Operasi Penyaluran Senjata Oposisi Iran Dilaporkan Kandas
LINGKARMEDIA.COM – Klaim mengenai penggagalan pengiriman senjata besar-besaran oleh Amerika Serikat untuk kelompok oposisi Kurdi Iran kini semakin menguat. Otoritas keamanan Teheran melaporkan telah memutus jalur logistik utama di wilayah pegunungan yang menghubungkan Kurdistan Irak dengan wilayah Iran Barat.
Media pemerintah Iran (IRNA) merilis dokumentasi penyitaan sekitar 60.000 unit peralatan militer (versi intelijen Iran menyebut keterlibatan Mossad dan AS) yang terdiri dari senapan serbu, granat, dan perangkat komunikasi satelit terenkripsi.
Komando Pusat AS (CENTCOM) secara resmi menolak berkomentar mengenai rincian operasi darat ini, namun menegaskan bahwa fokus utama AS saat ini adalah memastikan keamanan pangkalan militer mereka di kawasan pasca-serangan rudal balistik Iran ke wilayah Teluk.
Militer Irak (Baghdad) dilaporkan telah mengerahkan pasukan tambahan ke perbatasan untuk mencegah wilayah mereka dijadikan batu loncatan konflik, yang secara efektif menghambat gerak maju kelompok oposisi Kurdi (PJAK/PAK) yang telah bersiap sejak akhir Februari.
Meskipun kehilangan Ali Khamenei dalam serangan udara pada 28 Februari lalu, Korps Garda Revolusi Islam (I.R.G.C) terbukti masih memiliki kontrol intelijen yang tajam di wilayah perbatasan, mementahkan prediksi awal tentang keruntuhan komando instan.
Iran mengklaim telah menembak jatuh sedikitnya 22 drone pengintai (Hermes/MQ-9) dalam 72 jam terakhir di sepanjang jalur yang diduga digunakan untuk penyelundupan senjata.
Teheran mengancam akan menyerang target-target di Israel dan pangkalan AS lebih lanjut jika dukungan terhadap kelompok separatis domestik terus berlanjut.
Dikonfirmasi oleh sumber-sumber lokal di perbatasan, namun klaim AS mengenai “negosiasi langsung dengan oposisi” tetap dibantah secara resmi oleh Gedung Putih sebagai bentuk dukungan logistik pertahanan pangkalan, bukan pemicu pemberontakan.
Kegagalan ini memaksa Washington meninjau ulang strategi “perubahan rezim dari dalam” dan kemungkinan akan meningkatkan intensitas serangan udara langsung (Direct Strike) sebagai gantinya.
Penulis : Tim Ekopol
Editor : Panji








