Wilujengan Agung Suran Perdana di Bumiaji Jadi Simbol Pelestarian Budaya dan Penguat Identitas Masyarakat Kota Batu
LINGKARMEDIA.COM – Semangat menjaga warisan budaya di tengah derasnya arus modernisasi ditunjukkan masyarakat Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, melalui penyelenggaraan Wilujengan Agung Suran yang digelar pada Selasa (14/7/2026) malam. Kegiatan yang untuk pertama kalinya dilaksanakan di tingkat kecamatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat identitas budaya lokal sekaligus mempererat sinergi antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat.
Acara yang diinisiasi oleh Lembaga Adat Budaya dan Seni (Labuni) Kecamatan Bumiaji tersebut berlangsung khidmat dengan dihadiri berbagai unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat. Hadir secara langsung Wali Kota Batu H. Nurochman, S.H., M.H., Ketua TP PKK Kota Batu Hj. Siti Faujiah Nurochman, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Kota Batu H. Suyanto, perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, jajaran Muspika Kecamatan Bumiaji, Kapolsek Bumiaji, perwakilan Danramil, kepala desa se-Kecamatan Bumiaji, tokoh adat, tokoh agama, hingga ratusan masyarakat yang memadati lokasi acara.
Suasana sakral terasa sejak awal rangkaian kegiatan. Tradisi penutup bulan Suro yang sarat dengan nilai spiritual dan filosofi kehidupan itu menjadi simbol rasa syukur masyarakat sekaligus doa bersama agar Kota Batu senantiasa diberikan keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan.
Camat Bumiaji sekaligus Pembina Labuni Kecamatan Bumiaji, Thomas Maydo, S.Sos., mengatakan bahwa pelaksanaan Wilujengan Agung Suran lahir dari aspirasi para tokoh adat yang menginginkan adanya peringatan Suroan dalam skala kecamatan. Selama ini, tradisi serupa telah rutin dilaksanakan di tingkat dusun maupun desa, sehingga dinilai sudah saatnya disatukan dalam sebuah perhelatan bersama.

Menurut Thomas, persiapan kegiatan tersebut dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Hanya dalam kurun waktu sekitar dua pekan sejak rapat awal digelar, seluruh elemen masyarakat berhasil menyelenggarakan acara dengan baik berkat semangat gotong royong.
“Meski persiapan hanya sekitar 14 hari sejak pertemuan pertama, kegiatan ini dapat terlaksana karena adanya kolaborasi yang luar biasa antara Pemerintah Kecamatan, Labuni, para kepala desa, perangkat desa, BPD, tokoh masyarakat, dan seluruh pihak yang memberikan dukungan,” ujarnya.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Ia menilai keberhasilan penyelenggaraan Wilujengan Agung Suran menjadi bukti bahwa masyarakat Bumiaji masih memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian budaya dan tradisi leluhur. Baginya, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi menjadi fondasi dalam membangun karakter masyarakat yang berakar pada nilai-nilai kebersamaan.
Thomas juga mengingatkan pentingnya menjaga ketahanan budaya bangsa di tengah derasnya perkembangan teknologi dan globalisasi. Ia mengutip pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang menegaskan bahwa cara paling mudah melemahkan suatu bangsa adalah dengan menghilangkan budayanya.
Berangkat dari semangat tersebut, Pemerintah Kecamatan Bumiaji bersama Labuni berkomitmen melakukan berbagai langkah nyata untuk mendokumentasikan sejarah, adat istiadat, serta kekayaan budaya yang dimiliki setiap desa. Rencana tersebut akan diwujudkan melalui penyusunan buku sejarah dan budaya desa agar dapat menjadi referensi sekaligus warisan bagi generasi mendatang.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Sementara itu, Wali Kota Batu H. Nurochman memberikan apresiasi atas inisiatif masyarakat Bumiaji yang mampu menghadirkan sebuah kegiatan budaya berskala kecamatan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Dalam sambutannya, Nurochman menegaskan bahwa pembangunan Kota Batu tidak hanya berorientasi pada kemajuan infrastruktur dan teknologi, tetapi juga harus dibarengi dengan upaya menjaga nilai-nilai budaya yang menjadi jati diri masyarakat.
“Budaya dan adat istiadat adalah diri kita yang harus terus dipertahankan. Walaupun kecanggihan teknologi ada di tangan kita, adat budaya harus tetap menjadi pegangan. Membangun Kota Batu tidak bisa dengan menonjolkan egoisme, melainkan dengan saling mendukung dan berkolaborasi,” tegasnya.

Ia memastikan Pemerintah Kota Batu akan terus memberikan dukungan terhadap kegiatan pelestarian budaya melalui berbagai kebijakan maupun program yang mendorong kreativitas masyarakat.
Menurutnya, budaya merupakan aset penting yang tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga berpotensi menjadi kekuatan dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.
Di kesempatan yang sama, Ketua Labuni Kecamatan Bumiaji, Sukadi, menjelaskan bahwa Wilujengan Agung Suran memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat. Selain menjadi ritual penutup bulan Suro, kegiatan tersebut juga merupakan bentuk rasa syukur sekaligus bakti masyarakat kepada pemerintah yang telah memberikan ruang bagi pelestarian budaya.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Melihat antusiasme masyarakat yang begitu tinggi, Sukadi optimistis kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin tahunan. Bahkan, pihaknya telah merancang pengembangan konsep pelaksanaan agar lebih menarik dan mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas.
“Ke depan kami ingin mengembangkan format acaranya. Bila memungkinkan, rangkaian kegiatan dimulai sejak siang hari hingga malam sehingga masyarakat dapat menikmati lebih banyak pertunjukan seni dan tradisi. Harapan kami, Wilujengan Agung Suran bisa menjadi contoh bagi kecamatan lain di Kota Batu,” katanya.
Sejalan dengan itu, Camat Bumiaji juga berharap kegiatan tersebut dapat masuk dalam kalender event budaya maupun pariwisata Kota Batu. Dengan demikian, tradisi yang selama ini hidup di tingkat dusun dan desa dapat terhubung menjadi sebuah rangkaian agenda budaya berskala kota yang mampu menarik perhatian wisatawan.
Ia meyakini pelestarian budaya yang dilakukan secara konsisten akan memberikan manfaat ganda, yakni menjaga identitas masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor wisata budaya.
Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k
Rangkaian Wilujengan Agung Suran kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk keselamatan, kedamaian, dan kemakmuran seluruh masyarakat Kota Batu. Kebersamaan yang terjalin sepanjang kegiatan menjadi simbol kuat bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada aspek fisik, tetapi juga pada penguatan nilai budaya, gotong royong, dan persatuan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat, Wilujengan Agung Suran diharapkan menjadi tradisi tahunan yang terus berkembang serta menjadi salah satu ikon budaya Kota Batu dalam mewujudkan visi Batu Sae yang berlandaskan kebersamaan, kearifan lokal, dan pelestarian warisan budaya.
Penulis: Samsu
Editor: Ramses








