Mahasiswa Kembali Turun ke Jalan, Gelar Aksi Besar-besaran di Jakarta Usung Enam Tuntutan

IMG-20260615-WA0073_copy_446x297

LINGKARMEDIA.COM – Gelombang demonstrasi mahasiswa kembali mengguncang Ibu Kota. Sejumlah organisasi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil menggelar aksi unjuk rasa di beberapa titik strategis Jakarta pada Senin (15/6/2026). Aksi tersebut merupakan lanjutan dari demonstrasi yang sebelumnya digelar pada Jumat (12/6/2026) dan menjadi bentuk protes terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

Massa aksi yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan membawa sejumlah tuntutan yang mencakup isu ekonomi, pendidikan, hingga demokrasi. Mereka menyoroti kondisi perekonomian nasional yang dinilai semakin membebani masyarakat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM), serta mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap perlu dievaluasi.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/tiyo-ardianto-buka-suara-soal-aksi-penolakan-di-ugm-singgung-dugaan-massa-bayaran/

Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat sedikitnya empat aksi demonstrasi yang berlangsung di lokasi berbeda di Jakarta pada hari yang sama. Titik pertama berada di kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, yang berdekatan dengan kawasan Monumen Nasional (Monas).

Aksi di lokasi tersebut diawali oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Bung Karno (BEM UBK) yang mulai melakukan unjuk rasa sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka menyampaikan berbagai aspirasi terkait kondisi sosial, ekonomi, dan politik nasional.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

“Rencana unjuk rasa pukul 09.00 WIB,” ujar Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Iptu Erlyn Sumantri, dalam keterangan tertulisnya, Senin.

Masih di lokasi yang sama, demonstrasi berikutnya digelar sekitar pukul 10.00 WIB oleh Aliansi Perisai dan sejumlah organisasi mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Cipayung Jakarta Barat. Organisasi yang ikut dalam aksi tersebut antara lain PC PMII Jakarta Barat, GMNI Jakarta Barat, Front Mahasiswa Nasional (FMN), Aliansi Perjuangan Warga Kampus dan Sekitar (APWKS), AGRA, Serikat Petani Pemuda (SPP), Forum Aksi Mahasiswa Universitas Indonesia (FAM UI), HMI Universitas Esa Unggul, serta BEM Universitas Trisakti.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Selain di kawasan Monas, aksi demonstrasi juga berlangsung di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta. Unjuk rasa yang dijadwalkan dimulai pukul 11.00 WIB tersebut diperkirakan diikuti oleh massa mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia.

Sementara itu, aksi demonstrasi lainnya digelar di Jalan Kwitang Raya, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, sekitar pukul 13.00 WIB. Aksi ini diketahui digerakkan oleh massa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Provinsi Jambi yang turut menyampaikan aspirasi terkait berbagai persoalan nasional.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Untuk mengantisipasi gangguan keamanan dan ketertiban selama berlangsungnya aksi, aparat kepolisian mengerahkan ribuan personel gabungan. Sebanyak 5.955 personel yang terdiri dari anggota Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, serta jajaran polsek disiagakan di sejumlah titik lokasi demonstrasi.

Kepolisian juga menyiapkan langkah pengamanan serta pengaturan arus lalu lintas secara situasional. Rekayasa lalu lintas akan diterapkan dengan mempertimbangkan kondisi dan jumlah massa yang hadir di lapangan.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat yang hendak beraktivitas di sekitar kawasan aksi untuk menghindari titik-titik demonstrasi guna mengurangi potensi kemacetan.

“Warga bisa mencari jalan alternatif lain selama unjuk rasa berlangsung,” kata Iptu Erlyn.

Dalam aksi yang dipusatkan di sekitar kawasan Istana Negara tersebut, mahasiswa membawa enam tuntutan utama yang ditujukan kepada pemerintah dan Presiden Prabowo Subianto. Mereka menilai sejumlah kebijakan yang diterapkan saat ini perlu dievaluasi secara menyeluruh demi menjaga kepentingan masyarakat luas.

Tuntutan pertama adalah penghentian sementara sekaligus evaluasi menyeluruh terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program Koperasi Desa Merah Putih. Menurut mahasiswa, kedua program tersebut perlu ditinjau kembali agar pelaksanaannya tepat sasaran dan tidak membebani anggaran negara.

Kedua, massa aksi meminta pemerintah untuk meninjau ulang Undang-Undang Kepolisian Republik Indonesia yang dinilai perlu mendapatkan evaluasi terkait fungsi dan kewenangan institusi kepolisian.

Ketiga, mahasiswa menuntut dihentikannya praktik militerisme di ranah sipil serta mendesak pemerintah untuk menegakkan supremasi sipil sesuai prinsip demokrasi.

Keempat, mereka meminta pemerintah mengambil langkah konkret dan strategis guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.

Kelima, mahasiswa mendesak pemerintah menjamin hak pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa diskriminasi.

Sementara tuntutan keenam adalah meminta pemerintah meninjau kembali kebijakan kenaikan harga BBM yang dianggap semakin memberatkan masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah dan menengah.

Melalui aksi ini, mahasiswa berharap pemerintah dapat mendengar dan merespons berbagai aspirasi yang mereka sampaikan. Mereka menegaskan bahwa demonstrasi merupakan bagian dari hak demokratis warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum sekaligus bentuk pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.

Aksi yang berlangsung di berbagai titik Jakarta tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu demonstrasi mahasiswa terbesar dalam beberapa bulan terakhir, mengingat banyaknya organisasi kampus dan kelompok masyarakat yang terlibat dalam gerakan tersebut.

 

Penulis: Ramses

Editor: Samsu