Dua Remaja Hilang di Gunung Bismo Ditemukan Meninggal Dunia Setelah Hampir Dua Pekan, Diduga Terjatuh ke Jurang

IMG_20260713_111144

LINGKARMEDIA.COM – Dua remaja asal Desa Krinjing, Kecamatan Watumalang, Kabupaten Wonosobo, yang dilaporkan hilang saat mendaki Gunung Bismo sejak 30 Juni 2026, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah hampir dua pekan pencarian.

Kedua korban diketahui bernama Arifin Nurohmat (18) dan Yufaidin (15). Mereka ditemukan pada Minggu (12/7/2026) sekitar pukul 13.00 WIB di kawasan lembah sekitar Curug Tiga, Gunung Bismo, oleh tim relawan bersama Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/hingga-hari-ke-8-dua-remaja-hilang-saat-mendaki-gunung-bismo-belum-ditemukan-operasi-sar-diperpanjang/

Kepala BPBD Wonosobo, Sumekto Hendro, mengatakan penemuan tersebut terjadi setelah tim Wanadri melakukan penyisiran lanjutan, meskipun operasi pencarian resmi telah ditutup sehari sebelumnya.

“Operasi pencarian sebenarnya sudah ditutup pada Sabtu (11/7). Namun, tim dari Wanadri tetap melakukan penyisiran ke kawasan Curug Tiga dan akhirnya menemukan kedua korban,” ujar Sumekto, Senin (13/7/2026).

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

Lokasi penemuan berada di dasar lembah dengan kontur yang sangat curam dan diperkirakan memiliki kedalaman sekitar 200 meter. Kondisi tersebut membuat proses evakuasi tidak dapat dilakukan secara manual sehingga memerlukan peralatan khusus.

Setelah memastikan keberadaan korban, relawan segera berkoordinasi dengan Basarnas. Tim SAR gabungan kemudian bergerak menuju lokasi dengan membawa perlengkapan vertical rescue berupa tali pengaman dan peralatan evakuasi khusus.

Proses evakuasi berlangsung sangat menantang. Selain medan yang ekstrem, kawasan hutan di sekitar Curug Tiga memiliki vegetasi yang sangat rapat sehingga menyulitkan akses menuju lokasi korban.

Ratusan relawan dari berbagai unsur turut kembali naik ke Gunung Bismo untuk membantu proses evakuasi. Upaya tersebut berlangsung sekitar tujuh jam hingga akhirnya kedua jenazah berhasil diangkat dari dasar jurang.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

“Kedua korban berhasil dievakuasi ke basecamp sekitar pukul 21.00 WIB. Medannya sangat sulit sehingga membutuhkan waktu cukup lama,” jelas Sumekto.

Saat ditemukan, kondisi kedua jasad telah mengalami pembusukan. Berdasarkan pengamatan awal, diduga keduanya telah meninggal dunia sejak beberapa hari sebelum ditemukan.

“Kondisi jenazah sudah membusuk dan ditemukan dalam posisi yang agak berjauhan, namun masih berada dalam jarak yang relatif berdekatan,” tambahnya.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Hingga kini, penyebab pasti meninggalnya kedua remaja tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan dari pihak berwenang. Namun, dugaan sementara mengarah pada kemungkinan keduanya terjatuh ke jurang di kawasan Curug Tiga.

Setelah proses evakuasi selesai, kedua jenazah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan sebelum diserahkan kepada keluarga. Selanjutnya, jenazah dibawa ke rumah duka di Desa Krinjing untuk dimakamkan.

Sumekto juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses pencarian hingga evakuasi korban.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh relawan, warga sekitar, tim Wanadri, Basarnas, aparat, dan semua unsur yang telah membantu selama proses pencarian berlangsung,” katanya.

Berangkat Tanpa Izin dan Perlengkapan Memadai

Peristiwa ini bermula pada Selasa, 30 Juni 2026, sekitar pukul 12.00 WIB. Arifin dan Yufaidin meninggalkan rumah tanpa berpamitan kepada keluarga untuk mendaki Gunung Bismo.

Keduanya diketahui hanya membawa perlengkapan yang sangat sederhana. Bekal yang dibawa berupa roti, tiga buah sosis, dan beberapa wafer. Mereka juga hanya mengenakan pakaian kasual berupa kaus dan celana pendek tanpa perlengkapan pendakian yang memadai.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Sejumlah warga sempat melihat keduanya berjalan menuju kawasan Jembatan Kalipreng. Setelah itu, mereka juga terlihat melintas di sekitar Gubuk Pakutar yang mengarah ke jalur pendakian Gunung Banturan melalui jalur tidak resmi dari Dusun Rejosari.

Sejak melintasi kawasan tersebut, tidak ada lagi warga yang melihat keberadaan kedua remaja itu.

Karena tidak kunjung pulang, keluarga bersama warga sekitar langsung melakukan pencarian secara mandiri. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil sehingga laporan kehilangan disampaikan kepada aparat dan Basarnas.

Pencarian Libatkan Ratusan Relawan

Tim SAR gabungan memulai operasi pencarian sejak awal Juli 2026. Operasi melibatkan Basarnas, BPBD, TNI, Polri, komunitas pendaki, relawan, hingga berbagai unsur potensi SAR.

Penyisiran dilakukan di sejumlah titik yang diduga menjadi lintasan korban, mulai dari Pos 3 dan Pos 4 jalur Deroduwur, Bukit Semberani, jalur Tegalsari, kawasan Silandak di Sikunang, hingga lembah Curug Tiga.

Untuk memperluas jangkauan pencarian, Basarnas mengoperasikan drone thermal atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) yang mampu mendeteksi panas tubuh dari udara. Selain itu, unit anjing pelacak (K9) juga diterjunkan guna membantu pencarian di kawasan hutan dengan vegetasi lebat.

Meski demikian, kondisi medan yang curam, lembah yang dalam, serta rapatnya tutupan hutan menjadi tantangan utama selama operasi berlangsung.

Gunung Bismo Miliki Medan yang Menantang

Gunung Bismo merupakan salah satu gunung di kawasan Kompleks Gunung Api Dieng yang mulai dibuka untuk aktivitas pendakian sekitar tahun 2019.

Gunung dengan ketinggian sekitar 2.365 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini merupakan bekas gunung api purba bertipe maar yang memiliki kawah mati berukuran luas.

Meski tidak setinggi Gunung Sindoro maupun Gunung Sumbing, Gunung Bismo dikenal memiliki panorama alam yang indah dengan hamparan perbukitan, sabana, serta pemandangan dataran tinggi Dieng.

Namun demikian, sejumlah jalur di gunung ini memiliki kontur yang cukup ekstrem, terutama di kawasan lembah dan sekitar Curug Tiga yang dipenuhi jurang curam serta vegetasi rapat. Kondisi tersebut mengharuskan para pendaki mempersiapkan perlengkapan memadai, menggunakan jalur resmi, serta selalu mengutamakan keselamatan selama melakukan pendakian.

 

Penulis: Ramses

Editor: Samsu