Wacana Sekolah Daring untuk Penghematan Energi Picu Polemik di Masyarakat

S2fBsoofIM

LINGKARMEDIA.COM – Mencuatnya wacana pembelajaran dari rumah atau sekolah daring jadi perbincangan di kalangan masyarakat bawah hingga menuai keresahan meski dalam kegiatan belajar bersifat praktikum tetap dilaksanakan secara tatap muka.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia (Menko PMK) Pratikno menyampaikan bahwa ide ini dibahas saat Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Kebijakan Penghematan BBM yang dilakukan secara daring pada Selasa (17/3/2026).

Dijelaskannya, wacana sekolah secara daring merupakan bagian dari strategi penghematan energi lintas instansi, sesuai dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini mempertimbangkan pengalaman saat pandemi Covid-19 dan didasarkan pada data.

Menanggapi wacana tersebut, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, menolak opsi penerapan sekolah online sebagai bagian dari strategi nasional penghematan konsumsi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).

Dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (23/3/2026), Esti menekankan bahwa pengalaman pahit selama pandemi COVID-19 seharusnya menjadi cermin bahwa sistem pembelajaran jarak jauh menyisakan persoalan kompleks yang hingga kini belum sepenuhnya tuntas.

Esti Wijayanti menyampaikan keprihatinannya atas isu pembelajaran daring yang kembali muncul. Ia menjelaskan bahwa wacana ini muncul di tengah tekanan pasokan energi global dan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik. Pembelajaran daring juga menyisakan masalah bagi sistem pendidikan nasional

Legislator yang membidangi urusan pendidikan tersebut menyoroti fenomena learning loss sebagai ancaman nyata jika siswa kembali dijauhkan dari interaksi fisik di sekolah.

Menurutnya, penurunan kemampuan kognitif, merosotnya kedisiplinan, hingga kendala penguasaan teknologi masih menjadi momok bagi tumbuh kembang anak di Indonesia.

“Pembelajaran secara daring pernah kita laksanakan ketika terjadi wabah COVID-19, dan kita semua tahu sistem tersebut meninggalkan problem yang tidak sederhana bagi dunia pendidikan kita,” ungkap Esti.

Lebih lanjut, Esti menjelaskan bahwa sekolah bukan sekadar tempat menyerap materi pelajaran, melainkan ruang pembentukan karakter dan aspek afektif siswa

Pengamat pendidikan, Dr Sapardiyono, Dosen Universitas Muhammadyah Purworejo menilai kebijakan pembelajaran daring tidak bisa dilepaskan dari konteks global yang sedang terjadi. Menurutnya, ketegangan geopolitik yang melibatkan negara-negara besar berdampak luas, termasuk pada sektor energi di Indonesia.

“Dalam rangka mitigasi krisis energi, langkah efisiensi seperti pembelajaran daring bisa dipahami dan patut diapresiasi sebagai upaya pemerintah menjaga ketersediaan energi dalam jangka panjang,” ujarnya.

Meski demikian, Sapardiyono mengingatkan bahwa kebijakan tersebut tidak boleh hanya dilihat dari sisi efisiensi semata. Ia menilai terdapat risiko penurunan kualitas pendidikan jika pembelajaran daring diterapkan secara penuh dalam jangka panjang.

Ia menyoroti adanya kesenjangan akses digital di masyarakat, khususnya di wilayah seperti Kulon Progo, di mana tidak semua siswa memiliki akses internet yang memadai. Selain itu, pembelajaran daring juga dinilai berpotensi meningkatkan beban orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah.

“Tidak semua orang tua memiliki kemampuan untuk membantu anak memahami materi pelajaran. Ini berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran,” jelasnya.

Sementara, banyak kalangan masyarakat mengeluhkan pelaksanaan sekolah secara daring, untuk program MBG tetap berjalan dan mengharuskan siswa mengambil paket MBG ke sekolah.

“Ini tak masuk akal, anak disuruh belajar secara on line alasan hemat BBM, tapi di saat yang sama anak harus berangkat ke sekolah untuk mengambil MBG,” keluh salah satu warga kepada awak media, Selasa (24/3/2026).

 

Penulis : Tim Education Care

Editor : Panji