Dua PRT di Benhil Nekat Terjun dari Lantai 4, Satu Tewas, Polisi Dalami Dugaan Motif
LINGKARMEDIA.COM – Peristiwa tragis terjadi di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dua pekerja rumah tangga (PRT) perempuan nekat melompat dari lantai empat sebuah bangunan kos-kosan pada Rabu (22/4/2026) malam. Insiden tersebut mengakibatkan satu orang meninggal dunia, sementara satu lainnya selamat namun mengalami luka serius.
Korban meninggal diketahui bernama Diva (18), sedangkan korban selamat, Ijah (26), saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat mengalami patah tulang pada bagian tangan. Peristiwa ini sontak mengejutkan warga sekitar dan memicu perhatian publik, terutama terkait dugaan kondisi kerja yang dialami kedua korban.
Baca juga: https://lingkarmedia.com/selain-upah-prt-kini-punya-hak-setara-pekerja-lain-usai-pengesahan-uu-pprt/
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Saputra, menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan awal, kedua korban diduga melompat karena tidak betah bekerja di tempat mereka bekerja sebagai PRT.
“Informasi sementara, mereka tidak betah. Kemudian kabur bersama, lalu berdua melompat dari lantai empat,” ujar Roby saat dikonfirmasi, Kamis (23/4/2026).
Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==
Menurutnya, aksi nekat tersebut dilakukan secara bersamaan saat keduanya berusaha melarikan diri dari lokasi tempat mereka bekerja. Namun nahas, Diva meninggal dunia akibat luka serius setelah terjatuh, sementara Ijah masih berjuang untuk pulih dari cedera yang dialaminya.
Pihak kepolisian juga mengungkap adanya dugaan bahwa kedua korban merasa tertekan selama bekerja. Hal ini diperkuat oleh keterangan sejumlah saksi yang menyebut bahwa majikan korban diduga memiliki sikap kasar.
“Ada saksi yang menyampaikan bahwa mereka tidak betah karena majikannya disebut-sebut sadis. Tapi sejauh ini belum ada keterangan yang menyebut adanya penyiksaan secara langsung, hanya disebut galak,” jelas Roby.
Lihat juga: https://www.facebook.com/share/1AsvdQn4uw/
Meski demikian, pihak kepolisian masih berhati-hati dalam menyimpulkan motif pasti di balik kejadian ini. Hingga kini, penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengungkap fakta sebenarnya, termasuk mendalami kondisi kerja yang dialami para korban selama menjadi PRT.
Roby menambahkan bahwa pihaknya belum dapat menggali keterangan lebih lanjut dari Ijah, mengingat kondisinya yang masih dalam perawatan medis. Polisi berencana meminta keterangan korban selamat setelah kondisi kesehatannya membaik.
“Kami masih menunggu kondisi saksi yang selamat untuk bisa dimintai keterangan lebih lanjut. Itu penting untuk mengetahui secara utuh apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.
Lihat juga: https://x.com/LingkarMed
Selain itu, kepolisian juga berencana memeriksa majikan korban sebagai bagian dari proses penyelidikan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan apakah ada unsur kekerasan, tekanan, atau pelanggaran lain yang dialami oleh kedua PRT tersebut selama bekerja.
Bangunan tempat kejadian diketahui merupakan rumah kos yang terdiri dari empat lantai. Tiga lantai digunakan sebagai kamar kos, sementara lantai empat ditempati oleh pemilik bangunan. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa akses menuju lantai empat dalam kondisi tertutup, yang diduga menjadi salah satu faktor yang memicu kepanikan korban.
Sejumlah warga sekitar mengaku terkejut dengan kejadian tersebut. Mereka tidak menyangka insiden tragis seperti itu terjadi di lingkungan yang selama ini terbilang cukup tenang.
“Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Tiba-tiba saja ada suara gaduh, lalu diketahui ada yang jatuh,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Peristiwa ini kembali menyoroti kondisi kerja pekerja rumah tangga di Indonesia yang kerap luput dari pengawasan. PRT sering kali bekerja di ruang privat yang minim perlindungan hukum, sehingga rentan terhadap berbagai bentuk tekanan, baik fisik maupun psikis.
Kasus ini juga menjadi pengingat pentingnya perlindungan terhadap pekerja domestik, termasuk pemenuhan hak-hak dasar mereka sebagai pekerja. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat lebih memperhatikan kondisi kerja PRT agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Sejumlah aktivis pekerja juga menyoroti pentingnya regulasi yang lebih tegas terkait perlindungan PRT. Mereka menilai bahwa kasus seperti ini tidak hanya persoalan individu, tetapi juga mencerminkan persoalan struktural dalam sistem ketenagakerjaan domestik.
Di sisi lain, kepolisian memastikan akan menangani kasus ini secara profesional dan transparan. Semua kemungkinan akan didalami, termasuk dugaan adanya tekanan psikologis yang mendorong korban mengambil langkah ekstrem.
“Kami akan mendalami semua aspek, baik dari keterangan saksi, kondisi tempat kejadian, maupun latar belakang korban. Tujuannya untuk memastikan keadilan bagi para korban,” tegas Roby.
Hingga saat ini, jenazah Diva telah dievakuasi dan proses identifikasi telah dilakukan oleh pihak berwenang. Sementara itu, Ijah masih mendapatkan penanganan intensif di rumah sakit dengan harapan kondisinya segera membaik.
Tragedi ini menjadi peringatan bahwa persoalan kesejahteraan dan perlindungan pekerja rumah tangga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah, penegak hukum, maupun masyarakat, sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan manusiawi bagi semua.
Kasus di Benhil ini pun diharapkan dapat membuka ruang diskusi lebih luas tentang pentingnya perlindungan terhadap kelompok pekerja rentan, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sistem pengawasan dan penegakan hukum di sektor domestik.
Penulis : Ramses
Editor : Samsu








