Hari ke-12 Perang : 1.300 Warga Sipil Tewas, Rudal Hantam Israel, Pangkalan AS Hingga Kilang UEA
LINGKARMEDIA.COM – Iran menyatakan lebih dari 1.300 warga sipil tewas dan hampir 10.000 lokasi sipil telah dihantam serangan Amerika Serikat-Israel sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026.
Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memasuki hari ke-12 dengan eskalasi serangan yang semakin luas di Timur Tengah, Rabu (11/3/2026).
Dilansir dari Al Jazeera, serangan udara terbaru juga menargetkan berbagai fasilitas penting di Iran, termasuk Bandara Mehrabad di ibu kota Teheran.
Konflik kini meluas ke negara-negara Teluk, pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan, hingga memicu kekhawatiran krisis energi global.
Pemerintah Iran menuduh serangan AS dan Israel secara sistematis menghantam infrastruktur sipil.
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengatakan hampir 10.000 lokasi sipil telah rusak atau hancur akibat pengeboman.
Target yang dilaporkan terkena serangan antara lain rumah tinggal warga, fasilitas kesehatan dan rumah sakit, sekolah dan lembaga pendidikan serta pusat perdagangan dan layanan publik.
Ledakan besar juga dilaporkan mengguncang sejumlah distrik permukiman di Teheran setelah gelombang serangan udara Israel pada Selasa malam.
Organisasi kemanusiaan Iran menyebut sebuah bangunan apartemen terkena serangan langsung dan tim penyelamat masih menggali puing-puing untuk mencari korban.
World Health Organization memperingatkan fenomena “hujan hitam” beracun setelah asap tebal dari fasilitas minyak yang terbakar bercampur dengan awan hujan dan menghasilkan curah hujan yang terkontaminasi polutan berbahaya.
Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps meluncurkan gelombang serangan rudal besar terhadap Israel.
Serangan balasan yang disebut sebagai gelombang ke-37 ini menggunakan rudal berat Khoramshahr dan berlangsung lebih dari tiga jam. Target utama Iran meliputi beberapa kota besar di Israel, seperti Tel Aviv, Haifa dan Jerusalem.
Media Israel melaporkan sirene peringatan serangan udara berbunyi di berbagai wilayah setelah peluncuran rudal tersebut.
Selain Israel, Iran juga menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Serangan dilaporkan diarahkan ke pangkalan AS di Erbil (Irak) dan Manama (Bahrain). Militer Iran menyatakan serangan tersebut merupakan balasan atas serangan udara AS terhadap wilayah permukiman di Iran.
Di sisi lain, Komando Pusat AS melaporkan telah menghancurkan 16 kapal penebar ranjau Iran yang tidak aktif di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Eskalasi konflik juga berdampak langsung pada negara-negara Teluk. Militer Arab Saudi mengatakan berhasil mencegat sejumlah drone dan rudal balistik Iran yang diarahkan ke wilayah timur kerajaan serta ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan.
Pemerintah Qatar juga melaporkan berhasil mencegat serangan rudal yang menargetkan wilayahnya pada Rabu pagi.
Sementara itu, Uni Emirat Arab menyatakan berhasil menembak jatuh 26 drone pada Selasa, meskipun sembilan di antaranya jatuh di wilayah negara tersebut.
Serangan drone juga memicu kebakaran di Kompleks Industri Ruwais di Abu Dhabi, lokasi salah satu kilang minyak terbesar di negara tersebut.
Di dalam negeri Amerika Serikat, tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump semakin meningkat.
Beberapa anggota Kongres dari Partai Demokrat menuntut diadakannya sidang publik untuk menjelaskan tujuan dan strategi perang terhadap Iran.
Pentagon mengonfirmasi sekitar 140 tentara AS terluka dan tujuh lainnya tewas sejak dimulainya operasi militer yang dinamakan Operasi Epic Fury.
Gedung Putih juga menyatakan lebih dari 5.000 target di Iran telah diserang, terutama yang terkait dengan program rudal dan nuklir negara tersebut.
Namun pemerintah AS juga tengah menyelidiki serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di Iran yang dilaporkan menewaskan sekitar 175 siswi, setelah muncul bukti foto yang menunjukkan kemungkinan rudal AS mengenai lokasi tersebut.
Konflik Meluas ke Lebanon dan Irak. Ketegangan juga meningkat di negara-negara tetangga. Di Lebanon, serangan Israel terhadap sebuah gedung apartemen di pusat Beirut menyebabkan kebakaran besar dan kerusakan parah pada beberapa lantai bangunan.
Pejabat Lebanon melaporkan sedikitnya 570 orang tewas sejak eskalasi konflik meningkat pekan lalu.
Sementara itu, pemerintah Irak memperingatkan agar wilayahnya tidak digunakan sebagai lokasi peluncuran serangan dalam konflik regional yang semakin meluas.
Penulis: Tim Ekopol
Editor: Ramses








