IMG_20251026_092336

Mawar Di Hati Tantri

Karya : Ilalang Victoria 

(Hong Kong)

Tantri menggigit bibirnya dengan hati pedih, ia melihat kawan-kawannya dari balik kaca bus yang ia naiki. Sekelebat dia melihat masih ada temannya yang tertawa sambil berfoto bersama melalui ponsel androidnya dan kemudian diupload di facebook. Sepertinya itu merupakan pelampiasan kerinduan untuk keluarga yang ditinggalkannya. disudut lain dia melihat ada yang berdandan karena tak sempat memakai bedak dari rumah majikannya.

Disudut lain dia melihat ada yang menawarkan dagangan beragam barang bahkan menjual jajanan khas Jawa untuk menambah penghasilan sebagai buruh murah di negeri asing. Didekatnya ada yang menikmati jajanan khas tadi, nasi pecel berbungkus selembar daun pisang dan kertas berwarna coklat. Makan dengan nikmatnya beralaskan plastik di pinggir jalan.

Tempat yang bernama Victoria Park memang sangat terkenal di kota Hong Kong ini. Bagi Buruh Migran Indonesia yang sering disebut TKI, bila belum memijak Victoria Park maka belum lengkap bekerja di Hong Kong. Selain tamannya yang luas, disini bisa menemukan suasana khas kampung halaman. Kantor konsulat Indonesia juga berada tak jauh dari taman Victoria Park.

Setiap Minggu, taman itu berubah jadi kampung-kampung di tanah air. Hal ini menunjukan bahwa buruh migran Indonesia yang terkirim ke Hong Kong sebagian besar berasal dari pulau Jawa. Pulau yang menjadi pusat gerak ekonomi di Indonesia, namun mengorbankan ratusan ribu perempuan yang terpaksa memilih keluar dari kampungnya.

Buruh migran yang berdagang sepertinya harus selalu waspada, siap-siap menghindari Pakde atau Petugas Imigrasi yang yang tiada ampun terus menangkapi Buruh Migran dan membuang semua makanan dan peralatannya, bila kedapatan berdagang. Bahkan dendanya tidak main-main dan ancaman hukuman penjara serta masuk dalam daftar hitam atau Black List. Mereka akan dilarang bekerja di Hong Kong seumur hidup.

Sungguh tanpa mereka, biaya liburku untuk makan bisa dua kali lipat. Bagaimana tidak, dengan 25 dolar aku sudah bisa makan nasi campur dengan lauk paling nikmat, yang hanya bisa ku nikmati satu minggu sekali. Bayangkan kalau tidak ada mereka, sekali makan paling tidak aku harus mengeluarkan uang 50 dollar, itu baru satu kali makan. Sekali libur paling tidak dua kali makan. Artinya, 100 dollar hanya untuk makan. Belum tranportnya bisa sampai 50 dollar lebih. Rute tranportasi harus naik kapal lagi kemudian disambung naik bis, ” batinnya memberat menanggung beban.

Upah sehari, habis sehari. Bahkan tombok, lalu apa bedanya dengan jaman perbudakan dulu? Mereka diberi makan dan pakaian seadanya, dan kita diberi upah oleh majikan hanya untuk hidup sehari untuk kemudian tenaga kita dipakai bekerja untuk majikan lagi, pikiran ini terus berputar di kepala Tantri.

Kepala Tantri makin pening membayangkan kesengsaraan-kesengsaraan lebih jauh. Tubuhnya lemas tak mampu dibawa berfikir lagi, matanya dipejamkan merasai getir. Tiba tiba,

“busyet…” Tantri kaget, dia baru sadar busnya bablas sampai hampir ke terminal terakhir.

“Ayak… sifu… sifuu… stop… stop… “ pinta Tantri kepada supir bus yang ditumpangi. Supir busnya sedikit menahan kesal kepada Tantri dan buru-buru membukakan pintu. Tantri turun bergegas tapi sang supir tak memberi kesempatan berlama dan bus secepatnya melaju,

“Ha ji mou mong cha cha aa,“ kata supir bus itu merajuk.

“Muyisi .. muyisi a sifuu… emkosai,“ balas Tantri menghadapi kekesalan supir bus sambil menurunkan barang-barangnya yang seabrek. Tantri berfikir keras bagaimana membawa barang bawaannya yang banyak itu,

“Diamput… kok iso kebablasan wadohh banget, lha terus piye lek ku nggowo barang barang iki,” omelnya pada diri sendiri. Ia mencoba mencari handphone android, yang baru saja dikreditnya minggu lalu.

“Yem, aku kebablasan numpak bis, jemput aku ya di dekat terminal Tin Hau” rekamnya dalam pesan suara whatsaap kepada Supiyem. Lama tak dibalas. Kebiasaan para babu kalau sudah kumpul akan melupakankan hapenya. Lupa segalanya kalau sudah berkumpul dengan temannya setelah satu minggu hanya bisa ber-online membahas segala macam urusan mulai dari dapur hingga urusan politik.

Dengan sabar Tantri menunggu balasan dari temannya Supiyem. Tiba-tiba hatinya nyeri, teringat Wedhus Gibas yang mengibulinya selama 1 tahun. Sepuluh hari yang lalu, perempuan bernama Linda mengaku sebagi istri si Wedhus Gibas itu mendampratnya. Memaki-makinya dengan kasar agar ia tidak lagi menganggu suaminya yang bernama Didik. Ya si Wedhus Gibas sialan itu.

“Dumb, sipret.. sejak kapan aku menjadi penggoda suami orang,” ia mengutuki dirinya yang disebut sebagai pengganggu suami orang. Hatinya kembali bergemuruh. Ditendangnya tas yang berisi buku-buku panduan hukum perburuhan dengan sepatunya yang hampir jebol.

Tidak puas dengan itu, kerikil disamping tas jadi sasaran tendangan berikutnya. Beruntung kerikil tak mengenai siapapun. Belum puas juga, ia melirik kaleng Coca Cola yang tergeletak disamping tempat sampah. Kaleng itu dengan emosi yang menggumpal diinjak injaknya hingga gepeng memarahi profil wajah ganteng si Wedhus Gibas Didik yang dikenalnya di facebook.

Wajah laki-laki sialan itu begitu jelas membayang di kaleng, penyok-penyok. Kegantengannya terlihat rusak dan tak lagi menggetarkan hatinya, ia menjadi muak semuak nya kepada Wedhus Gibas yang telah menipunya. Dinjak injaknya terus kaleng itu hingga gepeng, kemudian ditendang dengan keras tanpa arah dan menimbulkan suara “Prankk” yang lumayan keras.

Tanpa diketahuinya, dua orang berseragam polisi menghampirinya,

“Siu che, le mosi maahh.. ?” tanya salah satu polisi sambil memegang pundak Tantri yang masih dikuasai emosi marah.

“Can show your ID?“ pintanya polisi itu lagi curiga.

Tantri terkaget sambil melongo dan bergegas garuk garuk kepala untuk mengembalikan kesadarannya. Polisi yang satunya mengecek barang-barang yang dibawanya.

Bersambung…….