Individualisme dan Kemungkinan Tidak Saling Meniadakan
Oleh : Milla Askar
Di tengah keyakinan lama bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tumbuh dan menemukan makna melalui kebersamaan, ada sebuah pandangan yang bergerak ke arah sebaliknya.
Pandangan ini tidak lahir dari penolakan terhadap sesama, melainkan dari pengalaman manusia modern yang kian sering merasa sendirian di tengah keramaian. Ia muncul dari kesadaran bahwa relasi sosial tidak selalu hadir sebagai sokongan yang menguatkan, melainkan kerap berubah menjadi jarak, tuntutan, dan beban bagi sesamanya. Dari sanalah teori yang menegaskan manusia sebagai makhluk individual menemukan relevansinya.
Dalam sejarah pemikiran politik modern, Thomas Hobbes dan John Locke telah lebih dahulu merumuskan manusia sebagai individu sebelum ia menjadi makhluk sosial. Bagi Hobbes, manusia dalam keadaan alamiah adalah subjek yang terpisah, digerakkan oleh naluri mempertahankan diri dan kepentingan personal. Relasi sosial bukanlah kodrat, melainkan jalan keluar dari ketakutan dan kekacauan. Locke, meskipun lebih optimistis, tetap memulai dari individu yang bebas dan setara, yang kemudian secara rasional membentuk masyarakat demi melindungi hak hidup, kebebasan, dan milik. Dalam kerangka ini, masyarakat bukan asal-usul manusia, melainkan hasil kontrak. Aku mendahului kita.
Individualisme dengan demikian berangkat dari anggapan bahwa manusia pada dasarnya adalah individu yang otonom, dengan kehendak dan kepentingannya sendiri. Relasi sosial bukan fondasi eksistensi, melainkan hasil pilihan dan kebutuhan. Masyarakat terbentuk karena individu-individu memutuskan untuk bekerja sama. Ia adalah konstruksi sosial, bukan akibat dari ketidakmungkinan manusia hidup sendiri. Pandangan ini, yang awalnya bersifat teoritis, kini menemukan cerminnya dalam realitas kehidupan modern.
Banyak manusia, seiring bertambahnya usia, justru semakin tercerabut dari relasi sosial yang pernah membentuk dirinya. Ketika seseorang memulai keluarga baru, berpindah kota demi pekerjaan, atau mengejar karier, hubungan dengan keluarga asal, sahabat lama, dan komunitas yang sebelumnya lekat perlahan merenggang. Ikatan yang dahulu intim dan spontan berubah menjadi sangat formal, hanya sesekali, bahkan simbolik di hari-hari besar yang dianggap penting. Manusia belajar berdiri sendiri, bukan karena pilihan filosofis, tetapi karena tuntutan hidup yang memaksanya demikian.
Situasi ekonomi dan politik memperdalam keterasingan ini. Sistem kerja yang kompetitif menuntut mobilitas tinggi, efisiensi, dan produktivitas, sering kali dengan mengorbankan waktu dan energi untuk relasi sosial, terlebih dalam sistem yang eksploitatif. Negara dan pasar melihat manusia terutama sebagai tenaga kerja, konsumen, atau angka statistik, bukan sebagai subjek yang membutuhkan kebersamaan. Dalam kondisi ini, individu dipaksa mengelola hidupnya sendiri dengan mengamankan penghasilan, kesehatan, dan masa depan secara personal. Relasi sosial tidak lagi menjadi jaring pengaman, melainkan sesuatu yang rapuh dan mudah putus ketika kepentingan individu tak lagi terakomodasi.
Dalam konteks inilah teori-teori individualistik, baik dalam bentuk kontrak sosial ala Hobbes dan Locke maupun dalam eksistensialisme modern ala Sartre, tidak lagi sekadar wacana abstrak. Gagasan bahwa manusia adalah individu bebas yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri terasa nyata dalam pengalaman sehari-hari. Manusia tidak hidup dalam komunitas yang menanggungnya, melainkan dalam sistem yang menuntutnya bertahan secara mandiri.
Bahkan keluarga inti pun sering kali berfungsi sebagai unit ekonomi kecil, bukan ruang kebersamaan yang luas.
Akibatnya, pernyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial terasa semakin problematis. Bukan karena manusia kehilangan kebutuhan akan sesama, melainkan karena struktur kehidupan membuat kebutuhan itu sulit dipenuhi. Relasi sosial tidak lagi tumbuh secara organik, melainkan harus dijadwalkan, dinegosiasikan, dan sering kali dikorbankan. Pertemanan diukur oleh kesibukan, hubungan keluarga dipelihara lewat pesan singkat, dan kebersamaan direduksi menjadi momen sempit di sela kelelahan kerja. Manusia tetap hidup di tengah orang lain, tetapi semakin jarang benar-benar bersama secara substansial.
Situasi ini melahirkan bentuk alienasi yang lebih halus namun mendalam. Manusia terpisah bukan hanya dari komunitasnya, tetapi juga dari dirinya sendiri. Identitas perlahan dibentuk oleh tuntutan ekonomi dan peran sosial sebagai pekerja, pasangan, orang tua, atau warga negara. Ruang untuk menjadi individu yang utuh, bebas dari fungsi dan ekspektasi, semakin menyempit. Dalam kacamata eksistensialisme, manusia modern kerap hidup dalam ketidak otentikan, menjalani peran-peran yang tidak sepenuhnya ia pilih, tetapi harus ia terima demi bertahan.
Di titik inilah individualisme memperlihatkan sisi ambivalennya. Di satu sisi, ia memberi bahasa untuk memahami kenyataan bahwa manusia sering kali benar-benar sendirian dalam mengambil keputusan hidupnya. Ia menegaskan tanggung jawab personal, kebebasan memilih, dan keberanian menanggung konsekuensi. Namun di sisi lain, individualisme juga dapat menjadi legitimasi bagi sistem yang menormalisasi keterasingan. Ketika kegagalan dianggap sepenuhnya urusan individu, kondisi sosial yang menindas kerap luput dari kritik.
Pencarian makna di tengah keterasingan ini mengingatkan pada pemikiran Viktor Frankl. Dalam Man’s Search for Meaning, Frankl menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi paling tidak manusiawi, manusia tetap berusaha menemukan makna hidupnya. Namun pencarian makna tersebut tidak berlangsung di ruang hampa. Ketika relasi sosial runtuh dan struktur ekonomi menekan, pencarian makna menjadi perjuangan individual yang berat, sering kali harus dilakukan dalam kesunyian. Frankl tidak menolak individualitas, tetapi menegaskan bahwa makna selalu berkaitan dengan situasi konkret tempat manusia hidup.
Ketegangan antara individualitas manusia dan ketercerabutan sosial ini tidak berhenti pada pengalaman personal. Karl Marx, melalui materialisme historisnya, membaca keterasingan manusia sebagai akibat langsung dari struktur ekonomi dan kepemilikan alat produksi. Dalam kapitalisme, masyarakat terbelah menjadi dua kekuatan besar, yakni kaum kapitalis dan kaum proletar.
Individu tidak bertemu sebagai manusia, melainkan sebagai fungsi, pemilik modal dan penjual tenaga kerja. Alienasi pun semakin dalam, dari hasil kerja, dari proses kerja, dari sesama, dan dari diri sendiri.
Sebagai tanggapan terhadap kondisi tersebut, sosialisme hadir sebagai upaya merumuskan kontrak sosial baru. Bukan untuk meniadakan individu, melainkan untuk mengamankan posisinya. Dengan mengubah struktur kepemilikan dan relasi produksi, sosialisme bertujuan menghapus relasi eksploitatif yang membuat individu rapuh dan terasing.
Kebersamaan di sini tidak dimaksudkan untuk menelan individu, melainkan melindunginya dari kesendirian yang dipaksakan oleh sistem.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah manusia makhluk sosial atau individual tidak dapat dijawab secara sederhana. Realitas menunjukkan ketegangan yang terus-menerus antara keduanya. Manusia membutuhkan sesama, tetapi dunia tempat ia hidup menuntutnya untuk bertahan sendiri. Di antara pemikiran Hobbes, Locke, Sartre, Frankl, dan Marx, manusia modern terus bergerak, mencari kemungkinan agar aku dan kita tidak lagi saling meniadakan, melainkan dapat saling menopang dalam kehidupan yang lebih manusiawi.
Tim Literasi Global








