Kronologi Penemuan Kerangka Farhan – Reno di Kwitang

IMG-20251109-WA0094

Jakarta, lingkarmedia.com – Reno dan Farhan dilaporkan hilang usai demo besar-besaran di Mako Brimob Kwitang, Jakarta Pusat, pada akhir Agustus 2025 lalu.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mencatat, Reno dilaporkan hilang sejak 30 Agustus 2025.

Sementara Farhan menghilang sejak 31 Agustus 2025. Keduanya terakhir kali berada di Mako Brimob Kwitang.

Penyelidikan terhadap Reno dan Farhan yang hilang sempat mandek selama dua bulan sampai akhirnya ada dua kerangka manusia ditemukan di lantai dua Gedung ACC Kwitang, Kamis (30/10/2025).

Kerangka tersebut ditemukan oleh tim teknisi gedung yang sedang memeriksa konstruksi untuk renovasi paska kebakaran saat demonstrasi pada Agustus 2025.

Kedua jasad sudah tidak dapat dikenali karena sebagian besar tubuhnya hangus. Saat ditemukan, keduanya tertimbun puing plafon yang terbakar.

Kepolisian telah mengidentifikasi dua kerangka manusia yang ditemukan di gedung perkantoran di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat.

Dua kerangka manusia tersebut identik dengan Reno Syahputra Dewo dan Muhammad Farhan Hamid. Keduanya adalah orang yang dilaporkan hilang sejak demonstrasi akhir Agustus lalu.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Putu Cholis Aryana menuturkan kronologi atau timeline pelaporan orang hilang, penemuan kerangka manusia hingga proses identifikasi.

Pada tanggal 2-10 September 2025, pascademonstrasi akhir Agustus berujung ricuh, Polda Metro Jaya berhasil mengonfirmasi 40 dari 44 orang yang dilaporkan hilang.

Putu bilang empat orang tersebut ialah Eko, Bima, Farhan, dan Reno. Dalam periode tersebut, Polda Metro Jaya mendapat laporan mengenai gedung yang terbakar. Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) awal dilakukan, dan Polres Metro Jakarta Pusat menangkap 3 orang pelaku.

Putu mengatakan Polda Metro Jaya mengaktifkan Posko Orang Hilang pada 12 September 2025 untuk fokus mencari empat orang tersebut.

Dalam prosesnya, polisi bekerja sama dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) yang mendampingi keluarga korban.

Lima hari setelahnya, polisi berhasil berhasil mengonfirmasi keberadaan Eko di Kalimantan Tengah dan Bima di Jawa Timur.

Kemudian pada 19 September 2025, Puslabfor Bareskrim Polri melakukan pemeriksaan TKP untuk mencari tahu penyebab kebakaran. Selanjutnya pada 23-29 September 2025, banyak informasi penting yang berhasil diperoleh.

Putu menjelaskan hasil analisis penelusuran jejak komunikasi dan digital Farhan pada periode 3-23 September 2025 didapatkan handphone Farhan digadaikan sebelum peristiwa kerusuhan pecah di Kwitang.

Berdasarkan hasil penelusuran keluarga, teman, saksi, serta penelusuran jejak aktivitas (di Jakarta dan Surabaya) disimpulkan Farhan dan Reno terakhir kali terlihat pada akhir Agustus 2025 di Kwitang.

Polda Metro Jaya bersama KontraS lantas melakukan pertemuan dan menyepakati pertukaran informasi dan perkembangan pencarian, serta komitmen perlindungan keluarga orang hilang.

Pada 13 Oktober 2025, Polda Metro Jaya kembali bertemu KontraS untuk membahas perkembangan pencarian orang hilang dan penyidikan klaster penghasut kerusuhan.

Lalu, pada 20 Oktober 2025, KontraS melakukan penelusuran lokasi-lokasi hasil pertukaran informasi dengan Polda Metro Jaya.

Empat hari berselang, Polda Metro Jaya menerima perwakilan Komnas HAM, Komnas Perempuan, Komnas Anak, Komnas Difabel, Ombudsman RI, dan LPSK untuk membahas pemenuhan hak, penyidikan dan pencarian orang hilang.

Pada 30 Oktober 2025, Tim Inspeksi PT QIES (vendor) memeriksa Gedung. Dari petunjuk aroma di sekitar Underwriting Room lantai 2, ditemukan dua kerangka manusia yang tertutup puing reruntuhan plafon dan barang.

Selanjutnya pada 30-31 Oktober 2025 dilakukan pengambilan sampel DNA keluarga Farhan dan Reno. Polda Metro Jaya dan KontraS membahas temuan kerangka dan tahapan langkah tindak lanjut penanganan.

Pada 1 sampai 4 November 2025, Polda Metro Jaya melakukan permintaan tambahan keterangan saksi. Polda Metro Jaya juga menerima Kompolnas dan Komnas HAM, dan menerima hasil tes DNA.

Tanggal 5 dan 6 November 2025, Polda Metro Jaya membahas hasil DNA tersebut dengan KontraS dan tim forensik. Selanjutnya, pada Jumat, 7 November 2025, dilakukan konferensi pers di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.

RS Polri menyimpulkan dua kerangka manusia yang ditemukan identik dengan Reno Syahputra Dewo dan Muhammad Farhan Hamid.

“Nomor posmortem 0080 cocok dengan antemortem 002 sehingga teridentifikasi sebagai Reno Syahputeradewo anak biologis dari Bapak Muhammad Yasin,” kata Karo Labdokkes Polri Brigjen Sumy Hastry Purwanti dalam konferensi pers di RS Polri.

“Nomor posmortem 0081 cocok dengan antemortem 001 sehingga teridentifikasi sebagai Muhammad Farhan Hamid anak biologis dari Bapak Hamidi,” sambungnya.

Hal itu, kata dia, berdasarkan hasil identifikasi primer pada gigi dan tulang. Kemudian cocok pula dengan antemortem atau data kesehatan sebelum kematian.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Polri Kramat Jati Brigjen Pol Prima Heru Yulihartono mengatakan dua kerangka manusia itu tiba di tempatnya untuk diperiksa pada 30 Oktober lalu. Waktu kematian dari saat pemeriksaan sudah lebih dari 1 bulan.

Penulis : Ramses

Editor : Samsu