Ribuan Penerbangan Timur Tengah Kacau Akibat Perang, Penumpang Terlantar

IMG_20260302_083549

LINGKARMEDIA.COM – Ribuan penerbangan di seluruh Timur Tengah dan kawasan Teluk dibatalkan pada Sabtu (28/2/2026) dan Minggu (1/3/2026), setelah sejumlah negara menutup wilayah udaranya menyusul perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Mengutip EuroNews, Bahrain, Iran, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) termasuk di antara negara-negara yang mengumumkan penutupan sebagian wilayah udara mereka.

Kondisi tersebut, menyebabkan penangguhan, pembatalan, serta pengalihan penerbangan, sehingga puluhan ribu penumpang terlantar di berbagai belahan dunia.

Konflik ini juga memicu penutupan bandara-bandara utama di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha, serta pembatalan lebih dari 1.800 penerbangan oleh maskapai-maskapai besar di Timur Tengah, menurut perusahaan analisis penerbangan Cirium.

Dari sekitar 4.218 penerbangan yang dijadwalkan mendarat di negara-negara Timur Tengah pada Sabtu, sebanyak 966 penerbangan atau sekitar 22,9 persen dibatalkan.

Untuk Minggu, sebanyak 716 dari 4.329 penerbangan yang dijadwalkan menuju Timur Tengah telah dibatalkan.

Sementara itu, situs pelacakan penerbangan FlightAware menyebutkan lebih dari 19.000 penerbangan tertunda secara global dan lebih dari 2.600 penerbangan dibatalkan pada pukul 02.30 GMT, Minggu.

Belum jelas berapa lama gangguan operasional penerbangan ini akan berlangsung, sehingga membuat penumpang berada dalam ketidakpastian perjalanan.

PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) melalui Kantor Cabang Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) mengonfirmasi adanya gelombang pembatalan dan penundaan jadwal terbang menuju kawasan Timur Tengah pada Minggu (1/3/2026).

Pihak manajemen Bandara Soetta memastikan bahwa seluruh penumpang yang terdampak telah mendapatkan penanganan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Insiden di pusat penerbangan regional

Sebagai balasan atas serangan AS dan Israel, Iran melancarkan serangkaian serangan terhadap Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, yakni Bahrain, Kuwait, Qatar, dan UEA.

Tiga maskapai utama di kawasan Teluk, yakni Emirates, Etihad, dan Qatar Airways, biasanya melayani sekitar 90.000 penumpang per hari yang melintasi pusat-pusat penerbangan tersebut, bahkan lebih banyak lagi pelancong yang menuju berbagai tujuan di Timur Tengah, menurut Cirium.

Pejabat di Bandara Internasional Dubai, bandara terbesar di UEA dan salah satu yang tersibuk di dunia, menyatakan empat orang terluka. Sementara itu, Bandara Internasional Zayed melaporkan satu orang tewas dan tujuh lainnya terluka akibat serangan pesawat tak berawak.

Serangan juga dilaporkan terjadi di Bandara Internasional Kuwait.

“Bagi para pelancong, tidak ada cara untuk memperhalus kenyataan ini,” kata Henry Harteveldt, analis industri penerbangan sekaligus presiden Atmosphere Research Group.

“Anda harus bersiap menghadapi penundaan atau pembatalan penerbangan dalam beberapa hari ke depan karena serangan-serangan ini terus berkembang dan, semoga, segera berakhir.”

Penulis: Tim Ekopol

Editor: Ramses