Ekosistem Hutan Tropika Basah dalam Krisis Perubahan Iklim Global

IMG-20260202-WA0051

LINGKARMEDIA.COM – Penyebab krisis iklim adalah pemanasan global yang dipicu emisi karbon di atmosfer. Emisi karbon adalah hasil aktivitas ekonomi manusia. Penyebab terbesar adanya emisi karbon diantaranya akibat alih fungsi hutan untuk kepentingan pembangunan.

Bagaimana sebenarnya posisi dan peran ekosistem mangrove dan gambut di Indonesia terkait penyerapan emisi karbon secara global?

Kebakaran gambut di Indonesia tahun 1997-1998 telah melepaskan hingga 2,5 miliar ton karbon, sedangkan kebakaran tahun 2002-2003 telah melepaskan antara 200 juta hingga satu miliar ton karbon ke atmosfer.

Menurut data terakhir, sektor terbesar penyumbang emisi sebesar 48 persen berasal dari perubahan fungsi hutan menjadi non-hutan. Menyusul karbon dari transportasi sebesar 21 persen, kebakaran sebesar 12 persen, limbah pabrik sebesar 11 persen, pertanian 5 persen, dan sektor industri 3 persen.

Aktivitas yang menghasilkan emisi karbon dari sektor kehutanan adalah hilangnya vegetasi kayu akibat penebangan hutan, baik secara legal (melalui perizinan resmi) maupun ilegal (melalui perambahan hutan dan pencurian kayu) serta kebakaran hutan.

Indonesia merupakan tiga besar pemilik hutan tropika basah di dunia setelah negara Brasil dan Republik Demokratik Kongo yang mempunyai saham besar dalam penyerapan emisi karbon dari kawasan hutannya.

Beberapa tipe ekosistem hutan tropika basah yang mempunyai andil besar dalam penyerapan dan penyimpanan ekosistem karbon adalah ekosistem hutan mangrove dan hutan gambut.

Hutan Mangrove berfungsi sebagai pelindung alami terhadap abrasi dan erosi pantai, serta menyerap dampak gelombang laut saat cuaca ekstrem.

Selain itu, mangrove juga menyimpan cadangan karbon yang besar, membantu menstabilkan ekosistem, dan menyediakan habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna. Mangrove juga berperan dalam meningkatkan kualitas air dengan menyaring polutan seperti nitrat dan fosfat.

Fungsi ekologis mangrove berbeda dengan hutan daratan dalam beberapa aspek. Mangrove memiliki akar yang lebat yang membantu mengikat dan membangun kepadatan tanah, serta memperlambat aliran air laut dan mendorong endapan sedimen yang mengurangi erosi pantai. Mangrove juga memiliki kemampuan unik untuk menyaring polutan dari air, yang tidak dimiliki oleh hutan daratan.

Sedang hutan Gambut merupakan bentuk ekosistem vegetasi yang terbentuk akibat pelapukan bahan organik dalam kondisi lingkungan yang kekurangan oksigen (anaerob), biasanya karena tergenang air. Lingkungan seperti ini berperan sebagai “lemari pendingin alami” yang mampu mengawetkan sisa-sisa tumbuhan seperti biji dan benang sari, yang menjadi objek penting dalam studi paleoekologi. Vegetasi gambut biasanya berkembang di wilayah cekungan yang terletak di belakang daerah rawa.

Terdapat dua jenis gambut utama, yaitu ombrogen dan topogen. Gambut ombrogen terbentuk di daerah cekungan dalam dengan kedalaman bisa mencapai 20 meter. Jenis ini miskin unsur hara, terutama kalsium, serta memiliki air dengan tingkat keasaman yang tinggi. Tanaman tumbuh di atas tumpukan serasah organik dari vegetasi sebelumnya, tanpa pasokan mineral dari luar, dan proses pembentukannya sangat dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi.

Sebaliknya, gambut topogen memiliki kondisi yang relatif lebih subur, dengan kedalaman kurang dari 4 meter. Airnya masih agak masam, namun lebih kaya hara karena adanya siklus naik-turun air yang menyebabkan proses oksidasi serasah pohon dan pembentukan mineral. Beberapa tumbuhan yang umum ditemukan di wilayah ini antara lain ramin (Gonystylus bancanus) dan palawan (Tristania sp.).

Hutan gambut ditandai oleh lapisan bahan organik tebal (lebih dari 1 meter), sedangkan hutan rawa yang mengandung gambut berada di zona transisi yang memperlihatkan kombinasi elemen gambut dan rawa. Vegetasi di hutan bergambut menunjukkan variasi tinggi tajuk pohon dan bersifat campuran, namun tetap memiliki keanekaragaman spesies yang lebih rendah dibandingkan hutan hujan tropis pohon dikotil. Ketinggian pohon bisa mencapai 30 meter di bagian pinggiran, namun akan semakin pendek ke arah pusat, seiring kondisi lingkungan yang semakin ekstrem.

Vegetasi di bagian pusat gambut, terutama saat lapisan gambut lebih dari 2 meter, sering kali berupa hutan cebol (dwarf forest atau Krüppelhölz). Flora hutan gambut meliputi berbagai jenis, mulai dari gulma hingga spesies khas seperti Pandanus, Podocarpus, serta keluarga Dipterocarpaceae. Banyak tumbuhan di ekosistem ini bersifat khas, namun jumlah total spesiesnya cenderung terbatas karena kondisi tanah yang sangat asam (pH sekitar 3,2). Misalnya, di Sumatra hanya ditemukan sekitar 100 spesies pohon di hutan gambut.

Jika ekosistem gambut dikeringkan, hutan gambut bisa berubah menjadi daerah yang didominasi paku-pakuan seperti Gleichenia sp. Spesies asli pun akan hilang. Hal serupa terjadi di daerah pasang surut yang terganggu karena penggalian, yang menyebabkan air gambut terperangkap dan tidak bisa mengalir keluar. Hal ini memicu penurunan pH dan mengakibatkan tanah kehilangan gambutnya.

Strategi konservasi mangrove dan gambut yang efektif di Indonesia diperlukan moratorium konversi mangrove dan gambut untuk peruntukan lain, seperti tambak atau perkebunan. Penanaman kembali mangrove dan gambut di lahan yang telah rusak atau terdegradasi harus dilakukan secara berkelanjutan.

Perubahan iklim memiliki dampak signifikan terhadap ekosistem mangrove. Kenaikan permukaan laut dapat menenggelamkan area mangrove, mengurangi habitat dan keanekaragaman hayati.

Perubahan pola curah hujan dapat mempengaruhi salinitas tanah dan air di sekitar mangrove, yang berdampak pada kesehatan dan pertumbuhan mangrove. Selain itu, peristiwa cuaca ekstrem seperti siklon tropis dan gelombang panas dapat merusak struktur akar mangrove dan menyebabkan erosi tanah yang mendalam.

Pengelolaan mangrove dan gambut harus melibatkan masyarakat lokal dan atau masyarakat adat melalui pendidikan dan pelatihan tentang pentingnya hutan tropika basah. Selain itu, kebijakan pemerintah harus mendukung konservasi hutan tropika basah.

Partisipasi masyarakat adat atau lokal sangat penting dalam pelestarian hutan tropika basah. Masyarakat adat atau lokal harus dilibatkan dalam berbagai kegiatan konservasi, seperti penanaman bibit mangrove, pengawasan terhadap aktivitas ilegal, dan edukasi tentang pentingnya hutan mangrove dan gambut. Selain itu, masyarakat adat atau lokal diposisikan sebagai subjek dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan hutan mangrove dan gambut.

Penulis: Tim Keadilan Ekologis

Editor: Ramses