakat.

 

Penulis: Samsu

Editor: Ramses