Ratusan Pendaki Bertahan Di jalur Aman Erupsi Semeru

IMG-20251120-WA0010

LINGKARMEDIA.COM – Pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), pada Rabu (19/11) mengatakan, saat ini sebanyak 178 pendaki tercatat berada di kawasan Ranu Kumbolo, Gunung Semeru.

Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS, Septi Eka Wardhani, menjelaskan bahwa mereka terdiri dari 137 pendaki, 1 petugas, 2 saver, 7 anggota PPGST, 15 porter, serta 6 orang dari tim Kementerian Pariwisata.

“Para pendaki hingga saat ini masih diminta tetap bertahan di lokasi, menyusul aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang meningkat dan kondisi jalur yang berisiko tinggi apabila dilakukan evakuasi malam hari,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, hingga sore tadi, tim Pemandu Pendakian Gunung Semeru Terdaftar (PPGST) yang berada di lapangan telah berkomunikasi dengan pihak TNBTS terkait kemungkinan evakuasi. Namun, kondisi jalur yang gelap serta licin membuat proses evakuasi malam dianggap berisiko tinggi.

“Teman-teman PPGST menyampaikan bahwa evakuasi malam tidak direkomendasikan karena risikonya sama, terutama karena gelap, licin, dan beberapa lokasi jalur rawan longsor,” tegas Septi.

Ranu Kumbolo merupakan danau kawah di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut (dpl) atau berjarak sekitar enam jam dari puncak Gunung Semeru via jalur pendakian Kalimati yang biasa didatangi para pendaki.

Kepala Desa Supiturang Nurul mengatakan warga telah meninggalkan rumah masing-masing untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. “Semuanya mengungsi,” ujar Nurul.

Letusan awan panas guguran terjadi pukul 14.13 WIB. Guguran itu membuat warga panik dan para penambang langsung berlarian ke tempat aman, dan menyetop aktivitas pertambangan di 2 sungai yang dilintasi Awan Panas Guguran (APG).

Letusan awan panas guguran dari Gunung Semeru, membuat warga desa terdekat dari Gunung Semeru, berlarian mencari tempat lokasi aman, dan menghentikan aktivitas penambangan pasir, bahkan warga yang berada di perumahan yang dibangun pemerintah, dampak erupsi tahun lalu, juga panik.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya melaporkan Gunung Semeru meletus pada pukul 16.00 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 2.000 meter di atas puncak.

Dalam letusan itu, Gunung Semeru menghembuskan awan panas yang memiliki jarak luncur mencapai tujuh kilometer dari arah puncak dengan kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut.

Erupsi terekam di seismogram pos pemantauan gunung api di Lumajang memiliki amplitudo maksimum 40 mm dan durasi sekitar 16 menit 40 detik.

Aktivitas erupsi Gunung Semeru yang terpantau pada sore hari ini dipastikan berakhir pada pukul 18.11 WIB, namun pemerintah dan Badan Geologi masih menetapkan status Level IV atau Awas untuk mengantisipasi potensi aktivitas lanjutan yang mungkin terjadi.

Penulis: Tim Reaksi Bencana

Editor: Ramses