Jargon “Blooming Gunungsari”, Kontingen Dari Desa Gunungsari Tampilkan Potensi Lokal Dalam Karnaval Gebyar PAUD

IMG_20260815_095512

Kota Batu, Lingkarmedia.com – Kemeriahan Karnaval Gebyar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kota Batu dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung meriah pada Sabtu (15/8/2026). Sekitar 4.000 anak didik dari 98 lembaga pendidikan PAUD turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan yang digelar Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kota Batu ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengenalkan berbagai potensi daerah. Sejumlah kontingen dari lembaga PAUD, TK, hingga RA Aisyiah Bustanul Athfal (ABA) tampil dengan beragam konsep yang mengangkat kekayaan lokal dari masing-masing wilayah.

Baca juga: https://lingkarmedia.com/karnaval-gebyar-paud-kota-batu-kenalkan-budaya-dan-potensi-lokal-sejak-dini/

Salah satu kontingen yang menarik perhatian datang dari Desa Gunungsari. Mengusung jargon “Blooming Gunungsari”, rombongan tersebut merupakan gabungan lima lembaga pendidikan, yakni TK Dahlia 1, 2 dan 3, TK Muslimat Ar-Rohmah, serta RA Muta’alim. Total terdapat sekitar 117 peserta yang mengikuti karnaval.

Kepala TK Dahlia 01, Ririn Listyo Irmala, S.Pd., yang mewakili lima lembaga tersebut mengatakan, konsep yang dibawa dalam Karnaval Gebyar PAUD tahun ini mengangkat tema pertanian dan peternakan modern.

“Konsepnya adalah pertanian dan peternakan modern. Kami mengangkat hasil bumi Desa Gunungsari. Peralatan yang kami bawa ada bunga, sapi dan berbagai properti yang menggambarkan potensi Desa Gunungsari,” ujar Ririn.

Menurut Ririn, persiapan mengikuti karnaval membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Dukungan datang dari Pemerintah Desa Gunungsari, koperasi desa, para wali murid hingga anggota DPRD Kota Batu Fraksi NasDem, Sujono Djonet.

Lihat juga: https://www.instagram.com/ling.karmediacom?igsh=MWphNHRzOTNuM3hraQ==

“Persiapannya memang sangat repot, tetapi kami mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Desa Gunungsari. Ada koperasi desa yang membantu kostum anak-anak dan Bapak Sujono Djonet juga membantu membuatkan properti. Para wali murid juga saling membantu membuat topi, keranjang maupun bunga untuk anak-anak,” tambahnya.

Dalam penampilannya, anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan properti yang dibawa. Ada yang membawa keranjang bunga, replika sapi hingga berada di atas truk yang dihiasi berbagai macam bunga.

“Dari awal anak-anak sudah kami bagi. Ada yang berada di keranjang bunga, ada yang di sapi dan ada yang di truk bunga. Jadi apa yang ada di Desa Gunungsari kami tampilkan semuanya,” katanya.

Ririn mengakui pelaksanaan karnaval di lapangan memiliki sejumlah tantangan. Namun, kekompakan antara guru, wali murid dan anak-anak membuat berbagai kendala dapat dilewati bersama.

“Di lapangan tantangannya lumayan, tetapi karena kami bersatu akhirnya kami bisa melewati semuanya,” imbuhnya.

Lihat juga: https://www.facebook.com/shar

Ia berharap kegiatan Gebyar PAUD tidak sekadar menjadi hiburan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman, keberanian dan semangat baru kepada anak-anak sebelum kembali menjalani aktivitas belajar di sekolah.

“Kami berharap masyarakat, khususnya para orang tua di Kota Batu, selalu peduli terhadap anak-anak. Karena dari PAUD dan TK inilah kita membangun pondasi. Kalau pondasinya kuat, ke depannya mereka akan menjadi anak-anak hebat dan generasi emas yang bisa memajukan Indonesia,” tuturnya.

Ririn juga berharap Pemerintah Kota Batu terus memberikan dukungan terhadap kegiatan yang mampu menumbuhkembangkan kreativitas dan keberanian anak sejak usia dini.

Sementara itu, anggota DPRD Kota Batu Komisi B, Sujono Djonet, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Gebyar PAUD yang kembali digelar setelah sempat vakum selama tujuh tahun.

Lihat juga: https://x.com/LingkarMed

Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai edukasi karena anak-anak sejak usia dini dikenalkan dengan berbagai potensi daerah sekaligus diajak mencintai lingkungan di sekitarnya.

“Setelah tujuh tahun vakum, hari ini kegiatan ini kembali digelar. Tujuannya agar sejak usia dini anak-anak mengenal dan mencintai potensi Kota Batu,” ujar Sujono.

Ia berharap anak-anak Kota Batu nantinya mampu menjadi generasi yang dapat mengembangkan berbagai potensi daerah, mulai dari sektor pertanian, pariwisata hingga kuliner.

“Ini bukan ajang foya-foya atau hura-hura, tetapi menjadi semangat untuk menanamkan kecintaan terhadap lingkungan dan potensi yang dimiliki Kota Batu,” tegasnya.

Lihat juga: https://www.tiktok.com/@lingkarmedia.com?_r=1&_t=Zs-97tfygyn89k

Sujono juga mendorong agar Gebyar PAUD dapat menjadi agenda rutin. Menurutnya, proses pembelajaran anak tidak cukup hanya dilakukan di dalam kelas, terlebih di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan gadget yang semakin masif.

“Dunia anak-anak adalah bermain. Jadi biarkan mereka senang dulu, dengan hati yang senang mereka akan melakukan segala sesuatu yang positif. Kegiatan di luar kelas seperti ini penting, karena anak-anak bisa bersosialisasi dan mengenal teman-temannya dari berbagai wilayah,” katanya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan mulai dari tingkat sekolah, desa, kecamatan hingga tingkat Kota Batu.

“Anak-anak perlu diajak mencintai lingkungan dan potensi yang ada, seperti sayur, bunga, sapi dan kambing. Dari situ akan tercipta harmoni sekaligus kecintaan terhadap daerahnya,” pungkasnya.

 

Penulis : Shereen

Editor: Samsu