Sains dan Kearifan Tradisi, Memperkuat Upaya Mitigasi Bencana

IMG-20251119-WA0023

LINGKARMEDIA.COM – Sinergi ilmu pengetahuan modern atau sains dengan kearifan budaya tradisional merupakan kunci untuk mendorong upaya mitigasi bencana di Indonesia. Hal ini direkomendasikan oleh Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kolaborasi dua pendekatan ini dinilai menjadi langkah penting agar strategi pengurangan risiko bencana tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga berakar kuat pada konteks sosial dan budaya masyarakat setempat.

Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara, menegaskan pentingnya mengakhiri dikotomi antara tradisi dan sains.

“Keduanya bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling mengisi. Ketika para peneliti duduk bersama dan membuka diri, maka lahirlah pemahaman yang lebih utuh tentang fenomena bencana,” ujarnya seperti dikutip dari keterangan tertulis BRIN.

Dalam webinar bertajuk “Mitigasi Bencana antara Tradisi dan Sains” yang digelar akhir bulan lalu, Herry menekankan bahwa pendekatan kolaboratif harus menjadi fondasi riset-riset BRIN ke depan. Khususnya dalam bidang ekologi dan mitigasi bencana.

Herry mencontohkan pengalamannya melakukan riset bersama ahli geoteknologi untuk menelusuri fenomena smong di Aceh. Dalam riset itu, tradisi lisan masyarakat menjadi pintu masuk memahami sejarah tsunami, sedangkan sains membantu menjelaskan secara geologis mekanisme kejadiannya.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan laboratorium dan data satelit, tanpa memahami narasi masyarakat yang hidup berdampingan dengan risiko,” ujarnya.

Dirinya berharap webinar tersebut bukanlah akhir, melainkan awal dari kolaborasi riset yang lebih konkret. Ia mengumumkan rencana BRIN membuka call for collaboration tahun 2026 dengan tema riset lingkungan dan ekologi, ucapnya.

Sementara itu, Kepala PR MLTL BRIN, Sastri Sunarti, mengapresiasi kolaborasi lintas disiplin yang diinisiasi oleh kelompok riset ini. Ia menilai, integrasi antara sains dan tradisi menjadi ciri khas riset kebencanaan di Indonesia yang kaya akan budaya dan sejarah lokal.

Sastri juga menyinggung informasi soal potensi gempa besar di kawasan Mentawai dan pesisir Sumatra. “Informasi seperti ini sering menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Namun, dengan edukasi berbasis tradisi dan sains, kita dapat membangun ketenangan sekaligus kesiapsiagaan,” tegasnya.

Ketua Tim Kerja Mitigasi Tsunami Hindia Pasifik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Suci Dewi Anugrah, menyoroti bagaimana nilai-nilai budaya dapat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.

“Tradisi memberi fondasi sosial yang memperkuat ketahanan masyarakat. Sains menyediakan alat prediksi dan teknologi peringatan dini. Ketika keduanya berjalan bersama, kesiapsiagaan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan,” jelasnya.

Suci menambahkan bahwa pengalaman di lapangan menunjukkan pentingnya bahasa lokal dan tokoh adat dalam menyampaikan pesan mitigasi. “Kalimat sederhana dalam bahasa daerah sering kali lebih didengar daripada instruksi teknis. Di sinilah nilai budaya berperan besar dalam menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

Asep Supriadi, peneliti lainnya dari PR MLTL BRIN, menyoroti upaya mitigasi bencana berbasis kearifan lokal. “Kearifan lokal adalah salah satu usaha dalam memitigasi bencana untuk mengurangi risiko bencana,” ujarnya.

Dia juga menegaskan perlunya sinergi peran masyarakat dan pemerintah. Pemerintah dan masyarakat menjadi penjaga keberlangsungan kearifan lokal yang hidup di masyarakat setempat.

Ketahanan bencana berbasis kearifan lokal dapat membangun kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi bencana. Sebagai contoh rumah arsitektur tradisional merupakan bangunan struktur tahan gempa yang perlu dikembangkan sebagai salah satu upaya mengurangi risiko bencana.

Dengan komitmen tersebut, BRIN berharap riset-riset yang lahir tidak hanya memperkuat sistem mitigasi bencana, tetapi juga menjaga warisan pengetahuan lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.

Penggunaan sains dan tradisi budaya menjadi bukti bahwa upaya mengurangi risiko bencana tidak hanya berbicara tentang alat deteksi dan peta risiko, tetapi juga tentang narasi, nilai, dan kebijaksanaan manusia yang diwariskan lintas generasi.

Upaya Mitigasi bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan untuk mengurangi risiko bencana, dengan dua jenis yang terdiri dari mitigasi struktural dan non struktural. Serta memiliki beberapa tahapan, sesuai dengan jenis bencana yang terjadi.

Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan agar mengurangi resiko kerusakan yang disebabkan oleh bencana-bencana tersebut, salah satu contohnya adalah dengan mitigasi.

Mitigasi adalah salah satu usaha dalam mengurangi risiko kerusakan maupun kerugian yang diterima. Berdasarkan UU 24 Tahun 2007, mitigasi adalah serangkaian upaya pengurangan risiko bencana yang dilakukan dengan pembangunan fisik dan penyadaran serta peningkatan kemampuan dalam menghadapi ancaman bencana.

Upaya ini dimulai dari pencegahan sebelum bencana tersebut terjadi hingga penanganan yang tepat setelah bencananya terjadi. Berdasarkan pembagian waktunya, mitigasi dibagi menadi beberapa siklus yaitu sebagai berikut

1. Pengenalan dan pemantauan risiko bencana

Mengidentifikasi potensi bencana dan memantau kondisi yang dapat memicu bencana.

2. Perencanaan penanggulangan bencana

Menyusun rencana untuk menghadapi bencana yang mungkin terjadi.

3. Penerapan upaya fisik dan non-fisik

Meliputi pembangunan infrastruktur yang tahan bencana dan peningkatan kesadaran masyarakat.

4. Pendidikan dan pelatihan

Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana melalui program pendidikan dan pelatihan.

5. Kerjasama antar lembaga

Membangun kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah untuk efektivitas mitigasi.

Penulis: Tim Respon Bencana

Editor: Ramses