Saminisme, Perlawanan Nir Kekerasan Terus Dilakoni Wong Sikep

IMG-20251207-WA0033

LINGKARMEDIA.COM – Diantara deretan desa yang tenang di Blora, Jawa Tengah, seorang petani bersorban sederhana berdiri di depan sekelompok warga. Ia bukan bangsawan, bukan pula pejabat kolonial. Tapi tutur katanya membuat orang-orang menunduk—bukan karena takut, tapi karena rasa hormat yang lahir dari kejujuran dan kesahajaan.

Namanya Samin Surosentiko. Lahir pada 1859, Surontiko Samin, begitu nama aslinya, adalah satu dari banyak petani kecil yang hidup dalam bayang-bayang pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Saat itu, hutan jati di kawasan Blora dan Bojonegoro bukan lagi milik bersama. Belanda menutup akses, menetapkan pajak, dan mengontrol segala aktivitas warga desa, bahkan untuk sekadar mengambil kayu bakar. Namun Samin memilih jalan yang berbeda.

Ia tidak mengangkat senjata. Ia tak menghasut orang untuk membakar gudang kolonial. Tapi ia mengajarkan warganya satu hal: jangan bayar pajak jika itu tidak adil.

Ambil kayu secukupnya jika itu untuk hidup. Dan hadapilah aparat dengan kepala tegak, tanpa rasa takut.

Gerakan ini kemudian dikenal sebagai Saminisme—suatu bentuk perlawanan sipil yang sangat langka dalam sejarah kolonialisme Indonmurni

Ajaran Samin (disebut juga Pergerakan Samin atau Saminisme) adalah salah satu kepercayaan yang ada di Pulau Jawa Indonesia. Samin Surosentiko, sang pemimpin yang mengajarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk nir kekerasan.

Saminisme mengajarkan agama sebagai pegangan hidup, tidak membeda-bedakan agama, tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya. Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati, dan jangan suka mengambil milik orang. Bersikap sabar dan jangan sombong. Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama dengan roh dan hanya satu, dibawa abadi selamanya.

Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, tetapi hanya menanggalkan pakaiannya. Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur, dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena dalam perdagangan terdapat unsur “ketidakjujuran”. Juga tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk uang.

Bentuk perlawanan mereka hingga kini adalah menolak membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Samin acap memusingkan pemerintah Belanda maupun penjajahan Jepang bahkan pemerintahan yang berkuasa sekarang.

Tidak ada doktrin tertulis. Tidak ada manifesto politik. Ajarannya diwariskan dari mulut ke mulut: “Ora nyolong, ora ngapusi, ora mata-mata” — jangan mencuri, jangan berbohong, dan jangan menjadi mata-mata.

Pengikut ajaran Samin mempunyai lima ajaran: Belajar Di Rumah (tidak bersekolah di Luar), tidak memakai peci, tapi memakai “iket”, yaitu semacam kain yang diikatkan di kepala mirip orang Jawa dahulu,

tidak berpoligami, tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut, tidak berdagang, dan penolakan terhadap kapitalisme.

Bagi Samin, melawan berarti tetap hidup jujur meski negara menindas. Ia percaya, hukum moral lebih tinggi dari hukum negara.

Tak heran, banyak aparat kolonial yang justru bingung menghadapi mereka. Bagaimana cara menaklukkan sekelompok petani yang tidak melawan tapi juga tidak tunduk?

Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri sejak jaman kolonial dan tahun ’70-an, mereka baru tahu Indonesia telah merdeka. Kelompok Samin ini tersebar sampai Jawa Tengah, tetapi konsentrasi terbesarnya berada di kawasan Blora dan Bojonegoro, yang masing-masing bermukim di perbatasan kedua wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Jumlah mereka tidak banyak dan tinggal di kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan dua provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kelompok Samin lebih suka disebut ‘Wong Sikep’.

Pokok ajaran Samin Surosentiko, yang nama aslinya Raden Kohar, kelahiran Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, tahun 1859, pada tahun 1907, Surontiko Samin ditangkap dan dibuang ke Padang, Sumatera Barat. Ia meninggal di pengasingan pada 1914. Tapi ajarannya tak mati.

Pada awal abad ke-20, pengikut Samin tersebar hingga Bojonegoro, Pati, Kudus, dan Ngawi. Pemerintah kolonial mulai gusar.

Hari ini, di desa-desa kecil seperti Klopodhuwur di Blora, masih hidup keluarga-keluarga yang menyebut diri mereka sedulur sikep. Mereka tidak memakai label ideologi besar, tidak mengaku penganut agama formal, tapi hidup dengan prinsip lama: jujur, damai, dan menyatu dengan alam.

Saminisme bukan hanya catatan kaki dalam buku sejarah kolonial. Ia adalah pengingat bahwa di masa lalu, perlawanan tidak selalu muncul dari barikade atau senapan.

Kadang, ia lahir dari ladang, dari cangkul, dari petani yang menolak tunduk tapi juga enggan melukai. Dan mungkin, itulah bentuk keberanian paling murni.

Penulis: Tim literasi Budaya

Editor: Panji