Anggota PHRI Kota Batu Lirik Peluang Nobar Piala Dunia 2026 di Tengah Lemahnya Nilai Rupiah
LINGKARMEDIA.COM – Momen pelaksanaan Piala Dunia 2026 dipandang sebagai peluang tersendiri bagi pelaku usaha hotel dan restoran di Kota Wisata Batu untuk menarik minat pengunjung serta meningkatkan pemasukan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengatakan sejumlah pelaku usaha perhotelan dan restoran mulai melirik peluang dari penyelenggaraan pesta sepak bola terbesar di dunia tersebut melalui kegiatan nonton bareng (nobar).
Hal itu disampaikan Sujud saat ditemui awak media di tempat kerjanya pada Kamis (21/5/2026) siang. Menurutnya, memanfaatkan momentum besar seperti Piala Dunia merupakan hal yang lazim dilakukan pelaku usaha hospitality untuk mendongkrak kunjungan pelanggan.
“Tidak semua, hanya sebagian hotel atau resto di kami itu ada yang melakukan kegiatan nobar. Karena biasalah ketika ada momen apapun dimaksimalkan. Hal yang wajar bagi pelaku usaha,” ujar Sujud.
Ia menjelaskan, hotel maupun restoran yang memiliki fasilitas representatif seperti hall kecil, area restoran luas, atau ruang berkumpul biasanya lebih tertarik mengadakan acara nobar. Selain sebagai hiburan bagi pelanggan, kegiatan tersebut juga menjadi strategi pemasaran untuk meningkatkan okupansi dan penjualan makanan maupun minuman.

“Jadi ketika dia punya tempat, representatif tempatnya mungkin ada seperti restoran yang bisa menampung atau hall kecil yang bisa menampung mereka akan mengadakan nobar,” katanya.
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Menurut Sujud, pengalaman penyelenggaraan nobar pada turnamen-turnamen sepak bola sebelumnya terbukti mampu mendatangkan tambahan pemasukan bagi pelaku usaha. Biasanya pengunjung dikenakan biaya masuk atau paket tertentu yang sudah termasuk makanan dan minuman.
“Bertahun-tahun seperti itu, dan memang mendatangkan lumayan. Jadi biasanya kena charge masuknya, terus pesanan makanan kena charge lagi, jadi ada pendapatan yang bertambah,” ungkapnya.
Meski demikian, Sujud menegaskan tidak semua hotel atau restoran di Kota Batu akan menggelar acara nobar Piala Dunia 2026. Ia memperkirakan hanya satu atau dua properti besar yang benar-benar serius menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Lihat juga: https://www.facebook.com/shar
Menurutnya, keputusan untuk mengadakan nobar sepenuhnya merupakan kebijakan masing-masing pengelola usaha dalam melihat potensi pasar dan peluang keuntungan yang bisa diperoleh.
“Itu kebijakan properti dalam menangkap peluang. Jadi masing-masing properti melihat ada peluang tidak itu, dan pasar mana yang dibidik,” jelasnya.
Sujud yang juga dikenal sebagai penggemar berat mega bintang sepak bola Lionel Messi itu mengakui peluang bisnis dari acara nobar Piala Dunia saat ini sebenarnya tidak terlalu besar. Kondisi industri perhotelan dan restoran di Kota Batu, kata dia, masih mengalami tekanan akibat perlambatan ekonomi yang terjadi sejak 2025.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Ia menyebutkan, jika dibandingkan dengan kondisi pada 2024, sektor perhotelan dan restoran mengalami penurunan yang cukup terasa hingga memasuki 2026.
“2024 kita masih lumayan, pada 2025 turun dan 2026 turun lagi. Sejalan dengan situasi perekonomian Indonesia yang kurang menguntungkan,” ujarnya.
Karena itu, berbagai peluang usaha sekecil apa pun kini mulai dimanfaatkan para pelaku usaha demi menjaga kestabilan bisnis mereka. Nobar Piala Dunia dinilai menjadi salah satu cara alternatif untuk mendatangkan pelanggan di tengah lesunya daya beli masyarakat.
“Sehingga ini ada peluang seperti itu, peluang sekecil apapun bagi pelaku usaha dimanfaatkan,” tambah Sujud.
Namun demikian, ia menilai potensi keuntungan dari nobar Piala Dunia tidak sebesar kegiatan lain seperti buka puasa bersama atau event musiman lainnya. Salah satu faktor utama yang menjadi pertimbangan pengusaha adalah adanya kewajiban pembayaran lisensi siaran kepada pemegang hak tayang resmi.
Dalam pelaksanaan nobar Piala Dunia 2026 nanti, hotel maupun restoran yang ingin menggelar siaran publik diwajibkan memiliki izin resmi atau lisensi dari pihak pemegang hak siar, termasuk stasiun televisi yang menayangkan pertandingan tersebut.
“Yang ini beda banget, orang akan berhitung karena ada biaya lagi yaitu membayar lisensi. Jadi ini harus dihitung matang kira-kira ada tidak pasarnya, ada tidak yang mau bayar untuk nobar,” jelasnya.
Menurut Sujud, biaya lisensi menjadi tantangan tersendiri bagi pengusaha hotel dan restoran. Sebab sebelum memastikan adanya keuntungan, mereka harus lebih dulu mengeluarkan biaya tambahan untuk memperoleh izin penyelenggaraan nobar secara legal.
“Di hotel resikonya itu, berbayar lisensi dulu, lisensi keluar baru mereka berani mengadakan nobar,” imbuhnya.
Selain menghadapi tantangan biaya lisensi, pelaku usaha hotel dan restoran juga mulai mencermati dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang belakangan kembali terjadi.
Diketahui pada Kamis, 21 Mei 2026, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Sujud mengakui dampak pelemahan rupiah memang belum terlalu dirasakan secara signifikan oleh pelaku usaha di Kota Batu. Namun ia tidak menampik bahwa kondisi tersebut lambat laun akan mempengaruhi biaya operasional usaha, terutama untuk bahan baku yang masih bergantung pada impor.
“Pastinya harga bahan makanan naik, karena sebagian makanan tergantung pada nilai pasar dunia. Belum lagi biaya operasional kendaraan dinas, ini akan mempengaruhi biaya produksi kita,” katanya.
Ia menambahkan, sejumlah kebutuhan industri perhotelan dan restoran masih mengandalkan produk impor sehingga fluktuasi kurs dolar akan berdampak pada kenaikan biaya produksi.
“Terus bahan-bahan yang masih import karena tidak semua barang itu produk Indonesia. Tapi belum terasa, semoga saja bisa dikendalikan biar cepat normal lagi,” pungkasnya.
Penulis: Samsu
Editor: Ramses








