Depresi Tak Mampu Beli Buku dan Pulpen, Siswa SD di Ngada NTT Bunuh Diri

IMG-20260204-WA0017

LINGKARMEDIA.COM – Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka, seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar berinisial YBS (10), ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya di sebuah pohon cengkeh di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Peristiwa tragis yang terjadi pada Kamis (29/1) ini menjadi sorotan nasional pada Selasa (3/2). YBS diduga nekat melakukan aksi tersebut karena depresi setelah permintaannya untuk membeli buku tulis dan pulpen ditolak oleh ibunya akibat kesulitan ekonomi.

Berdasarkan keterangan saksi dan pihak kepolisian, sehari sebelum kejadian, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli perlengkapan sekolah. Namun, sang ibu terpaksa menolak karena tidak memiliki uang sama sekali.

Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan korban di sekitar lokasi kejadian. Surat tersebut ditulis dalam bahasa Ngada yang ditujukan kepada ibunya.

Dalam surat tersebut tertulis “Kertas tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti). Mama Galo Zee (Mama pelit sekali). Mama molo ja’o galo mata mae Rita ee mama (Mama baik sudah, kalau saya meninggal mama jangan nangis). Mama jao galo mata mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis, juga jangan cari saya). Molo mama (Selamat tinggal mama).”

Kondisi keluarga YBS dilaporkan sangat memprihatinkan. Korban tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun di sebuah pondok. Ayahnya meninggal sejak ia masih dalam kandungan, sementara ibunya harus berjuang menghidupi lima orang anak sendirian.

Tragedi ini sontak memantik reaksi keras dari berbagai pihak. Pengamat politik, Rocky Gerung, menyebut insiden di Ngada sebagai tamparan telak bagi pemerintah yang kerap membanggakan angka pertumbuhan ekonomi di kancah internasional.

“Buku tulis adalah hak dia yang seharusnya disediakan oleh negara. Ada yang salah dengan kebijakan pemerintah dalam memastikan keadilan sosial. Ini adalah bukti kegagalan negara hadir di tingkat akar rumput,” tegas Rocky dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).

Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, menyatakan bahwa anak mengakhiri hidup dengan mayoritas alasan perundungan, pengasuhan, ekonomi, gim online, dan asmara. Oleh karenanya, kata Diyah, kasus ini harus diusut menyeluruh agar anak tidak mendapatkan stigma negatif.

Anak mendapatkan hak pendidikan, kata Diyah, menjadi satu hal yang harus dipenuhi. Terlebih, faktor pengasuhan juga menjadi sorotan di kasus ini karena anak tidak didampingi orang tuanya.

Lebih lanjut Diyah menuturkan, data KPAI menunjukan anak mengakhiri hidup di Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Dia pun meminta pemerintah dan masyarakat tak meremehkan kasus anak mengakhiri hidup seperti ini karena setiap tahunnya selalu ada kasus serupa.

“Kasus seperti ini pernah terjadi tahun 2023 di Kebumen, hampir mirip. Hanya saja anaknya ini meminta uang jajan, tidak punya uang, kemudian dia menceburkan diri di sungai. Nah ini tidak bisa kita normalisasi karena Indonesia dalam kondisi darurat anak mengakhiri hidup,” kata Diyah.

Penulis: Tim Education Care

Editor: Ramses