Peringati Festival Tidur Hingga Perayaan Kuliner Pada 3 Januari
LINGKARMEDIA.COM – Tiga Januari jatuh pada hari Sabtu dalam kalender Masehi. Pada tanggal ini, diperingati sejumlah momen penting, baik di Indonesia maupun negara lain.
Di Indonesia sendiri, ada peringatan Hari Amal Bhakti ke-80 Kemenag RI dan Hari Lahir Pagar Nusa. Sedangkan di Amerika ada Hari Festival Tidur.
Tiga Januari diperingati dengan berbagai perayaan unik di tingkat internasional, mulai dari yang berfokus pada kesehatan, kuliner, hingga tradisi hiburan yang tidak biasa. Tiga perayaan ini menunjukkan beragam cara masyarakat dunia memaknai awal tahun, baik melalui refleksi diri, kenikmatan sederhana, maupun aktivitas kreatif yang mengundang tawa.
Meski berbeda tema, ketiganya sama-sama mengajak kita memulai tahun baru dengan kesadaran, kebahagiaan, dan semangat positif.
Hari Berdirinya Kemenag RI
Hari berdirinya Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia disebut juga hari Amal Bhakti. Melansir laman resmi Kemenag, gagasan pembentukan Kementerian Agama bermula dari usulan Mr Muhammad Yamin dalam Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 11 Juli 1945.
Ia menilai perlunya sebuah kementerian khusus yang menangani urusan keagamaan. Pada awalnya, usulan tersebut belum mendapat persetujuan dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Lahirnya Pagar Nusa
Tanggal 3 Januari juga diperingati sebagai Hari Lahir Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa di Indonesia. Tahun ini, Pagar Nusa merayakan hari lahir (harlah) yang ke-40 tahun.
Dikutip dari situs resminya, Pagar Nusa didirikan pada 22 Rabiul Akhir 1406 Hijriah, bertepatan dengan 3 Januari 1986 Masehi di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. Organisasi ini didirikan oleh para kiai dan ulama sebagai wadah untuk mengembangkan dan melestarikan seni bela diri pencak silat yang sarat dengan nilai-nilai tradisi dan budaya bangsa
Berdirinya Pagar Nusa berawal dari kegelisahan para kiai-kiai NU sekaligus aktivis pencak silat yang merasa ilmu bela diri ini sudah mulai surut di pondok pesantren. Padahal pencak silat ini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pondok pesantren.
Pada 27 September 1985, terjadi pertemuan antara para kiai dan aktivis pencak silat di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Dalam pertemuan itu, dibahaslah pembentukan sebuah wadah di bawah naungan NU untuk mengembangkan seni bela diri pencak silat.
Dari pertemuan tersebut, lahir Surat Keputusan Resmi Pembentukan Tim Persiapan Pendirian Perguruan Pencak Silat Milik NU pada 27 Rabiul Awwal 1406 H atau bertepatan dengan 10 Desember 1985 dan berlaku hingga 15 Januari 1986.
Selanjutnya diadakan lagi musyawarah kedua yang diadakan pada 3 Januari 1986 di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dengan menyepakati Pengurus Harian Jawa Timur. Dalam musyawarah itu juga disepakati nama organisasinya, yakni Pencak Silat Nahdlatul Ulama atau disingkat IPS NU, dan berkembang menjadi PSNU.
Akhirnya, pada 6 Juli 1986 diresmikan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa oleh KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PUBNU) dan KH. Achmad Siddiq sebagai Rais ‘Aam saat itu.
Hari Festival Tidur
Selain di Indonesia, di Amerika serikat pada tanggal 3 Januari juga terdapat perayaan menarik yakni Hari Festival Tidur. Melansir National Today, Hari Festival Tidur merupakan perayaan modern yang bertujuan mengingatkan pentingnya tidur cukup, terutama setelah banyak orang kurang istirahat selama libur akhir tahun. Momen ini mengajak kita untuk kembali mengisi energi, merawat diri, dan memulai tahun baru dengan kebiasaan tidur yang lebih sehat.
Sejak zaman Yunani Kuno, tidur sudah menjadi perhatian manusia. Saat itu, orang percaya bahwa tidur terjadi karena aliran darah dalam tubuh melambat, sehingga seseorang menjadi tidak sadar sementara waktu untuk memulihkan keseimbangan tubuhnya.
Pada masa itu, pola tidur manusia juga berbeda dengan sekarang. Tidur biasanya terbagi menjadi dua tahap, yakni tidur pertama dan tidur kedua dalam satu malam, bukan tidur panjang seperti yang umum dilakukan saat ini.
Di sela-sela waktu bangun di antara dua fase tidur tersebut, orang-orang biasanya menghabiskan waktu untuk bersantai atau bersosialisasi. Pola ini berlangsung selama ratusan tahun hingga akhirnya berubah akibat Revolusi Industri dan ditemukannya cahaya buatan.
Jam kerja yang semakin panjang membuat waktu tidur manusia semakin berkurang. Ambisi untuk sukses di dunia industri turut mengorbankan waktu istirahat para pekerja dan pelaku usaha, sebuah kondisi yang masih terjadi hingga sekarang.
Perubahan besar mulai terasa pada tahun 1926, ketika perusahaan Ford memperkenalkan aturan kerja baru, yaitu delapan jam kerja sehari dan 40 jam kerja dalam seminggu. Kebijakan ini memberi kesempatan bagi para pekerja untuk memiliki waktu istirahat yang cukup dan tidur secara teratur.
Hari Kesehatan Pikiran dan Tubuh Internasional
Tanggal 3 Januari diperingati sebagai Hari Kesehatan Pikiran dan Tubuh Internasional, yaitu momen untuk menekankan pentingnya keterkaitan antara kesehatan mental, emosional, spiritual, dan fisik. Intinya, pikiran dan emosi yang sehat akan berdampak langsung pada kondisi tubuh yang sehat. Kesehatan manusia dipandang secara menyeluruh (holistik), mencakup emosi, tujuan hidup, spiritualitas, pengalaman, keyakinan, kebiasaan, hingga tindakan sehari-hari yang semuanya saling memengaruhi keseimbangan pikiran dan tubuh.
Melansir laman National Today, peringatan ini ditempatkan di awal tahun karena dianggap sebagai waktu yang tepat untuk refleksi dan memulai perubahan positif, menciptakan versi diri yang lebih baik seiring datangnya tahun baru. Jaya Jaya Myra, seorang penulis dan pakar kesehatan pikiran-tubuh, yang menjadi contoh nyata pendekatan holistik. Melalui metode yang ia kembangkan, yakni Metode WELL serta pemahaman tentang tujuan hidup dan kesadaran penuh, ia berhasil menyembuhkan dirinya dari fibromyalgia, kecemasan, dan depresi setelah pengobatan medis konvensional tidak berhasil. Pengalamannya itu kemudian dituangkan dalam buku The Soul of Purpose yang membahas hubungan erat antara spiritualitas, tujuan hidup, dan kesehatan secara menyeluruh.
Hari Ceri Berlapis Cokelat
Tanggal 3 Januari diperingati sebagai Hari Ceri Berlapis Cokelat Nasional, sebuah perayaan yang mengangkat perpaduan klasik antara rasa manis ceri dan cokelat. Perayaan ini hadir sebagai penutup suasana liburan dan pembuka tahun baru dengan suguhan sederhana yang membawa keceriaan. Ceri berlapis cokelat telah dinikmati selama berabad-abad dan memiliki sejarah panjang yang berakar dari Eropa hingga Amerika. Ceri sendiri diyakini berasal dari Turki dan termasuk salah satu tanaman budidaya tertua di dunia sehingga keberadaannya telah lama menjadi bagian dari budaya manusia.
Pada abad ke-18, orang Inggris dan Prancis mulai merendam ceri dalam kirsch atau brendi ceri, lalu melapisinya dengan cokelat. Yang awalnya hanya disajikan saat hari libur, tradisi ini kemudian menyebar ke Amerika dan berkembang menjadi minuman keras ceri yang populer. Seiring berjalannya waktu, terutama setelah masa pelarangan alkohol, resepnya mengalami perubahan dengan mengganti alkohol jadi sirup gula. Hingga kini, ceri berlapis cokelat hadir dalam berbagai varian cokelat dan terus dirayakan sebagai camilan istimewa yang patut dinikmati pada tanggal 3 Januari.
Fruitcake Toss Day
Tanggal 3 Januari juga diperingati sebagai Fruitcake Toss Day, sebuah perayaan unik dan penuh humor yang berasal dari Manitou Springs, Colorado, Amerika Serikat. Pada hari ini, orang-orang diajak untuk melempar kue buah, makanan yang sering tidak habis dimakan setelah liburan, ke udara sejauh mungkin, baik dengan tangan maupun alat seperti ketapel, meriam, hingga perangkat mekanik. Tradisi ini lahir dari budaya populer Amerika yang kerap menjadikan kue buah sebagai bahan lelucon karena daya tahannya yang sangat lama dan reputasinya sebagai hadiah yang sering “didaur ulang”.
Laman National Today menjelaskan, perayaan ini dimulai pada tahun 1996 ketika warga lokal Manitou Springs menjadikan kegiatan melempar kue buah sebagai kompetisi seru di taman umum. Seiring waktu, acara ini berkembang menjadi festival tahunan yang menarik ratusan peserta dan penonton, lengkap dengan berbagai kategori lomba yang menguji kekuatan, ketepatan, dan kreativitas. Bahkan, inovasi teknologi seperti peluncur pneumatik dan perangkat robotik turut digunakan, termasuk rekor lemparan sejauh 1.430 kaki pada tahun 2007. Secara keseluruhan, Hari Lempar Kue Buah menjadi simbol cara kreatif dan menyenangkan untuk merayakan sesuatu yang sering dianggap remeh, sekaligus mengubah candaan menjadi tradisi yang meriah.
Ketiga perayaan pada tanggal 3 Januari tersebut, membuktikan bahwa makna sebuah hari dapat hadir dalam berbagai bentuk. Dari upaya menjaga keseimbangan pikiran dan tubuh, menikmati perpaduan rasa ceri dan cokelat, hingga merayakan tradisi lempar kue buah yang penuh keceriaan, semuanya mengingatkan kita bahwa awal tahun adalah waktu yang tepat untuk merawat diri, bersyukur atas hal sederhana, dan menikmati hidup dengan lebih ringan.
Penulis: Tim Literasi Global
Editor: Umi Sudarto








