Bencana Banjir Asia: 1.035 Orang Tewas, Sumatera dan Sri Lanka Korban Terbanyak
LINGKARMEDIA.COM – Lebih dari satu juta penduduk kehilangan tempat tinggal, dan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang. Total korban jiwa sejauh ini mencapai 1.035 orang, dengan 502 tewas di Indonesia, 355 di Sri Lanka, 176 di Thailand, dan dua di Malaysia, menurut data resmi berbagai negara.
Tim penyelamat di Indonesia kesulitan mencapai wilayah terparah di Sumatera setelah Siklon Senyar menyebabkan longsor dan banjir besar. Sedikitnya 502 orang meninggal dan lebih dari 500 lainnya hilang, menurut data pemerintah.
Presiden Prabowo Subianto meninjau para pengungsi di utara Sumatera pada Senin (1/12/2025), dan menyoroti persoalan pasokan bahan bakar serta akses jalan menuju daerah yang terdampak. Kesaksian warga menggambarkan kehancuran total.
“Selama banjir, semuanya hilang. Saya ingin menyelamatkan pakaian saya, tetapi rumah saya rubuh,” ujar seorang warga Bireuen kepada Reuters. Maulidin, 41 tahun, warga Aceh Utara, mengaku melarikan diri bersama keluarga ketika terbangun oleh suara air bah.
“Rumah saya sudah hancur, semua barang rusak, dan lumpur masuk ke dalam,*” katanya kepada AFP. Kelangkaan makanan juga memicu penjarahan, menurut otoritas setempat.
“Penjarahan terjadi sebelum bantuan logistik tiba. Warga tidak tahu bahwa bantuan akan datang dan khawatir mereka akan kelaparan,” kata juru bicara polisi Ferry Walintukan kepada AP.
Di Thailand selatan, 176 orang meninggal akibat cuaca ekstrem, dan hampir 2,8 juta penduduk terdampak. Pemerintah harus menerjunkan helikopter untuk mengirim tabung oksigen dan mengevakuasi warga di daerah yang terisolasi.
Amphorn Kaeophengkro, 44 tahun, menggambarkan perjuangan keluarganya bertahan hidup setelah air masuk ke rumah Sabtu lalu.
“Kami tidak memikirkan apa pun selain bertahan hidup,” katanya kepada Reuters, menceritakan bagaimana mereka bertahan 48 jam di atas meja, mesin cuci, dan kusen jendela.
Kota Hat Yai menjadi wilayah paling parah dengan curah hujan yang disebut sebagai peristiwa sekali dalam 300 tahun, menyebabkan ketinggian air mencapai lebih dari delapan kaki, bahkan menutup akses ke bangsal bersalin yang menampung 30 bayi. Wassana Suthi, pemilik panti jompo keluarga, menggambarkan kecemasan yang ia rasakan.

“Hujan turun seperti gila, seolah marah pada seseorang. Saya banyak menangis. Saya takut tidak bisa menyelamatkan para pasien tepat waktu,” katanya kepada CNN.
Pemerintah menyebut situasi mulai membaik, dengan air yang hampir sepenuhnya surut, meski beberapa area masih terendam. 355 orang tewas di Sri Lanka Lebih dari 1,1 juta orang merasakan dampak Siklon Ditwah di Sri Lanka. Sedikitnya 355 orang tewas dan 366 masih hilang, menurut Pusat Manajemen Bencana.
Presiden Anura Kumara Dissanayake menyebut bencana ini sebagai bencana terbesar sepanjang sejarah negara itu.
“Ini pertama kalinya seluruh negara dilanda bencana seperti ini,” ucapnya dalam pidato kenegaraan, menilai skala kehancuran bahkan melebihi tsunami Asia 2004. Banyak keluarga sudah empat hari terjebak tanpa listrik dan sinyal telepon. Relawan seperti Moses Akash De Silva dari Voice for the Voiceless Foundation mendistribusikan lebih dari 4.000 porsi makanan yang dimasak menggunakan bahan yang dibeli lewat perjalanan perahu.
“Ada kebutuhan besar dan banyak orang harus memulai dari nol,” kata De Silva kepada CNN. Ia menambahkan peringatan bahaya lanjutan, “Hari ini cerah, tetapi risiko longsor masih besar.”
Mallika Kumari, salah satu dari lebih dari 78.000 pengungsi, mengatakan keluarganya harus kabur tanpa membawa apa pun. “Kami tidak menyangka sungai meluap secepat itu. Kami belum sarapan, dua putra saya flu, saya harus mencari obat mereka,” ujarnya kepada Reuters.
34.000 warga Malaysia terdampak Di Malaysia, dua orang tewas setelah Senyar—yang berubah status menjadi badai tropis—mendarat pada Jumat dini hari. Sekitar 34.000 warga dievakuasi, tetapi sebagian terjebak sebelum bantuan tiba.
Gon Qasim, 73 tahun, mengenang bagaimana ia dan suaminya terperangkap di tengah lapangan ketika banjir naik drastis. “Air seperti lautan. Begitulah rupa airnya,” ujarnya kepada Reuters setelah akhirnya diselamatkan dan dibawa ke pusat evakuasi.
Para ahli meteorologi mengatakan cuaca ekstrem terbaru kemungkinan dipicu interaksi Topan Koto di Filipina dan Siklon Senyar yang terbentuk secara langka di Selat Malaka. Meski peran pasti perubahan iklim masih dihitung, para ilmuwan sepakat bahwa pemanasan global memperkuat badai, meningkatkan curah hujan dan membuat dampaknya kian mematikan.

Asia Tenggara memang termasuk wilayah paling rentan terhadap perubahan iklim. Sebelum bencana ini, kawasan sudah dilanda cuaca ekstrem banjir fatal di Vietnam pada November menewaskan puluhan orang dan dua topan mematikan dalam satu pekan di Filipina, yang memaksa lebih dari 1,4 juta orang mengungsi.
Jumlah korban tewas akibat banjir dan tanah longsor di Sri Lanka yang dipicu oleh Siklon Ditwah, meningkat tajam menjadi 334 orang pada Minggu (30/11/2025), menurut keterangan resmi Pusat Manajemen Bencana (DMC). Bencana ini disebut yang paling mematikan dalam lebih dari 20 tahun di Sri Lanka.
Pihak berwenang mengatakan, skala kerusakan terparah baru mulai terlihat di wilayah tengah negara itu, setelah akses jalan yang tertutup longsor dan pohon tumbang berhasil dibuka.
Sementara itu menurut laporan kantor berita AFP, hampir 400 orang masih hilang dan lebih dari 1,3 juta warga terdampak langsung oleh rekor hujan deras. Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake menetapkan status darurat nasional untuk mempercepat penanganan bencana.

Ribuan warga Filipina turun ke jalan pada Minggu (30/11/2025) menuntut hukuman tegas bagi para pejabat, anggota parlemen, dan pemilik perusahaan konstruksi yang diduga terlibat dalam skandal korupsi proyek pengendalian banjir. Aksi unjuk rasa berlangsung di beberapa titik di ibu kota Manila, sebagai bentuk kemarahan atas proyek “banjir hantu” yang dituding menyedot miliaran dolar dari uang pajak rakyat.
Penulis: Tim Respon Bencana
Editor: Ramses








