Tanah Bergerak di Tembalang Semarang Meluas, Kampung Sekip Terancam Tenggelam
LINGKARMEDIA.COM – Tanah bergerak di Kampung Sekip, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, semakin meluas. Pantauan di lokasi, fenomena tanah bergerak yang kian masif kembali merobohkan satu rumah warga hingga rata dengan tanah pasca-diguyur hujan deras, Senin (23/2/2026) malam.
Hingga saat ini, total sudah ada empat rumah yang hancur total, sementara puluhan lainnya terancam ambles mengikuti pergeseran tanah.

Kondisi di RT 07 RW 01 Kampung Sekip kini sangat memprihatinkan. Jalan penghubung antar-desa terpantau bergelombang parah, retak, bahkan terputus akibat amblesnya permukaan tanah. Fenomena ini membuat struktur tanah di hampir seluruh sudut kampung terus bergeser secara ekstrem.
Karena tingkat kerawanan yang sangat tinggi, muncul rencana bahwa Kampung Sekip di wilayah RT tersebut akan dihapus dari peta desa. Lokasi ini dinilai sudah tidak layak lagi untuk dihuni karena pergerakan tanah yang bersifat permanen dan membahayakan keselamatan jiwa.

Sebanyak 20 Kepala Keluarga (KK) kini terpaksa menghabiskan waktu Ramadan mereka di tenda-tenda pengungsian yang didirikan oleh BPBD Kota Semarang tak jauh dari lokasi bencana. Warga dilarang keras menempati rumah mereka, terutama pada malam hari, guna menghindari korban jiwa jika terjadi reruntuhan susulan.
Siang hari, warga hanya terlihat berjaga untuk menyelamatkan perabotan, harta benda, hingga hewan ternak yang masih bisa dievakuasi dari dalam bangunan yang retak-retak.
Beberapa waktu lalu, lokasi bencana ini telah ditinjau langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pemerintah berencana merelokasi seluruh warga yang berjumlah sekitar 75 jiwa ke wilayah Rowosari, Semarang.
Namun, hingga saat ini proses persiapan lahan dan pendataan lanjutan masih berjalan. Warga berharap janji relokasi tersebut bisa segera terealisasi agar mereka tidak berlama-lama di pengungsian.
“Kami berharap sebelum Lebaran sudah bisa pindah ke hunian sementara di tempat relokasi yang dijanjikan Pak Wapres saat kunjungannya kemarin. Sedih rasanya kalau harus Lebaran di tenda pengungsian,” ujar Ketua RT 07, Joko Muchlisin, Selasa (24/2/2026).
Joko menjelaskan gejala pergerakan tanah di kawasan tersebut sebenarnya sudah pernah terjadi sekitar 25 tahun lalu, tetapi dampaknya tidak sebesar sekarang.
“Dulu sudah pernah terjadi puluhan tahun lalu. Sekarang muncul lagi dan pergerakannya cepat, bukan per hari, tapi per menit,” ujarnya.
Ia mengatakan, ancaman tanah bergerak masih dirasakan warga, terutama karena akses jalan lingkungan mulai rusak dan ambles di sejumlah titik. Akibatnya, kendaraan roda dua pun kesulitan melintas. Warga terpaksa memarkir kendaraan di bagian bawah kampung dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Wali kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan pihaknya menyiapkan beberapa alternatif lahan relokasi untuk warga korban tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang. Tanah bergerak bukan baru pertama kali terjadi di Semarang. Sebelumnya pernah terjadi di wilayah Jomblang.
Menurutnya, Pemkot Semarang telah menyiapkan beberapa alternatif lokasi relokasi. Namun, untuk jangka pendek, langkah darurat yang dilakukan adalah memastikan keselamatan warga terdampak.
“Yang paling penting anak-anak yang sekolah harus tetap bisa sekolah. Untuk sementara saya sarankan sebagian warga mengungsi dulu ke sanak saudara,” tuturnya.
Dia juga telah meminta camat dan lurah setempat meningkatkan kewaspadaan, termasuk memasang pengeras suara sebagai sistem peringatan dini karena lokasi tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Penulis: Tim Respon Bencana
Editor: Ramses







