Connie Bakrie Minta Presiden Mundur Dari Keanggotaan Board of Peace

FB_IMG_1772459079736

LINGKARMEDIA.COM – Menanggapi perkembangan dinamika geopolitik global yang kian memanas yang disusul adanya serangan Israel dan Amerika terhadap Iran, pengamat militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie menyampaikan pandangannya.

Connie dalam pernyataannya yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto, menilai situasi terkini dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk meninjau ulang keterlibatannya dalam Board of Peace (BOP).

Melalui laman Instagram resminya, Connie Bakrie menyebut perkembangan konflik internasional saat ini telah mengubah lanskap kerja sama global yang sebelumnya berorientasi pada perdamaian.

“Menurut saya pak, dengan segala hormat ya, Ini kayaknya kesempatan exit door nih buat Indonesia keluar dari Board of Peace, karena Board of Peace menurut saya sudah lagi bukan judulnya Board of Peace, tapi jadi Board of War dengan kejadian ini,” ujarnya.

Dorong Indonesia Kembali ke Prinsip Non-Blok

Guru besar bidang hubungan internasional di St Petersburg State University Rusia ini menilai Indonesia sebaiknya kembali pada prinsip politik luar negeri non-alignment atau non-blok. Menurutnya, posisi tersebut akan membuat Indonesia lebih tegas dan elegan dalam memainkan peran di panggung global.

“Jadi tolong pak Prabowo kita perlu exit door (pintu keluar) ya pak ya. Mending ini dijadikan exit door dan kita kembalilah kepada posisi kita non-alignment atau non-blok tadi, karena kita akan lebih cantik mainnya lebih indah mainnya dan lebih firm (kokoh) mainnya gitu loh pak.”

Dalam pandangannya, ditegaskan bahwa apa yang diungkapkan tersebut bukan bentuk menggurui, melainkan perspektif akademik berdasarkan kajian strategis pertahanan dan hubungan internasional.

“Sekali lagi pak, ini bukan menggurui pandangan saya saja secara akademik, karena Kalau tidak pak, Indonesia pasti akan salah tingkah, salah arah, salah langkah kedepannya, dan BOP itu.”

Soroti Kesiapan Anggaran dan Infrastruktur 

Dalam pernyataannya, Connie juga menyoroti aspek teknis dan kesiapan nasional jika Indonesia tetap berada dalam kerangka kerja tersebut. Ia menyebut persoalan bukan sekadar komitmen politik, tetapi juga menyangkut kesiapan anggaran, pelatihan, peralatan, hingga doktrin militer.

“Menurut saya tidak sesimpel itu pak. Pertama, soal uang, soal anggaran. Yang kedua, bagaimana tentang training kita, equipment kita, personil kita, infrastruktur kita, logistik kita, information system kita. Kemudian doktrin kita sendiri gimana pak, karena walaupun ada aturan ini buat kemanusiaan dan segala macam pak, Gaza itu konfliknya beda pak, area itu beda, urban warfare itu akan berbeda sangat, dan eskalasi ancaman itu akan sangat tidak bisa diduga.”

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa dinamika konflik modern, terutama di kawasan perkotaan (urban warfare), memiliki kompleksitas tinggi dan risiko eskalasi yang sulit diprediksi. Untuk diketahui Urban warfare (perang kota) adalah konflik bersenjata yang terjadi di area perkotaan padat penduduk, ditandai dengan pertempuran jarak dekat (CQB), medan kompleks, dan tingginya risiko terhadap warga sipil.

Ajakan Mundur dari BOP 

Di akhir pernyataannya, Connie secara tegas menyarankan agar Indonesia mempertimbangkan langkah mundur dari Board of Peace dan kembali mengedepankan pendekatan non-violent movement dalam kebijakan luar negeri.

Sekali lagi pak, saran saya pak, saya pak please, please, please mundur dari BOP eh bukan BOP, (tapi) Board of War. Dan kembali ke non-violent movement.”

Penulis : Tim Ekopol

Editor : Panji