Nasib Seni Tradisional Barongan di Tengah Perkembangan Jaman
LINGKARMEDIA.COM – Seni tradisional Barongan dari Kabupaten Kendal, Jawa Tengah memiliki cerita dan sejarah yang unik. Seni Barongan sendiri berasal dari Kediri Jawa Timur
Cerita seni Barongan diambil dari kisah klasik Melayu yang berasal dari cerita Panji Jawa Timur pada abad ke-14, yang mengisahkan Putri Cendera Kirana dari Jenggala yang menyamar jadi laki-laki (Panji Semirang) untuk menghindari intrik cemburu dari Galuh Ajeng, berkelana, lalu akhirnya bersatu kembali dengan pangeran (Raden Inu Kertapati). Kisah ini sangat populer di Nusantara, kaya akan nilai moral tentang kebaikan dan keburukan, serta memiliki banyak versi di berbagai daerah, menjadi bagian penting dalam tradisi sastra dan budaya.
Dalam perkembangannya, seni Barongan di Kabupaten Kendal nampak redup kegerus perkembangan zaman. Belum lagi adanya tudingan “Sirik” terhadap ritual yang dilakukan, padahal hal tersebut merupakan budaya asli.
Di tengah hampir memudarnya seni tradisional ini, seorang penggiat budaya muda yang sekaligus pendiri salah satu group seni Barongan bertekad sekuat tenaganya untuk melestarikan seni budaya ini.
Seorang pendiri group Barongan Wahyu Budoyo, Ari Ardianto (35) saat ditemui awak media di kediamannya di Dusun Tempel, Desa Bumiayu Kecamatan Weleri, menceritakan perjalanannya dalam melestarikan seni Barongan.

“Motivasi saya mendirikan group Wahyu Budoyo ini, untuk melestarikan budaya yang “Adi Luhung” yang merupakan peninggalan nenek moyang kita,” ungkapnya, Selasa (9/12/2025).
Secara keseluruhan, cerita Barongan adalah cerminan budaya Jawa yang kaya akan nilai moral, spiritualitas, dan identitas lokal, seringkali berakar dari kisah epik Panji yang diadaptasi secara turun-temurun.
Sebagai penggiat budaya, Ari Ardianto berharap seni tradisional barongan dapat dilestarikan agar tidak hilang.
“Kalau bisa dilestarikan, supaya budaya dari Jawa Tengah ini tidak redup,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ari Ardianto menyayangkan perkembangan seni barongan saat ini. Menurutnya, kurangnya persatuan serta solidaritas antar group seni mempengaruhi lambannya perkembangan seni tradisional tersebut.
Ari menyampaikan, “perkembangan seni barongan saat ini, saya sangat menyayangkan. Terutama terkait solidaritas dari perkumpulan yang kurang, begitu juga sosialisasi ke masyarakat yang lemah akibat minimnya anggaran yang dimiliki”.
Ditambahkannya, minat masyarakat yang menginginkan penampilan barongan lebih baik tak sebanding dengan tarif panggilan (tanggapan) yang begitu minim. “Minat masyarakat saat ini banyak, hanya saja saat kami diundang atau disewa untuk tampil, tarif yang kita dapatkan masih kecil”.
Saat ini seni tradisional barongan di Kabupaten Kendal masih kurang mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten. Hal ini diakui Ari Ardianto kepada awak media, “perhatian dari pemerintah kabupaten sangat kurang sekali, dalam segi anggaran, bantuan dari pemerintah kabupaten masih kurang harusnya ada peningkatan. Walaupun jiwa seni, khususnya kalangan di Kabupaten Kendal itu tidak mengandalkan jiwa seninya saja, tapi juga budayanya”.
“Harusnya, kabudayan Indonesia itu harus diutamakan, diperhatikan, jangan sampai diabaikan. Agar tidak terkikis oleh jaman, harus diuri-uri supaya lestari,” keluhnya.
Jumlah sanggar budaya seni tradisional Barongan sendiri terdapat kurang lebih 100 sanggar, namun tidak semuanya tercatat di dalam Dewan Kebudayaan Kabupaten Kendal.
Penulis : Samsu
Editor : Ramses








